Maqtal Al Husain: Syahid Agung Karbala [Bagian III]

Al-Hurr dan putranya Membelot

Dua penunggang kuda itu tiba-tiba menyeruak dari barisan tentara Ibnu Ziyad. Pasukan Umar bin Sa’d mengira kedua orang itu akan menantang atau menyerbu barisan Al-Husain. Al-Hurr yang bertutup muka dan putranya berhenti tepat di hadapan Al-Husain dan pasukannya.

Hai orang tua, angkat kepalamu dan singkaplah penutup mukamu itu! Siapakah Kau? Apa tujuan kedatanganmu?” tanya Al-Husain mantap.

Akulah orang yang telah memaksamu menuju Kufah. Tuanku, aku datang bersama putraku untuk bergabung dengan pasukanmu sebagai ganti dari tindakanku! Sudikah Anda menerima permintaan maafku?” kata Al-Hurr dengan nada bergetar.

Allah menerima, jika Kau benar-benar bertobat,” jawab Al-Husain.

Al-Hurr menepuk pundak putranya dan berkata: “Majulah putraku dan hadapi manusia-manusia Zalim itu!

Pemuda berbadan tegap itu melesat bak anak panah mengobrak-abrik barisan lawan dengan ayunan pedangnya hingga berjaya menyumbangkan tujuh puluh kepala tentara Ibnu Ziyad. Ia menghembuskan nafasnya setelah dicabik-cabik oleh puluhan pedang yang mengepungnya. Al-Hurr menyambut kematian putranya dengan senyum kegembiraan berbaur tangis keharuan.

Puji atas Allah Yang telah menganugerahkanmu syahadah, putraku,” gumamnya sambil menyeka air mata.

Al-Hurr menghampiri Al-Husain. “Tuanku, izinkanlah hamba maju!” pinta bekas perwira tinggi pasukan Umar bin Sa’d itu kemudian.

Majulah!” jawab Al-Husain sembari merangkulnya penuh haru.

Putra-putri Ali menggigit bibir menahan luapan keharuan menyaksikan adegan itu.

Al-Hurr menarik kendali kudanya dan secepat meteor meninggalkan Al-Husain. Ia kini berada di hadapan barisan tentara yang beberapa saat lalu adalah anak buahnya itu.

Al-Hurr menerjang barisan lawan dan mengecat persada Karbala dengan darah seratus serdadu Ibnu Ziyad yang menghadangnya. Ia segera mundur dan bergabung dengan barisannya sejenak untuk meredakan nafas dan melucuti lelahnya seraya berteriak:

Hai orang-orang Kufah, contoh kebusukan dan lambang pengkhianatan, bangkai-bangkai berbusana yang meringis dan menari-nari bak kera di atas kehinaan, pemerkosa fitrah, mengapa kalian begitu tega mengundang Al-Husain lalu mengepung dan membantainya? Di pasar mana kalian menjual hati nurani! Dengan bahasa apa aku harus menyadarkan kalian? Manusia jenis apakah kalian sebenarnya, yang kuasa hati untuk mengeringkan rongga leher putra-putri Muhammad dari air Efrat yang menggeliat sedangkan kalian membiarkan orang-orang Nasrani dan Yahudi, bahkan babi dan anjing menjilat-jilat permukaannya. Semoga Allah membiarkan kalian dicekik dahaga kelak!

Detik-detik selanjutnya terjadilah pertempuran sengit. Bagai singa lapar, Al-Hurr menerkam dan mencabut pedangnya ke kanan dan kiri hingga lenyaplah nyawa lebih dari delapan puluh tentara Ibnu Ziyad.

