SUAMI ISTRI NASRANI DI KARBALA

Ketika melewati dusun Tsa’labiyah, Al-Husain melihat sebuah kemah kecil dari kejauhan.

Al-Husain memacu kudanya menuju kemah itu. Terlihat wanita tua yang sedang duduk di dalamnya.

Ibu tinggal sendirian dalam kemah ini?” tanya Al-Husain yang tak mengenalnya.

Aku sedang menantikan putraku, Wahab. Kami hidup di kemah dan berpindah-pindah tempat,” sahutnya.

Kemah ini milik anakku. Ia pemuda yang gagah berani dan baru saja menikah. Ia sedang pergi ke tengah gurun bersama istrinya, Haniyah. Tak lama lagi mereka akan kembali,” lanjutnya.

Adakah yang bisa saya bantu?” tanya Al-Husain lembut.

Aku haus. Persediaan air kami sudah habis,” jawabnya

Sejenak Al-Husain memerhatikan tempat itu lalu menyingkirkan batu-batuan yang ada di sekitar itu. Sebuah mata air yang jernih di depannya muncul di hadapannya. Al-Husain mengambil air itu dengan sebuah wadah lalu menyerahkannya kepada ibu Wahab yang masih tertegun melihat keajaiban singkat itu

Siapakah kau dan apa yang kau lakukan di gurun ini?

Aku Husain, cucu Nabi dan anak dari putri utusan Allah. Aku sedang menuju Karbala,” jawab Al-Husain.

Sampaikan salamku kepada anakmu dan katakan kepadanya bahwa putra utusan Allah yang terakhir memintanya untuk ikut menolongku.”

Kafilah Imam Husain as bergerak meninggalkan tempat itu. Ada perasaan yang aneh di hati ibu Wahab. Pandangan Husein bin Ali dan kemurahan hatinya tak bisa lepas dari pikirannya.

Saat Wahab datang, wanita tua itu menceritakan kedatangan Imam Husain dan meneruskan pesannya juga peristiwa ajaib sumber air.

Putraku, bila kau mau menyertainya, bawa aku bersamamu,” kata sang ibu.

Ibu, siapakah yang bersamanya?” tanyanya dengan heran.

Ia bersama rombongan kecil termasuk anak-anak dan perempuan,” jawabnya.

Pemuda itu langsung teringat akan pasukan besar pimpinan Umar bin Saad yang ia lihat di Nukhailah beberapa hari lalu. Ia mendengar bahwa ribuan orang itu sedang bergerak untuk menghadang Husain.

Wahab melihat sumber air yang dengan karamah Imam Husein muncul di dekat kemahnya.

Kepada istrinya, Wahab menjelaskan apa yang ia putuskan. Mendengar itu, Haniyah tertegun dan berkata, “Bawa aku bersamamu. Aku tak bisa hidup tanpamu.”

Wahab tak kuasa menolak keinginan ibu dan istrinya utk bersamanya menyertai kafilah Al-Husain

Malam hari, ke-3 orang itu bergerak menuju Karbala. Setelah melewati jalan sulit, mereka berhasil berhasil menyusul rombongan keluarga Nabi.

Al-Husain menyambut dan merangkul pemuda gagah dari kabilah Kristen Bani Kalb itu.

Pada 10 Muharam Wahab mendatangi wanita yang baru dinikahinya. “Aku akan menantimu untuk berbulan madu di sorga,” ucapnya seraya mengecup kepalanya. Keduanya berlomba menguras air mata.

Wahab mendatangi kemah ibunya untuk mengucapkan salam perpisahan. Sang ibu berkata :

Anakku! Kau tentunya tahu hak besar ibu atas anaknya. Ibulah yang telah mengalami kesulitan besar saat membesarkan anaknya. Masa mudaku telah kulewatkan untuk mengasuh dan membesarkanmu“.

Air mata menetes dan isakan tangis mengikuti kata-katanya. Haniyah berpikir, ibu Wahab hendak mencegah anaknya bertempur dan mati di medan laga.

Sang ibu melanjutkan, “Untuk membalas semua derita yang kualami dalam mengasuhmu aku hanya punya satu permintaan. Aku mohon maju ke medan tempur dan mengorbankan dirimu untuk Al-Husain.”

Wahab bangga mendengar kata-kata itu. “Ibu, inilah yang aku inginkan. Aku akan segera pergi ke medan perang untuk mempersembahkan jiwa dan ragaku,” ujarnya.

Haniyah yang sebelumnya hanya menyaksikan percakapan itu ikut menyela. “Aku juga punya satu permintaan,” katanya.

Haniyah melanjutkan, “Bawa aku menghadap junjunganmu. Aku minta kau berjanji kepadaku di depan beliau.

Ketiganya lalu mendatangi Al-Husain. Kepada sang Imam, Haniyah berkata : “Suamiku berniat terjun ke medan laga. Aku minta ia berjanji di depanmu untuk tidak meninggalkanku di hari kiamat kelak.”

Di depan Al-Husain , Wahab mengucapkan janji seperti yang diminta istrinya.

Setelah mendapat izin dari Imam Husein as, pemuda itupun pergi ke tengah medan bertempur dengan berani. Semakin banyak prajurit lawan yang mengepungnya. Kepunganpun kian ketat. Wahab roboh dengan satu tangan yang terpisah dari tubuhnya.

Melihat itu Haniyah segera berlari ke arah suaminya dengan berbekal kayu penyangga kemah.

Setiba di sana, Wahab sudah kehilangan kaki. Haniyah duduk bersimpuh di sisi suaminya. Tangannya membelai dan membersihkan wajah Wahab dari darah yang membasahinya.

Suamiku, selamat atasmu karena surga yang telah kau raih. Kau korbankan nyawamu membela orang-orang suci. Ku mohon kepada Allah untuk membawaku bersamamu,” kata Haniyah.

Tiba-tiba seorang dari pasukan Syimr datang mengayunkan pedang ke arah tubuh perempuan itu. Haniyah memekik, dan ia pun gugur syahid bersama suaminya.

Pasukan Umar menggorok kepala Wahab dan melemparkannya ke perkemahan Al-Husain.

Ibu Wahab mengambil kepala putranya itu lalu mencium keningnya. Semua mata menyaksikan pemandangan itu.

Sekonyong-konyong wanita tua itu bangkit membawa kepala anaknya lalu melemparkannya ke tengah medan sambil berseru : “Kami tak pernah mengambil lagi apa yang sudah kami berikan kepada Tuhan.

Ia lalu bergerak ke medan dan berteriak, “Meski wanita tua dan lemah tapi aku siap membela putra Fatimah!

Al-Husain memohonnya untuk kembali ke kemah seraya menghiburnya, “Semoga Allah membalas budi baikmu dengan pahala yang besar atas pembelaanmu untuk Ahlul Bait Nabi.”

Sumber: Dr. Muhsin Labib, MA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s