Maqtal Al Husain: Syahid Agung Karbala [Bagian V]

Karbala, 10 Muharam, petang. Al-Husain menembus barisan musuh. Gerak lincah pedangnya disambut jeritan nyaring tentara-tentara ‘Umar yang sekarat dan kesakitan. Korban tewas dan luka parah berjatuhan memadati arena. Pasukan lawan kalang kabut tak mampu menahan serangan Al-Husain. Syimir segera menghampiri ‘Umar, sang komandan tertinggi.

Hai ‘Umar, orang ini (Al-Husain, maksudnya) dengan mudah akan melenyapkan kita semua,” ujarnya memperingatkan.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?” tanya ‘Umar bingung.

Bagilah pasukan menjadi tiga! Pasukan pertama terdiri dari tentara panah. Pasukan kedua terdiri dari tentara pedang. Sedangkan pasukan ketiga terdiri dari tentara api dan batu. Lalu perintahkan semuanya melakukan penyerbuan serempak ke arahnya!” sahut Syimir sambil menyaksikan dari jauh kepiawaian putra kedua ‘Ali itu melibas musuh-musuhnya.

Dengan cara inilah kematian Al-Husain bisa dipercepat dan jumlah korban di pihak kita bisa dikurangi,” sambungnya.

Usulan Syimir diterima. ‘Umar memanggil mundur pasukannya kemudian membaginya menjadi tiga pasukan.

Tak lama kemudian ratusan tombak, panah, batu, dan api dibidikkan ke arah Al-Husain. Putra ‘Ali ini tak kuasa menghindar. Luka di sekujur tubuh manusia suci itu pun kian bertambah. Al-Husain tetap mengadakan perlawanan sekuat sisa tenaganya. Sebuah anak panah beracun yang ditembakkan Khuli bin Yazid mengenai dada cucunda Nabi termulia itu. Ia terhuyung kehilangan keseimbangan tubuhnya dan tak lama kemudian terjatuh dari kudanya. Lubang di dadanya merekah dan darah menyiram badannya. Al-Husain mencoba menahan pedih luka-lukanya sambil berusaha untuk bangkit. Sayang, sebuah anak panah lagi dari arah samping yang dihujamkan Abu Qudamah al-Amiri menancap di dada kanannya. Al-Husain roboh, urung bangkit. Ia mengerang kesakitan di tengah lingkaran pasukan berkuda ‘Umar bin Sa’d.

Dengan sisa kekuatannya, Al-Husain mencabut panah yang masih menancap di dada kanannya sekuat tenaga seraya menggigit bibirnya yang pucat kemuning. Darah segar menyembur dari luka di dadanya. Tangannya mengusap darah di permukaan jenggotnya seraya berucap parau:

Demikiankah kalian mengucapkan terima kasih kalian kepada kakekku! Dengan tubuh dan wajah yang berdarah inilah aku akan menghadap kakekku, agar beliau tahu betapa kalian sangat membenci kebenaran dan agamanya.”

Usai mengutarakan keluhannya, Al-Husain jatuh pingsan sesaat. Pasukan musuh membiarkan tubuh itu tergeletak begitu saja sambil menanti Al-Husain siuman. Pasukan musuh mulai panik tidak tahu apakah Al-Husain telah gugur ataukah masih hidup. Setelah berjalan beberapa saat, sementara jasad Al-Husain tak juga bergerak, tiba-tiba Zur’ah al-Kindi melompat dari kudanya dan menduduki jasad putra Fathimah yang lunglai itu. Pukulan pertama Zur’ah bin Syarik mengenai bahu kiri Al-Husain. Sasaran kedua adalah leher cucu Nabi itu. Zur’ah merasa perlu melengkapi keganasannya dengan menancapkan ujung pedangnya di wajah tampan jawara bani Hasyim itu. Sebuah pedang mengayun mengenai kepala alhusein – penutup kepalanya terbuka dan mengeluarkan darah. Dalam keadaan terluka alhusein menutup luka kepalanya dengan sorban yang dikenakan rasulullah saww. Dengan suara parau alhusein berkata : “Ya Allah – hanya pada Mu hamba Mu ini mengadu ! lihatlah perlakuan mereka pada cucu nabi Mu” Ia kini tak mampu menjerit. “Semoga Allah meletakkan kau kelak pada tempatmu yang layak, neraka, bersama manusia-manusia durjana lainnya.” Pedang Al-Husain dirampas. Kini pemimpin pemuda-pemuda surga itu duduk di atas tanah tanpa senjata membiarkan darah tetap membasahi tubuhnya di tengah lingkaran pasukan berkuda yang berputar-putar.

