Maqtal Al Husain: Syahid Agung Karbala [Bagian IV]

Al-Abbas Meraih Syahadah

Suhu panas yang sangat tinggi telah menambah rasa dahaga adik-adik Zainab dan kemenakan-kemenakannya sejak sungai Efrat dikuasai oleh pasukan ‘Umar bin Sa’d.

Abbas, galilah tanah untuk mencari air!” perintah Al-Husain dengan nafas terengah-engah.

Al-Abbas segera melaksanakan perintah tersebut. Berapa tempat telah digali namun tak satu pun yang memberikan sedikit harapan. Al-Husain tak mampu menutupi rasa sedihnya melihat kerumunan wanita yang meronta-ronta karena rasa lapar dan haus yang berkepanjangan.

Abbas, pergilah ke sungai Efrat, dan berilah adik-adikmu itu sedikit air untuk diminum!” perintah Al-Husain sesaat kemudian. Tanpa mengulur-ulur waktu, saudara seayah Al-Husain itu memacu kudanya menuju sungai Efrat. Al- Abbas dicegat oleh segerombolan pasukan ‘Umar bin Sa’d.

Apa maksud kedatanganmu?” tanya salah seorang dari mereka dengan nada sinis.

Aku datang untuk mengambil sedikit air untuk diminum oleh para wanita yang sangat kehausan,” jawab Al-Abbas dari atas punggung kudanya.

Oh, itu tidak akan kami izinkan,” tukas pemimpin mereka sambil menghunuskan pedangnya. Tiba-tiba mereka menyerbu. Al-Abbas menyongsong serbuan itu dengan pedangnya.

Pertempuran seru pun meletus. Al-Abbas berhasil mengurangi jumlah mereka dan mendekati bibir sungai Efrat. Al-Abbas meningkatkan perlawanannya dan mengusir gerombolan itu sesaat. Ia segara turun dari kudanya dan merapat ke permukaan sungai. Usai mengisi qirbah, Al-Abbas berniat menciduk air yang mengalir di hadapan matanya itu dengan kedua tangannya. Tiba-tiba bayangan penderitaan Ahlulbait dan Al-Husain tergambar di benaknya. Al-Abbas buru-buru mengibaskan kedua tangannya dan bergegas naik ke kudanya kembali.

Ketika hendak kembali, sebuah barikade pasukan telah siap menghadangnya. Al-Abbas mengikat qirbah-nya lebih kencang, lalu mencabut pedangnya ke atas .

Al-Abbas menepis setiap panah yang diarahkan ke tubuhnya. Satu demi satu tentara bayaran Ibnu Ziyad terpelanting mengumpat perih luka. Sekonyong-konyong dari arah belakang seorang binatang bernama Abrash bin Syiban mengayunkan pedangnya ke lengan kanan putra ‘Ali bin Abi Thalib itu. Tangan kanan itu terpental meninggalkan tubuh Al-Abbas. Darah segar memancar di sekujur tubuhnya yang mirip seekor landak dari kejauhan itu. Al-Abbas mengadakan perlawanan dengan tangan kirinya sambil bersyair membuktikan kebulatannya untuk membela Al-Husain.

Demi Tuhan, meski mereka ambil tangan kananku

Akan kubela Al-Husain dengan tangan kiriku

Apa arti sepotong tangan untuk agama kakekku

Akan kuhadiahkan nyawa dan semangat keberanianku

Al-Abbas terus bertempur di tengah derasnya anak-anak panah. Tak satu pun tarian pedang Al-Abbas yang sia-sia. Kuda-kuda berlarian melemparkan setiap penunggangnya. Tiba-tiba dari arah belakang sebuah ayunan kencang menepis tangan kiri Al-Abbas. Ia mengerang. Pria berwajah tampan itu kini kehilangan kegesitannya. Al-Abbas tetap berada di atas punggung kudanya dengan kedua tangan terputus dan bertekad untuk menerjang barisan musuh demi menyerahkan qirbah yang melingkari dada dan punggungnya kepada Al-Husain dan keluarganya.

