Maqtal Al Husain: Syahid Agung Karbala [Bagian II]

KARBALA seperti kata sebuah riwayat adalah rangkaian dari dua kata “ karbun” dan “bala” , yang artinya adalah kesedihan dan derita.

Karbala adalah syiar jihad keluarga Nabi yang mulia di dalam menegakkan kalimat al-Haq.

Karbala adalah simbol perjuangan Ahlulbait Nabi dan para pengikutnya di dalam upaya memisahkan antara Islam Muhammad dan Islam Umawi.

Keagungan peristiwa Karbala dengan jelas terbukti melalui kehadiran Imam Husain as beserta sejumlah keluarga dan sahabatnya di sana dalam rangka menegakkan kebenaran dan menumbangkan kebatilan.

Al-Husain Tiba di Karbala

Telapak kaki Al-Husain dan karavannya kembali memahat padang ilalang menghadang badai gurun dan menangkal sinar surya. Al-Hurr dan pasukannya mengikuti dari belakang. Bukit-bukit pasir pun menjadi rata, sementara waktu terus bergulir. Tiba-tiba kuda Al-Husain berhenti, enggan melanjutkan jalannya. Al-Husain mencoba kuda kedua hingga ketujuh, namun tak juga berhasil.

“Apa nama daerah ini?” tanya cucu Rasulullah itu.

“Al-Ghadiriyah,” jawab mereka serentak.

“Apa nama kedua bagi daerah ini?” tanyanya lagi sembari menatap ke tanah.

“Nainawa,” sahut mereka.

“Adakah namanya yang ketiga?” tanya Al-Husain seakan tak percaya.

“Syathil’ul-Furat,” jawab sebagian mereka.

Mata Al-Husain menyapu padang luas itu dari atas kudanya

“Adakah nama lagi selain itu semua?” tanyanya lagi penasaran.

“Karbala,” jawab salah seorang dari mereka.

Al-Husain menghela nafasnya dalam-dalam. “Inilah karb (duka) dan bala (bencana)! Di bumi tandus inilah tangisan dan erangan gadis-gadis ‘Ali disambut tawa! Di sinilah jerit parau putri-putri Muhammad akan membumbung menembus dinding angkasa! Di sinilah kemah-kemah keluargaku akan hangus! Di sinilah kebenaran dan para pendambanya akan tersungkur di bawah kaki para pemerkosa nurani! Di sinilah cawan-cawan madu merah surgawi akan dibagi-bagikan! Di sinilah aku bersua dengan Muhammad! Benar ucapan kakekku yang telah menjanjikan kematian indah untuk di sini! Di sinilah aku akan dikunjungi! Turunlah dan dirikan tenda!” pekik Al-Husain berapi-api.

Esok pagi, Al-Husain keluar dan mengendap kemah pasukan ‘Umar bin Sa’d seraya berteriak:

“Hai, dengarkan! Luangkan sedikit waktu untuk mendengar sejenak ucapanku. Puji atas Allah dan shalawat atas Nabi serta keluarganya. Telusurilah garis keturunanku lalu renungkanlah siapa diri kalian, dan renungkanlah adakah sedikit alasan di benak kalian untuk mengalirkan darahku di bumi ini? Aku adalah anak putri Nabi kalian; aku adalah putra pendamping pilihan Rasulullah dan Mukmin pertama. Bukankah Hamzah sang syahid besar adalah pamanku? Bukankah Ja’far sang merpati surga adalah pamanku? Tidakkah kalian pernah mendengar sabda kakekku bahwa Al-Hasan dan aku adalah penghulu para pemuda surga dan bahwa telah aku tinggalkan untuk kalian dua pusaka yang sangat berharga: Alquran dan ‘itrah Ahli Baitku? Jika kalian membenarkannya, maka itulah kebenaran yang mesti diterima. Jika tidak, tanyalah pada Jabir bin al-Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Sahl bin Sa’idi, Zaid bin Arqam, dan Malik bin Anas yang telah menyaksikan dan mendengarnya dari kakekku Rasulullah!” Suara Al-Husain terdengar cukup keras hingga tak seorang pun yang tidak mendengarnya.