Ya Rasulullah – kini cucumu – kekasih dan kesayanganmu kesakitan – jubah & sorban hitam yang kau hadiahkan padanya telah memerah bersimbah darah dan tanah karbala’. Belum cukup – Alhusein tiba-tiba anak panah mengenai jantungnya – dengan lirih alhusein yang tak lagi berdaya berkata : “Ya Allah – tuhanku – Engkau adalah saksi bahwa mereka telah membunuh dan membantai kesayangan nabi Mu Muhammad saw” setelah itu Alhusein rebah – mencium tanah karbala’ – darah suci keluar dari sekujur tubuhnya

Teriakan-teriakan pasukan ‘Umar mengalahkan pekikan dan erangan tangis Zainab dan adik-adiknya yang meronta-ronta sedih di seberang.

Hai, apa yang membuat kalian diam? Cepat selesaikan!” seru ‘Umar dari belakang.

Al-Husain tergeletak selama beberapa menit. Perlawanan telah berakhir. Sekonyong-konyong Syabts bin Ruba’i menyeruak dari barisan dan bergegas menuju Al-Husain yang kehilangan tenaganya. Namun secara tak terduga lelaki yang dikenal beringas itu kembali ke barisannya.

Hai, mengapa Kau kini menjadi penakut? Mengapa Kaubatalkan niat membunuh Al-Husain?” tegur Sinan bin Anas mengejek.

Hai keparat, tahukah Kau, ketika ia tiba-tiba membuka matanya dan seketika kulihat wajah Muhammad kakeknya,” bantah Syabts mengutarakan alasannya.

Kau memang penakut!” sambar Sinan sambil memisahkan diri dari barisannya menuju jasad Al-Husain.

Ketika hendak mengayunkan pedangnya ke arah leher Al-Husain, Sinan tiba-tiba melepaskan pedangnya dan lari meninggalkan tubuh tak berdaya itu sendirian. “Hai Kau, mengapa Kau lari terbirit-birit seperti burung unta dikejar harimau?” Sergah Syimir mengejek.

Sungguh wajahnya adalah wajah Muhammad,” Jawab Sinan sambil menundukkan wajahnya.

Dasar keturunan pengecut!” kecam Syimir.

Syimir menghampiri tubuh yang tergeletak itu. Manusia berwajah sangat buruk itu kini sedang duduk di atas dada Al-Husain.

Hai, jangan samakan aku dengan dua orang yang tadi mendatangimu!” ejeknya sementara tangan kirinya mempermainkan jenggot adik Al-Hasan al-Mujtaba itu.

Siapa Kau? Apa yang membuatmu begitu biadab?” tanya Al-Husain dengan suara terputus.

Syimir Dzil-Jausan,” jawabnya singkat sambil menghunuskan pedangnya.

Tahukah Kau siapa orang yang sedang kau duduki? Siapakah aku?” tanya Al-Husain.

Ya, aku tahu Kau adalah Al-Husain putra ‘Ali dan Fathimah binti Muhammad, binti Khadijah,” jawabnya datar.

Lalu, mengapa Kau masih berniat membunuhku?” protes Al-Husain yang mulai merasakan sesak di dadanya.

Aku mengharapkan imbalan dari Yazid,” sahutnya sambil meringis.

Tidakkah Kau mengharapkan syafaat dari kakekku Rasulullah?” tanya Al-Husain kemudian.

Hai, sedikit dari imbalan Yazid lebih aku sukai ketimbang ayah, kakek dan nenek moyangmu,” bantah Syimir sombong disusul tawa keras.

Kalau Memang Kau harus membunuhku, maka berilah sedikit air minum lebih dulu!” pinta Al-Husain.

Oh, itu mustahil. Sekali lagi, permintaanmu mustahil kami penuhi! Kau akan mati dicekik haus sesaat demi sesaat! Sedikit air akan memperpanjang pertempuran. Bersabarlah sedikit! Tak lama lagi Kau akan diberi minum air telaga oleh kakekmu! Bukankah Begitu?” ujarnya menghina disusul tawa keras.

Mendadak Syimir terdiam dan setelah itu Al-Husain berkata: “Bukalah kain penutup wajahmu!

Syimr memperlihatkan wajahnya lalu menutupnya kembali.

Benar ucapan kakekku,” ujar Al-Husain.

Hai, apa ucapan kakekmu itu?” tanyanya penasaran.