Hai, keparat kalian! Hentikan geraknya dengan panah-panah dan tombak kalian!” teriak pemimpin mereka.

Al-Abbas berusaha menepis hujan panah dengan pedangnya. Tiba-tiba dari arah belakang ‘Abdullah bin Yazid asy-Syibani mengayunkan pedangnya secepat kilat dan menebas pundak Al-Abbas. Pedangnya terpelanting dan jubah putihnya kini telah berubah menjadi merah. Dengan sisa kekuatannya, Al-Abbas berusaha menerobos kepungan lawan. Bangkai-bangkai lawan yang berserakan telah mengganggu gerak kudanya. Dalam suasana panik itulah sekonyong-konyong benda tumpul membentur wajah Al-Abbas. Seketika kepalanya merekah dan menyemburkan darah. Ia terhuyung dan jatuh di antara kaki-kaki kuda. Kalung qirbah itu kini telah putus dan hasrat putra ‘Ali itu telah kandas di tengah belantara kemunafikan yang ganas. Al-Abbas mengerang dalam keputusasaan. Ia mencengkeram pasir panas sambil merasakan sakit yang menyiksa. Ia merasa hidupnya surut dengan cepat, namun harapannya untuk melihat tuannya belum terwujud. Dengan satu usaha terakhir, dengan segenap tenaga yang tersisa padanya, ia berteriak:

Wahai Tuanku, datanglah padaku sebelum ajal menjemputku.

Doanya seperti terjawab ketika ia merasakan adanya langkah-langkah kaki di dekatnya, instingnya mengatakan bahwa itu adalah tuannya. Satu matanya telah buta karena tertancap anak panah, dan satunya lagi dibanjiri darah sehingga ia tidak dapat melihat. Tapi ia dapat merasakan tuannya berlutut di sampingnya, mengangkat dan memangku kepalanya. Hanya keheningan yang ada selama beberapa saat karena mereka berdua tercekik emosi. Akhirnya ia mendengar suara Al Husain, setengah tersedu, setengah terisak:

Abbas, Saudaraku, apa yang telah mereka lakukan kepadamu?

Jikapun Abbas dapat melihat, akankah ia masih bisa mengenali tuannya? Dengan punggung bungkuk serta janggut yang memutih dan beruban, mendengar tangis perpisahan saudaranya tercinta, penderitaan Al Husain begitu hebatnya sampai-sampai tak seorang pun dapat mengenalinya—sampai sebegitu jauh perubahannya. Kini Abbas merasakan sentuhan kasih tangan tuannya. Dengan susah payah ia berucap:

Akhirnya engkau datang, Tuanku. Tadinya kupikir aku tak ditakdirkan untuk bisa mengucapkan salam perpisahan untuk terakhir kalinya kepadamu. Namun, alhamdulillah, engkau di sini sekarang.”

Setelah berucap demikian ia merebahkan kepalanya di atas pasir. Dengan lembut Al Husain mengangkat kepala Abbas dan kembali menaruhnya di pangkuan. Al Husain bertanya mengapa Abbas menarik kepalanya dari pangkuannya.

Tuanku“, jawab Abbas, “aku membayangkan saat ajal menjemputmu, tak akan ada seorang pun yang memangku kepalamu dan menghiburmu. Ini membuatku merasa bahwa akan lebih baik jika kepalaku rebah di atas pasir saat ajalku tiba, sama seperti keadaanmu saat ajalmu tiba. Lagipula, aku adalah hambamu dan engkau adalah tuanku. Tidak pantas bagiku merebahkan kepala di pangkuanmu.

Air mata Al Husain mengalir deras. Memandang saudaranya—yang namanya menjadi simbol bagi penghambaan dan keteguhan iman—meregang nyawa dalam pelukannya, benar-benar mengoyak-ngoyak hatinya.