Umar, yang sangat dirugikan oleh kepiawaian Al-Hurr, tiba-tiba berteriak dan memerintahkan agar pasukannya menyerbu dan menghujani pembela Al-Husain itu dengan puluhan panah dan tombak. Tubuh Al-Hurr kini laksana seekor landak menangkal serbuan panah dari semua arah. Sekonyong-konyong seorang musuh dari arah belakang mengayunkan pedangnya ke leher Al-Hurr. Al-Hurr terjatuh sambil mengerang menahan pedih lalu menghembuskan nafasnya yang terakhir dan berteriak: “Alaika minis salam ya Aba Abdillah.”. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Pasukan Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash menyeret tubuh Al-Hurr lalu melemparkannya ke hadapan Al-Husain. Dengan hati yang sarat dan bibir bergetar Al-Husain merangkulnya seraya berkata: “Sungguh tepat nama yang diberikan kepadamu wahai Al-Hurr. Engkau kini merdeka. Kau bebas di dunia dan bahagia di akhirat..,” hibur Al-Husain penuh haru.

Dada Al-Husain terasa sesak, matanya mengucurkan air hangat dan bibirnya bergetar ketika menoleh ke kanan dan ke kiri. Kini yang tersisa hanyalah kemenakan-kemenakan dan putra-putranya yang masih belia.

Drama Karbala memasaki babak paling menegangkan. Sementara itu pasukan Ibnu Ziyad di bawah komando Umar bin Sa’d kian ganas. Mereka meneriakkan yel-yel dan menari-narikan pedang. Kemurtadan telah merasuki jiwa mereka. Kini mereka menjadi buta,bisu, tuli dan mati rasa. Gema tawa dan ejekan pasukan Syimr dan rekan-rekannya berbentur dengan pekik tangis wanita-wanita Ahlulbait.

Di tengah tubuh-tubuh para pengikutnya yang berserakan, Al-Husain memekikkan suaranya parau:

Oh, adakah yang membela kami? Adakah yang mendambakan surga dengan mendukung kami? Masih adakah secuil hati nurani yang menyahuti suara kami?

Al-Husain mengakhiri jeritannya dengan puisi indah :

Akulah putra Ali dari Bani Hasyim yang suci. Cukuplah itu sebagai citra kebanggaan abadi

Fathimah ibundaku dan kakekku adalah Nabi, Ja’far sang merpati bebas adalah paman kami

Kamilah lentera kebenaran di atas muka bumi Kamilah pemberi minum telaga Kautsar nanti

Manusia-manusia terbaik adalah pencinta Ali dan yang paling celaka adalah yang membenci

Beruntunglah orang yang mempunyai sanubari untuk datang berziarah setelah kami mati

Balasan mereka adalah Firdaus dan bidadari yang berenang di sungai jernih dan menari

Giliran Remaja-remaja Ahlulbait Tiba

Al-Husain terperangah ketika melihat dua remaja berparas cahaya bak purnama menyeruak dari barisan lalu menghampirinya. Mereka Ahmad dan Al-Qasim putra Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib.

Kami datang menyambut panggilanmu, Paman. Perintahlah kami untuk maju mengurangi jumlah mereka sebanyak mungkin!” ucap mereka bersemangat di atas punggung kuda masing-masing.

Sejenak Al-Husain mengamati wajah suci kedua keponakannya itu dengan perasaan haru biru.

Majulah dan sumbangkan jiwa demi kehormatan kakek kalian Rasulullah!” balas Al-Husain sesaat kemudian sembari menyeka butir-butir hangat yang membasahi pipi dan jenggotnya.

Al-Qasim, remaja berusia empat belas tahun, melarikan kudanya dengan kencang laksana bayang-bayang lalu menerjang barisan lawan dengan ayunan pedangnya yang berkilau dan kaki kudanya yang menghentak-hentak. Ia berjaya melemparkan ke bumi puluhan tubuh pasukan Ibnu Ziyad, sebelum terjatuh dalam perangkap. Pemuda lajang berparas sangat tampan itu meneguk cawan madu surgawi syahadah setelah sepucuk tombak melubangi wajah dan lehernya. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Kemudian tampil kakaknya, yaitu Ahmad bin Hasan bin Ali. Ia menerjang barisan pasukan Umar bin Sa’d dan memindahkan pedangnya dengan lincah dan cepat dari satu tubuh ke tubuh yang lain hingga berhasil menewaskan delapan belas tentara berkuda. Ia tiba-tiba mundur dan kembali ke barisan Al-Husain.