Peringatan Terakhir Al-Husain

Sepuluh Muharam, fajar menyingsing. Usai melaksanakan shalat Subuh, Al-Husain mengenakan pakaian perang dan sorban kakeknya. Pedang Dzulfiqar di genggamannya. Ia bangkit dan menghadap pasukan musuh yang sebagian besar terdiri dari warga Kufah.

“Hai kalian semua, ketahuilah, usia dunia sangatlah singkat, dan seluruh isinya akan berakhir dengan kemusnahan tahap demi tahap. Kalian telah memahami hukum Islam, membaca Alquran, dan mengakui bahwa Muhammad adalah duta Tuhan Yang Maha ada, namun kalian sungguh berani membantai putranya secara keji dan aniaya. Hai, tidakkah kalian lihat sungai Efrat menggeliat laksana ular, dan airnya mengalir deras diminum oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, bahkan anjing dan babi. Sementara keluarga Rasul sekarat dan mati dijerat dahaga!” kecam cucunda Nabi itu.

Suara Al-Husain membahana menghunjam dada pasukan musuh.

Suhu ketegangan di medan tandus itu kian meningkat. Dengus nafas para pengikut Al-Husain mengumpulkan para pengikutnya. Setelah memanjatkan puji atas Allah dan shalawat atas Rasul dan keluarganya, Al-Husain berkata:

Wahai kaum Mukminin, aku sangat bangga mempunyai pengikut setia seperti kalian. Tidak ada pengikut setia seperti kalian. Aku sangat bangga mempunyai keluarga setia seperti kalian. Tidak ada keluarga sesetia dan semulia kalian. Semoga Allah membalas jasa baik kalian dengan ganjaran yang sangat besar. Firasatku membisikkan bahwa inilah hari terakhir dalam hidupku. Kalian telah membuktikan kesetiaan dengan mendukung dan menyertai perjalananku hingga di bumi ini. Aku tidak menuntut kalian untuk tetap bersamaku di sini hari ini. Pagi hari ini, sebelum pertempuran meletus, adalah kesempatan terakhir bagi kalian untuk meninggalkanku di sini demi keselamatan kalian. Semoga Allah membuka jalan yang dapat menghindarkan kalian dari bahaya. Ketahuilah, mereka hanya mengincarku, bukan kalian!

Angin gurun menyapu permukaan bumi dan suara Al-Husain yang memilukan beriringan menusuk pori-pori dan hati sanubari. Mata para pengikut Al-Husain tergenang dalam air hangat membilas pipi dan cambang mereka.

Keluarga Al-Husain, terutama kemenakan-kemenakannya dan putra-putra Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib serta budak-budaknya, menolak tawaran beliau.

“Kami tidak akan membiarkan Anda menghadapi musibah sendirian,” sahut mereka.

Kepada putra-putra Muslim bin Aqil bin Abi Thalib, Al-Husain berkata dengan nada haru: “Cukuplah pengorbanan kalian dengan kematian Muslim yang sangat mengenaskan itu!” ujar Al-Husain di hadapan para putra Muslim.

“Apa yang akan dibicarakan oleh orang-orang apabila kami biarkan Anda sebatang kara menjadi mangsa binatang-binatang berwajah manusia itu? Jiwa dan raga kami sangatlah murah dibanding kebenaran yang Anda perjuangkan. Apa arti hidup di dunia setelah kematianmu!’ balas mereka.

Bola mata Al-Husain menitikkan butir-butir hangat mendengar jawaban kemenakan-kemenakannya itu.

Kini giliran Muslim bin Awsijah maju menghampiri cucu Rasulullah itu.