Abbas terdengar berbisik lemah:

Tuanku, aku ingin menyampaikan keinginan-keinginan terakhirku. Saat aku dilahirkan, wajahmulah yang pertama kupandang. Dan aku ingin, ketika aku mati, wajahmu jua yang kupandang. Namun satu mataku tertusuk anak panah, dan yang satunya lagi dibanjiri darah. Kumohon bersihkanlah darah dari mataku ini, sehingga aku dapat memandangmu dan memenuhi keinginan terakhirku. Yang kedua, aku ingin setelah aku mati, engkau tidak mebawa tubuhku ke tenda. Aku telah bejanji untuk membawakan air kepada Sakinah. Namun karena aku gagal membawakannya air, aku malu menemuinya sekalipun aku telah mati. Lagipula, aku tahu telah banyak serangan yang engkau terima sejak pagi tadi, walaupun tak ada yang bisa melumpuhkanmu. Membawa tubuhku ke tenda hanya akan memilukan hatimu. Dan keinginanku yang ketiga, janganlah engkau bawa Sakinah ke sini dan membiarkannya melihat keadaanku. Aku memahami cinta dan kasih sayangnya padaku. Ia akan mati jika sampai melihat jasadku terbaring di sini.

Dengan terisak-isak Al Husain berjanji akan memenuhi keinginan-keinginan terakhirnya. Kemudian Al Husain menambahkan:

“Wahai Abbas, aku juga punya satu keinginan. Sejak kanak-kanak engkau selalu memanggilku tuan. Setidaknya untuk sekali ini, pangillah aku kakak dengan napas terakhirmu.

Al Husain telah membersihkan darah dari mata Abbas, kedua saudara itu saling pandang dengan pandangan lekat penuh kerinduan. Abbas terdengar berbisik:

Kakakku, Kakakku!

Setelah berkata demikian, ia menyerahkan jiwanya kepada Sang Pencipta. Al Husain tersungkur tak sadarkan diri di atas jasad Abbas dengan jeritan:

Oh Abbas, siapa yang tersisa untuk menjagaku dan Sakinah setelah kepergianmu?”

Air Sungai Furat pun berubah menjadi kelam seperti musim dingin dan mengeluarkan desiran aneh seakan sungai itu protes atas pembunuhan sang pembawa air yang kehausan di tepinya.

Sepeninggal Abbas, Husain berkata, “Kini tulang punggungku patah sudah. Kini saatnya aku menghadap Tuhanku…

Debu-debu beterbangan. Bau anyir darah menyebar, sementara jeritan histeris terus membahana. Pentas Karbala kian membara. Al-Husain menoleh ke kanan dan ke kiri. Jumlah pasukannya kini hanya terdiri dari beberapa penunggang kuda, termasuk kemenakan-kemenakan dan putra-putranya. Ada sebongkah duka menyumbat rongga nafasnya. Angin kesepian meranggas menari-narikan ujung kain sorbannya. Irama syahadah terngiang-ngiang di sudut sanubari Al-Husain dan pasukannya

Puncak Kebiadaban

Adegan demi adegan ketegangan nyaris mencapai puncaknya. Angin semilir berhembus mengibar-ngibarkan ujung jubah lusuh Al-Husain.

Sepi di sini, hiruk-pikuk pesta penyamun di seberang sana.

Tak lama kemudian Al-Husain menoleh ke arah putra bungsunya yang terbaring di pangkuan Ummu Kultsum.

Jagalah dengan baik anakku yang paling kecil ini, karena usianya baru enam bulan!” pesan Al-Husain kepada adik Zainab itu.

Abangku, tiga hari telah dilalui anak bungsumu ini tanpa setetes air pun membasahi tenggorokannya,” ujar Ummu Kultsum sambil mengelus-elusnya dengan lembut.