Paman, adalah sedikit air yang dapat bertahan lebih lama menghadapi musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya itu?” tanya pemuda itu sesampainya di hadapan Al-Husain. Lidah pemuda gagah itu sedikit menjulur keluar menahan dahaga.

Keponakanku, bersabarlah sejenak! Tidak lama lagi Kau akan bertemu dengan kakekmu Rasulullah yang akan memberimu minuman yang akan melenyapkan dahagamu selamanya,” jawab Al-Husain menghibur kemenakannya.

Ahmad menerobos barisan lawan dengan pedang terhunus. Pasukan Umar menghadapi serangannya. Lima puluh tentara Ibnu Ziyad telah menyerahkan nyawanya di ujung pedangnya. Ia gugur sebagai syahid setelah hujan panah diarahkan ke tubuhnya. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un..

Ali Akbar

Kini yang tampil adalah Ali al-Akbar bin Husain, kakak tertua Ali Zainal Abidin. Melihat putranya ini Husain terisak menangis. Dipeluknya erat-erat putra kesayangannya ini, sambil mengangkat janggutnya yang telah memutih, Husain berdoa,

Ya Allah, betapa tega dan kejamnya kaum ini, muncul di hadapan mereka seorang yang mempunyai wajah, sifat dan kata-kata yang mirip dengan rasul-Mu Muhammad, bahkan ketika kami rindu kepada Rasul-Mu kami memandangi wajah anak ini.

Ya Allah haramkan bagi mereka keberkahan perut bumi ini. Porak-porandakan mereka. Mereka telah mengundang kami dan berjanji untuk membela kami, tiba-tiba mereka jugalah yang memusuhi kami dan memerangi kami.

Usai memohon izin kepada ayahnya, Ali Akbar maju ke medan perang dengan sangat tangkas sehingga mengingatkan orang akan keperkasaan datuknya Ali bin Abi Thalib as. Riwayat berkata setelah lebih dari seratus orang tewas di tangannya, Ali kembali ke kemah ayahnya dengan luka-luka yang cukup banyak. Dia berkata “Ya Abatah, (wahai ayahanda yang mulia) haus, haus. Rasa haus benar-benar telah mencekikku sehingga terasa benar beratnya besi ini. Adakah sedikit air yang bisa memberiku sedikit tenaga?

Husain memeluk erat putra kesayangannya ini. Sebentar kemudian dia julurkan lidahnya yang suci ke mulut anaknya yang suci. ”Demi Allah lidah Husain sendiri lebih kering dari ranting-ranting yang kering yang ada di Padang Karbala..”Husain berkata “sebentar lagi kau akan berjumpa dengan datukmu Muhammad yang tengah menunggumu dengan segelas air di telaga al Kautsar. Bersabarlah wahai putraku, bersabarlah.’’

Ketika Akbar telah hilang dari pandangannya, Al Husain menengadahkan kepala ke langit, dan dengan tangan terangkat ia berdoa:

Ya Allah, Engkau adalah Saksiku bahwa hari ini aku telah mengorbankan salah seorang yang paling kucintai dan kusayangi, untuk membela keadilan dan kebenaran.

Ia duduk di atas tanah sambil coba mendengarkan dengan penuh harap seruan dari medan tempur.Tak lama berselang , anak yang masih muda ini ditikam oleh musuh-musuhnya dari berbagai arah. Ada yang memukul kepalanya,menusuk dadanya,menikam perutnya,bahkan ada yang melemparkan anak panahnya sehingga jatuh persis ke lehernya. Ali al-Akbar sempat berteriak-teriak memanggil-manggil ayahnya,

Ya Abatah (duhai ayah) ‘alaika minnis salam. Kini kusaksikan datukku Rasulullah saw. Mengucapkan salam kepadamu dan memintamu agar segara datang menemuinya . Aku telah jatuh dengan luka mematikan di dada. Ayah, datanglah kepadaku karena ajalku tengah menjelang. Jika engkau tak dapat menjangkauku, kusampaikan salam terakhirku kepadamu dan kepada orang-orang yang kukasihi.