Kakekku pernah memberi tahu aku bahwa pembunuhku adalah lelaki berwajah menakutkan. Tubuhnya penuh bulu kasar hingga tampak tidak lebih memikat daripada babi hutan,” timpal Al-Husain seraya memalingkan wajahnya.

“Bedebah! Terkutuklah Kau dan kakekmu yang menyamakan aku dengan babi dan anjing. Akan kusembelih Kau perlahan-lahan sebagai balasan atas ucapan kakekmu itu!” sungut Syimr dengan nada benci.

Drama Karbala memasuki adegan paling menyayat hati. Syimr mulai melepas setiap anggota badan Al-Husain perlahan-lahan. Al-Husain hanya menjerit parau: ”Wa Muhamadah! Wa Aliyah! Wa Hasanah! Wa Ja’farah! Wa Hamzatah! Wa Aqilah! Wa Abbasah! Wa Qatilah! Setiap kali pedih luka dirasakannya.

Ketika tak satu pun anggota badan Al-Husain yang lolos dari sayatan pedang, Syimr memindahkan pedangnya yang amat tajam dan panjang itu ke leher Al-Husain. Syimr hendak menyembelih leher Imam dari depan namun gagal, karena leher itu dulu sering diciumi rasulullaaaaaaaaaah! Syimr memindahkan pedangnya ke leher belakang Imam husain. Kepala cucunda kesayangan Nabi itu kini digerakkan perlahan-lahan ke kanan dan ke kiri oleh manusia terlaknat itu.

Ya rasulullah – cucumu dipenggal kepalanya – cucumu tubuhnya dicincang dan diseret dengan kuda.

Gema tangis dan raungan wanita-wanita keluarga Abdul Qasim yang membumbung ke angkasa mengawali adegan pemisahan leher Al-Husain dari tubuhnya. Tubuh penuh luka itu menggelepar-gelepar tatkala pedang itu membuka dan membuka dengan tenang permukaan kulit leher Al-Husain.

Mereka merebut pakaian Al-Husain ,panah dan busur Al-Husain, melucuti pakaian Al-Husain yang telah tergeletak, melepas sorban yang melilit kepalanya, mengambil paksa sepasang sepatunya. Jadal “terpaksa” memotong jari Al-Husain karena kesulitan melepas cincinnya.

Hai, siapakah yang berani menginjak-injak tubuh Al-Husain dengan kaki kudanya?” teriak Ibnu Sa’d mengumumkan sayembara.

Kami,” sahut sepuluh penunggang kuda, termasuk Ishaq bin Hauyah al-Hadhrami dan Akhnas bin Mirtsad al-Hadhrami. Pesta Iblis pun dipersembahkan demi menyempurnakan kejahatan Yazid dan anak buahnya. Tubuh pemimpin para pemuda surga itu terkoyak-koyak, terlempar dan terbanting di antara ratusan kaki kuda.Sekelompok Manusia berjiwa iblis mulai menendang2 kepala alhusain kesana kemari. Mereka menyentuh KEPALA SUCI YANG SERING DICIUM RASUL ITU DENGAN KAKI MEREKA! Bahkan Mereka menendangnya! Mereka bermain2 dengan Kepala Kekasih ALLAH! Sementara ‘Umar dan pasukannya terus menenggak khamar merayakan kemenangan.

Di seberang, takbir bergabung dan jerit tangis wanita bergema tatkala melihat kuda jantan berwarna putih itu datang ke arah kemah tanpa penunggang.

Zainab dan para wanita Ahlulbait berhamburan memeluk kuda penuh luka itu seraya berteriak parau: “Wa Husainah! Wa Husainah! Wa Husainah!

Karbala, 10 Muharam, petang, Pedang Syimr telah berlumuran darah suci Nabi saw. Kepala suci Pemimpin para syuhada telah terpisah dari tubuhnya. Serombongan malaikat turun ke bumi untuk menjemput Ruh Suci Al-Husain, kemudian terbang dengan seulas senyum. Ruh itu kini telah bergabung bersama para kekasihnya: Sang Nabi, Ali, Fatimah dan Hasan. Terdengarlah suara menggelegar Jibril: “Wahai Jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.

Merpati-merpati di emperan masjid Madinah dan halaman Ka’bah serentak terbang. Tanah dalam botol di bilik Ummu Salamah seketika mencair merah. Langit bergemuruh dan awan gulita bergulung di angkasa. Kejahatan terbesar sepanjang sejarah dunia telah terjadi.

Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s