“Dengan bahasa apa kita akan meminta maaf kepada kakek, ibu dan ayahmu, andai kami biarkan Engkau mati tercabik-cabik oleh hujan pedang seorang diri. Demi Allah, akan kutebas leher-leher mereka hingga pedangku ini patah. Bila pedangku patah dan terlepas, aku akan memerangi mereka dengan batu, agar Allah tahu bahwa aku membela cucu Nabi-Nya. Wahai cucu Rasulullah! Andaikan aku terbunuh dan dihidupkan kembali, maka aku tetap berperang hingga terbunuh. Andaikan aku dihidupkan kembali dan terbunuh hingga tujuh kali, maka aku tak akan meninggalkanmu, apalagi hanya sekali dan setelah itu kemuliaan akan menjadi bagianku!” ucapnya berapi-api.

Muslim kembali duduk. Al-Husain mengangguk-anggukkan kepalanya mengagumi sikap sahabatnya itu.

Zuhair bin al-Qa’in menyusul. “Wahai cucu Rasulullah, andaikan aku terbunuh lalu di hidupkan kembali sampai seribu kali, maka aku akan tetap di sampingmu melawan mereka.”

Satu demi satu pengikut Al-Husain tampil menyatakan tekadnya membela Al-Husain. Al-Husain menangis terharu. Janggutnya basah dan dadanya bergemuruh bahagia.

Pesta Perburuan Mulai

Hentak-hentak kaki kuda dan derap langkah pasukan Umar bin Sa’d terdengar dari barisan Al-Husain. Sang komandan, Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash, berdiri sambil berkacak pinggang. Setelah menoleh ke kanan dan ke kiri, ia menunjuk Asy-Syimr bin Dzil-Jausyan sebagai panglima pasukan sayap kanan yang berjumlah dua puluh ribu penunggang kuda dan Khuli bin Yazid al-Ashbahi sebagai panglima pasukan sayap kiri yang berjumlah dua puluh ribu penunggang kuda, sedangkan pasukan inti (bagian tengah) dipimpin oleh Umar bin Sa’d sendiri.

Al-Husain mengatur dan membagi para pendukungnya menjadi tiga pasukan kecil. Barisan kanan yang berjumlah dua puluh penunggang kuda dipimpin oleh Zuhair bin al-Qa’in. Sedangkan dua puluh tentara lagi diletakkan pada posisi kiri di bawah pimpinan Hilal bin Nafi al-Bajli. Adapun sisa pasukan mengisi lapangan tengah di bawah komando Al-Husain bin Ali sendiri. Putra-putra dan kemenakan-kemenakannya bergabung dengan pasukan tengah.

Gaung takbir Allahu Akbar dan ringkikkan kuda Al-Husain dan pasukannya menyambut teriakan pasukan Ibnu Sa’d. Drama pertempuran mahadasyat sepanjang sejarah itu pun dimulai.

Kuda-kuda berlarian ke arah yang berlawanan. Denting pedang dan jeritan wanita bersautan bak irama konser. Debu-debu beterbangan menyelimuti permukaan medan. Korban tewas dan luka berguguran ditinggalkan kuda-kuda yang bersimbah darah. Hujan tombak dan panah telah mengurangi jumlah pengikut Al-Husain. Dua pasukan itu pun kembali lagi ke kubunya masing-masing. Tiba-tiba Abu Tamamah ash-Shaidawi menyeruak dari barisan dan menghadap sang komandan.

“Wahai Tuanku, Abu Abdillah! Kita pasti mati terbunuh di sini. Waktu shalat telah datang. Ini adalah shalat kita yang terakhir. Maka pimpinlah shalat, agar kita bersua dengan Tuhan tanpa setitik tanggungan. Al-Husain mengulas senyum gembira sambil mengelus pundak pencintanya. Permintaan tersebut dikabulkan. Pasukan Al-Husain bersiaga untuk shalat.