Walaupun Al Husain telah memperkirakan seruan semacam itu, betapa dahsyat dampak seruan itu terhadapnya! Ia bangkit dari tanah dan jatuh; ia bangkit lagi dan kembali terjatuh. Dengan satu tangan di dada, ia berjuang untuk bangkit. Air mata bercucuran membanjiri kedua matanya. Dengan cepat ia berlari ke arah datangnya seruan tersebut. Tampak bahwa kekuatan Al Husain terkuras habis karena mendengar pekik penghabisan sang anak tercinta, ia selalu terjatuh tiap beberapa langkah. Sambil terisak ia berkata:

Ali, memekiklah kembali agar aku dapat mengetahui di mana engkau berada. Ali, penglihatanku hilang karena guncangan yang kurasakan, dan tak ada seorang pun yang dapat membimbingku ke tempat engkau berbaring.”

Serta-merta Abbas berlari untuk membantu tuannya, memegang tangannya dan membimbingnya ke arah datangnya pekikan Ali Akbar.

Kini Al Husain berjalan terhuyung-huyung dengan kedua tangan di bahu Abbas. Jarak seakan tak berujung, namun akhirnya Al Husain dan Abbas tiba juga di tempat Akbar terbaring, di genangan darahnya sendiri. Ah, betapa tragis! Mungkin tak ada ayah yang pernah melihat anaknya dalam keadaan seperti itu. Dengan satu tangan di dada menutupi lukanya yang dalam dan mengeluarkan banyak darah, dengan wajah tampak menahan sakit, Ali Akbar terbaring di tanah, tak berdaya dan tak sadarkan diri. Dengan rasa sakit akibat lukanya dan rasa haus yang ia derita, sebagian kakinya menyeruak ke dalam tanah.

Anakku, katakan di mana sakitmu; katakan padaku siapa yang melukaimu di dada. Mengapa engkau diam saja?Ali anakku, aku telah datang menyambut seruanmu. Katakanlah sesuatu padaku.

Melihat Ali Akbar terbaring di sana tanpa menanggapi permohonannya, Al Husain berpaling ke Abbas dan berkata:

Abbas, mintalah Akbar untuk mengatakan sesuatu kepadaku. Anakku yang patuh, yang biasanya berdiri menyambut kala melihatku, kini terbaring di tanah terhimpit tangan kematian.”

Sekali lagi Al Husain merapatkan tubuhnya ke tubuh Ali Akbar. Napasnya kini semakin berat, suara berdeguk keluar dari tenggorokannya. Tampak olehnya sang anak tengah terlibat pertarungan tak seimbang dengan kematian. Al Husain mendekap kepala Ali Akbar di dadanya. Lalu ia mengangkat kepala Ali Akbar dan menempelkan pipinya ke pipi Akbar. Kemudian ia meratap:

Anakku, untuk sekali ini bukalah matamu dan tersenyumlah, sebagaimana engkau biasanya selalu tersenyum untuk menyenangkan hatiku.”

Walaupun Ali Akbar tak membuka matanya, senyum tipis tampak tersungging di bibirnya, seakan ia mendengar permohonan ayahnya. Dengan senyum manis masih melekat di bibir, Ali Akbar menghela napas dan bersamaan dengan itu jiwanya mengangkasa. Pipi sang ayah masih menempel di pipi sang anak, dalam kematian, sebagaimana biasanya dalam kehidupan.