Al-Husain menggendong anak kecil itu lalu membawanya ke hadapan pasukan musuh sambil berteriak:

“Hai orang-orang! Kalian telah membunuh saudaraku, anak-anakku, kemenakanku dan para pengikutku. Kini semuanya telah tiada kecuali anak kecil ini yang tersisa. Berilah anak ini sedikit minum agar…

Ucapan Al-Husain yang belum selesai itu dipotong oleh anak panah yang melesat dengan cepat dan menembus kepala mungil itu. Al-Husain tersentak, sementara darah segar membasahi bibir bayi yang sejak tiga hari lalu kering mengering. Bayi itu menggelepar-gelepar di tangan ayahnya yang sejenak tertegun menyaksikan peristiwa itu. Al-Husain mengangkat tangannya ke atas dan menengadahkan wajahnya seraya berdoa: “Ya Allah, saksikanlah bahwa mereka bertekad untuk membumihanguskan dan melenyapkan seluruh cucu Nabi-Mu.” Ia membopong bayi yang kini memerah itu menuju kemah Zainab.

Ummu Kultsum berlari menubruk Al-Husain dan mendekap bayi yang tak bernyawa itu dengan meronta-ronta pilu.

Desir sahara bertalu-talu mengelus pucuk-pucuk tenda melantunkan simfoni duka nestapa. Semua persediaan air untuk minum dan menangis, sejak lama telah habis! Al-Husain kini berada di puncak kekecewaannya.

Kemarilah Zainab, Ummu Kultsum, Sukainah, Ruqayah, Atikah, Shafiyyah dan istri-istriku! Salam dariku, abangmu, pamanmu dan suamimu untuk kalian semua! Inilah pertemuan terakhir kita. Inilah detik-detik terakhir dari masa kebersamaan kita. Sedangkan pesta tangis dan duka akan segera dimulai. Bersiap-siaplah untuk memasukinya!” seru cucunda Rasul itu sembari menyeka mata dan hidungnya yang merona dan basah,

Seketika Sukainah menjerit dan meronta-ronta dalam tangisan panjang. Al-Husain menghampirinya lalu merangkul dan mengecup matanya yang sembab sambil bertutur dalam puisi sendu:

Adikku, seruling duka akan ditiup

Semerbak surga abadi akan kuhirup

Genderang perang segera ditabuh

Perahu cinta akan segera berlabuh

Pesta kepala putra Ahmad dimulai

Surga hanya dengan syahadah dicapai

Jalan terjal dan jauh di depanmu

Jangan sesali diri atau membisu

Jangan menangis sebelum aku mati

Andai aku mati kau selalu di hati

Al-Husain memacu kudanya menuju medan tanding seraya berteriak: “Apa yang membuat kalian bersemangat memerangiku? Adakah sebuah kewajiban yang aku tinggalkan? Atau Sunnah Nabi yang aku ubah?

Tidak! Karena dendam dan kebencian di hati kami padamu dan seluruh keluargamu sejak Badr dan Hunain!’ balas mereka lantang.

Al-Husain membiarkan air hangat mengaliri jenggotnya ketika mendengar jawaban mereka. Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Tak seorang pun di sekitarnya.

Ke manakah semua yang membantu kami! Siapa yang akan melindungi wanita-wanita Muhammad dari niat jahat mereka! Mana Muslim bin Aqil, Hanibin Urwah, Zuhair, Habib, Al-Hurr dan rekan-rekannya? Mana bukti cinta kalian? Kini kami datang untuk menyusul kepergian kalian semua! Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Ia menerjang dan mengobrak-abrik pasukan musuh dengan gigih hingga berhasil membersihkan seribu lima ratus kuda dari penunggang-penunggangnya. Al-Husain melesat menghunjam barisan lawan. Putra Fathimah itu memetik setiap kepala yang muncul di sekitarnya. Pasukan musuh bubar

Detik-detik perpisahan terasa menyesakkan dada Zainab dan adik-adiknya. Tak lama lagi pelindung mereka akan pergi meninggalkan mereka. Episode terdahsyat akan segera ditayangkan oleh sejarah, disaksikan bumi dan manusia-manusia bisu, tuli dan berhati batu!

Deru angin terdengar kencang menggoyang atap tenda putri-putri Rasul. Sementara itu Al-Husain kelihatan sibuk mengencangkan ikatan kuda dan busananya. Para wanita hanya meronta-ronta bak kesurupan menyaksikan Al-Husain dari jauh. Zainab agak kewalahan menahan adik-adiknya yang berusaha mengejar Al-Husain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s