Usai memperdengarkan suara azan, Al-Husain menegur ‘Umar bin Sa’d.

“Beri kami sedikit waktu untuk melaksanakan perintah Allah!” pintanya.

“Umar tidak menyahut suara cucu Rasulullah itu. Suara ibnu Namir menghentikan langkah Al-Husain.

“Shalatlah sesukamu, meski Tuhan tak menerima shalatmu!” ujarnya menghina.

Al-Husain Berkata:. “Hai Habib! Kini lengkaplah alasanmu untuk maju menyongsong tantangannya dan menghentikan omong kosongnya!” Habib turun dari kudanya lalu menghadap komandannya.

“Wahai cucu Rasulullah! Aku akan melaksanakan shalatku di sana, dan aku sampaikan salam darimu, kepada kakek, ayah dan saudara Anda,” ucap Habib sebelum mencium tangan dan kepala Al-Husain.

Kini Habib bin Muzhahir telah beranjak meninggalkan Al-Husain dan barisannya menuju arena tanding.

Terjadilah duel seru antara keduanya. Habib menghantamkan perisai besinya ke arah wajah lawannya yang sibuk menari-narikan pedangnya itu. Luka di pundak dan darah yang mengucur telah mengurangi kekuatan Ibnu Namir. Habib merajang tubuh Ibnu Namir menjadi tiga bagian.Tiba-tiba dari barisan lawan segerombolan tentara datang menuju ke arah Habib. Serbuan pedang dan tombak secara serempak telah menghentikan gerak lincah Habib. Habib mengerang kesakitan saat pedang beracun menusuk rongga lehernya. Ia seketika tersungkur dan berteriak: “Alaika minis salam ya Aba Abdillah. “. Habib pun gugur sebagai syahid dalam tragedi Karbala. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Kematian Habib bin Muzhahir menambah rasa keterasingan dan luka di lubuk sanubari Al-Husain. Ia tertunduk lalu menghembuskan nafasnya.

“Semoga Allah membalas jasa pengorbananmu, Habib!” ucap Al-Husain di hadapan jasad pahlawan yang berlumur darah dan tanah itu.

Bunga-bunga Berguguran

Irama syahadah kian keras terdengar mengiringi tari-tarian sekelompok rajawali di cakrawala.

Sesaat kemudian Zuhair bin al-Qain tampil lalu menghadap komandannya yang sedih itu.

“Tuanku, gerangan apa yang membuat paras Anda nampak kecewa? Bukankah kita pihak yang benar?” tanya Zuhair sopan.

“Oh, tentu. Kita adalah pihak yang benar,” tandas Al-Husain sambil mengelus kepala pencintanya itu.

“Jika begitu, maka kita tidak akan pernah peduli dan terus menuju surga,” sela Zuhair bersemangat.

Tak lama kemudian Zuhair meminta izin Al-Husain untuk maju bertanding. Setelah diizinkan, Zuhair meninggalkan barisannya. Ia menari-narikan pedangnya yang tipis dan panjang. Zuhair menerjang barisan lawan dengan gerakan pedang dan kudanya yang lincah hingga berhasil merobohkan lima belas tentara berkuda. Ketika teringat akan waktu shalat, ia segera menarik kudanya dan kembali ke barisannya. Ia sempat melaksanakan shalat Zuhur di belakang Al-Husain.

Usai shalat, Al-Husain berdiri menghadap barisannya dan berkata:

Kini pintu-pintu surga telah dibuka. Sungai-sungainya telah mengalir. Istana-istananya telah dihias. Bidadari dan bidadara telah berbaris siap menyambut. Rasulullah dan para Syuhada yang gugur dan berjuang bersama beliau, bersama ayahku dan ibuku sedang menanti kedatangan kalian semua dengan cemas dan segenap rindu. Maka pertahankanlah agama kalian dan cucu Nabi kalian. Allah akan menilai ketaatan kalian dengan kami. Kalian adalah sebaik-baiknya pencinta kakekku. Semoga Allah membalas kebaikan kalian semua.