Melihat anaknya, anaknya tercinta, menghembuskan napas terakhir dalam pelukannya, keadaan Al Husain benar-benar tak terkatakan. Selama beberapa saat ia berdiam di sana, menangis. Menangis layaknya seorang ayah tua yang kehilangan anaknya dengan tragis, di puncak masa mudanya. Abbas terduduk di sana, di sampingnya, sambil mencucurkan air mata. Kalimat belasungkawa apa yang dapat ia ucapkan atas tragedi yang begitu dahsyat ini? Segala ucapan pelipur lara dan kata-kata menghibur niscaya akan terdengar hambar dan sia-sia kala seorang ayah, seorang ayah yang telah termakan usia, tengah meluapkan emosinya. Setelah beberapa saat, Abbas dengan takzim menyentuh bahu Al Husain dan mengingatkannya bahwa karena ia tadi bergegas meninggalkan tenda, Zainab dan para wanita anggota keluarganya yang lain tengah menantinya, tersiksa kegelisahan, tertekan memikirkan tragedi yang telah menimpa mereka. Kata-kata Abbas ini sudah cukup bagi Al Husain. Ia sadar, bahwa sebagai kepala keluarga, adalah kewajibannya untuk berkumpul berdampingan dengan ibu yang berduka, adiknya yang berduka Zainab, dan anak-anak yang merasakan kehilangan ini sebagai suatu malapetaka besar.

Perlahan Al Husain bangkit dari tanah dan coba menggendong jasad Ali Akbar, namun tubuhnya sendiri pun tak mampu ditopangnya. Ia terjatuh ke tanah. Melihat hal ini, Abbas membungkuk ke arahnya dan berkata:

Tuanku, Abbas masih hidup di sisimu. Bagaimana bisa aku membiarkanmu membawa jasad Akbar sementara aku sendiri hanya diam menjadi penonton bisu? Biarkanlah aku membawa jasadnya ke tenda.”

“Tidak Abbas”, jawab Al Husain, “biarkan aku melakukannya sebagai kenangan terakhir dari cintaku. Merengkuhnya di dadaku, bahkan dalam kematiannya, membuatku terhibur, satu-satunya hiburan yang masih tersisa bagiku.

Setelah berkata demikian, ia mengerahkan segenap tenaga dan dengan dibantu Abbas ia mengangkat tubuh Ali Akbar. Sambil mendekap tubuh Ali Akbar erat-erat di dada, ia mulai menempuh perjalanan panjang ke tenda. Bagaimana ia bisa sampai, hal itu sulit dijelaskan. Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa kakeknya Muhammad, ayahnya Ali, kakaknya Hasan, dan mungkin ibundanya Fathimah turun dari surga demi membantunya menyelesaikan tugas ini.

Al Husain tiba di tenda dan membaringkan jasad Akbar di tanah. Ia memanggil Ummu Laila, Zainab, Kultsum, Sakinah, Ruqayyah, Fidhdhah, dan para wanita anggota keluarganya yang lain guna memandang wajah Ali Akbar untuk terakhir kalinya. Sang ibu yang penuh cinta datang, para bibi yang sarat kasih tiba, anak-anak menghampiri, dan mengelilingi tubuh Ali Akbar. Mereka memandang wajah Ali Akbar, lalu wajah Al Husain. Mereka sadar bahwa tangisan mereka hanya akan menambah kepedihan Al Husain yang sudah meluap. Ibunda Ali Akbar menghampiri suaminya, dan dengan tangis tertahan serta wajah tertunduk, ia berkata kepadanya:

Tuanku, aku bangga pada Ali Akbar karena ia telah meraih kesyahidan yang begitu mulia. Ia telah menyerahkan jiwanya demi alasan yang mulia, dan hal ini akan terus membuatku tegar dalam menjalani sisa hidupku. Kumohon padamu, berdoalah untukku, berdoalah untuk kami semua, agar Allah Yang Mahakuasa menganugerahkan kita kesabaran dan pelipur lara.”

Setelah berkata demikian, sang ibu berpaling ke jasad anaknya yang terbaring di tanah, lalu menempelkan wajahnya ke wajah sang anak. Zainab, Kultsum, Sakinah, dan Ruqayyah telah lebih dulu merebahkan tubuh-tubuh mereka di atas tubuh Ali Akbar. Air mata yang mengalir dari mata mereka cukup untuk membersihkan darah beku dari luka-luka Akbar.

Al Husain terduduk selama beberapa menit di dekat jasad anaknya; anak yang telah meninggalkannya dalam keadaan tragis; anak yang meninggal dunia kala mengharap setetes air demi melepas dahaganya. Ia tak sadarkan diri dalam kesedihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s