Suara tangis dan jeritan pilu pasukan dan para wanita menyambut ceramah Al-Husain. Mereka serentak menyatakan tekad yang bulat untuk berjuang membela Al-Husain dan keluarganya hingga tetesan darah yang terakhir.

Zuhair bin al-Qa’in kembali menerjang barisan lawan dengan semangat menyala sambil menyatakan kecintaannya kepada Rasul, Ali dan seluruh anggota Ahlulbait dalam puisi yang berapi-api. Ia dengan gesit menebas setiap kepala yang muncul menghadangnya hingga berhasil mencabut tujuh belas nyawa pasukan lawan. Zuhair tersungkur bersimbah darah dan berteriak sebelum menghembuskan nafasnya: “Alaika minis salam ya Aba Abdillah. “. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Jumlah pasukan Al-Husain kini berkurang. Kepergian Zuhair telah menambah beban kesedihan di hati Al-Husain. Bayang-bayang keteraniayaan wanita-wanita Muhammad mulai tergambar di benak Al-Husain.

Mantan budak Abu Dzarr, Jun, menghadap Al-Husain dan berkata: “Wahai Imam, izinkanlah aku membelamu setelah selama ini engkau selalu membelaku. Aku ini mantan budak yang hina, dari jalur keturunan yang hina juga, Kulitku hitam, badanku berbau busuk. Wahai Cucu Nabi, izinkanlah darahku bercampur dengan darah suci engkauagar nanti di surga kulitku menjadi putih dan badanku menjadi harum”. Jaun segera meninggalkan barisan rekan-rekannya menuju arena. Ia sesumbar dengan gagahnya di hadapan lawan dengan puisi:

Saksikan persembahan seorang berkulit hitam

Saksikan keberanian seorang Afrika di arena

Aku akan membela Al-Husain dan tak akan diam

Kematian di pihak Al-Husain adalah jalan surga

Ia bertempur dengan gigih mengayunkan pedang dan menghantamkan perisai bajanya ke setiap wajah yang muncul di hadapannya. Budak hitam berhati bening itu berhasil membersihkan tujuh puluh lawan dari para penunggangnya. Ketika Jaun syahid, Imam menempelkan pipi suci beliau ke pipi jaun dan berdoa: “ Ya Allah, Putihkanlah wajahnya, harumkanlah tubuhnya dan bangkitkanlah dia bersama Kakekku, Muhammad saaw!

Hampir setiap sahabat dan keluarga Husain terluka karena peperangan itu, seorang wanita tua, istri Abdullah bin Umair berkata kepada suaminya Abdullah:

Wahai Abdallah, demi ayah dan ibuku. Berperanglah demi mempertahankan anak zuriat Muhammad saw…”

Tak lama setelah ia keluar, terdengar lantunan salam, “Alaika minis salam ya Aba Abdillah. “Abdullah bin Umair gugur. Kepalanya dilemparkan ke kemah Husain. Ummu Umair menyambut kepala sang suami dengan senyum penuh keimanan. Dibersihkannya pipinya yang tak berleher dari pasir-pasir Karbala. Suaranya lirih, “Hanian laka bil jannah…” “Selamat… selamat atas keberhasilanmu wahai suamiku tercinta. Surgalah balasan bagimu dari Allah …”

Suara lirih istri sejati ini terdengar oleh Syimir. Dengan geram ia perintahkan kepala Ummu Umair juga dipenggal. Jadilah ia wanita pertama yang syahid di Karbala.

Amir bin Qarthah al-Anshari juga adalah sahabat Husain yang sangat setia. Ia tidak ingin sedikit pun luka mengenai putra Fathimah az Zahra ini. Setiap kali anak panah ditujukan kepada Husain, ia pasang badan untuk melindunginya. Ia berjuang mati-matian untuk menjaga putra Nabi dengan segala daya, hingga badannya ditancap-tancap puluhan anak panah. Amir tidak lagi merasakan sakitnya tusukan tombak dan panah. Cintanya kepada Husain mengobati seluruh deritanya di Karbala. Dengan tubuh yang bersimbah darah seperti itu ia menghadap ke Alhusain.

“Apakah aku telah tunaikan kesetiaanku untukmu ya Husain?”

Ya. Engkau akan berada di hadapanku kelak di surga. Dan sampaikan salamku kepada Rasulullah…”

Bahkan anak-anak remaja Karbala tak mau ketinggalan dalam membela Husain as. Putra Wahab tiba-tiba keluar dari kemahnya sesaat setelah melihat ayahnya jatuh ditebas musuh. Husain sempat menghalanginya.

“Wahai anakku! Engkau masih belum wajib berjihad.” Kata Husain. “Ayahmu baru saja terbunuh. Ibumu tentu tidak ingin kehilanganmu setelah ayahmu syahid?”

Anak remaja ini kemudian datang memeluk kaki Al-Husain sambil berkata, “Demi jiwaku yang ada di tangan Allah. Ibukulah yang memakaikanku pakai perang ini, Ya Imam, ibuku bangga denganku apabila aku bisa terbunuh dalam membelamu. Perkenankan aku keluar membelamu, ya Husain…” Remaja ini kemudian gugur menyusul sang ayah.

Demikian juga dengan putra Muslim bin Ausjah. Ayahnya gugur. Kepalanya dipenggal. Sang ibu memintanya untuk membela Husain. Sang ibu tidak rela anaknya hidup sementara Husain dan anak-anak Nabi yang lain disakiti. Ia perintahkan putranya keluar. Tak lama berselang kepala putra Ausjah tercinta di lemparkan ke kemah sang ibu yang mulia ini. Bukan jeritan tangis yang diraungkannya. Bukan suara sesal yang dikumandangkannya. Bukan rasa iba yang dipintanya. Ia berkata dengan suara yang didengar oleh isi alam semesta: “Ahsanta ya bunayya…” “Engkau telah berbuat baik dan telah berbakti kepadaku wahai putraku dan penyejuk hatiku…Engkau telah senangkan hati Fatimah az Zahra. Engkau telah bahagiakan jiwa Rasulullah…Engkau telah mengabdi kepada Husain bin Ali. Setelah itu sang ibu, melemparkan kembali kepala anaknya ke medan pertempuran seraya berteriak: “ Apa yang telah di berikan di jalan Allah, tidak bisa di kembalikan lagi.”

Seorang lelaki tua bernama Jabir bin ‘Urwah al-Ghifari maju meninggalkan barisannya. Al-Husain menatap sahabat Nabi yang pernah menjadi tentara di Badr dan Uhud itu sambil berkata: “Wahai Syekh, cukuplah pengorbananmu dengan membela kakekku semasa beliau hidup. Engkau tidak wajib untuk membelaku sekarang. semoga Allah membalas pengorbananmu!”

Lelaki tua itu mengulas senyum bangga. “Wahai Imam, apa yang hendak aku katakan di depan kakekmu kelak jika aku tidak membelamu di saat engkau dalam keadaan susah? Bagaimana aku dapat menatap wajahnya kelak? ujarnya.

Meski tua, ia masih sanggup melawan ratusan tentara dan memenggal sejumlah kepala musuh. Tiba-tiba sebuah tebasan kilat telah memisahkan tubuh orang tua pemberani itu dari batang lehernya. Ia gugur sebagai syahid tertua di Karbala. Inna lillah wa inna ilaihi raji’un.

Satu demi satu pahlawan Karbala tampil: Jun, Anas al-Kahili, Al-Hijjaj al-Ja’fi, Suwaid bin ‘Amr, Siwar bin Abi Humair, dan lainnya, hingga lenyaplah semua pengikut Al-Husain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s