Maqtal Al Husain: Syahid Agung Karbala [Bagian I]

Bulan Berduka, Hitam merajai mimbar Ahlulbayt, para makhluk langit mulai menyusun tempat duduknya, menyaksikan peristiwa teragung, tumpahnya darah Muhammad Rasulullah!

Shallallahu ‘alaika ya Aba ‘Abdillah Shallallahu ‘alaika ya Mazlum bi Karbala

Shallallahu ‘alaika ya Syahid bi Karbala

Salam sejahtera bagimu ya Aba ‘Abdillah al-Husain bin ‘Ali (as.)

Salam Sejahtera bagimu wahai putra Rasulullah (saw.) Salam sejahtera bagimu wahai putra Fatimah az-Zahra’ (as.)

Salam kepada yang terputus kepala sucinya. Salam kepada darah Fatimah yang tertumpah. Salam kepada yang dicincang tubuh sucinya. Salam kepada belahan jiwa Rasul. Salam kepada cahaya Ali. Kepada salam adik Al-Hasan. Salam kepada Abu Abdillah. Salam kepada Al-Husain yang teraniaya.

Segala puja dan puji bagi Allah yang menampakkan diri-Nya kepada para hamba-Nya di dalam lubuk hati mereka. Yang menyampaikan kehendak-Nya dalam bentuk Sunnah dan Al-Kitab (Al-Qur’an). Yang menyucikan para kekasih-Nya dari gemerlap dunia yang penuh tipuan dan rayuan, lalu membawa mereka menuju cahaya kebahagiaan. Allah mengutamakan mereka atas semua makhluk karena kemuliaan dan keutamaan yang mereka miliki. Dialah yang menunjukkan kepada mereka sebaik-baiknya jalan.

Demi kemuliaan tersebut, jiwa para syuhada Karbala melayang jauh tinggi, mereka berebut untuk menyongsong maut, dan akhirnya kawanan tombak dan sayatan pedang mencabik-cabik badan mereka.

Jika tidak ada perintah Al-Qur’an dan sunnah untuk bersedih dan berduka, atas gugurnya panji kebenaran dan terpuruknya fondasi kesesatan, sebagai perwujudan rasa sedih akan hilangnya kesempatan mendapatkan karunia tersebut dan rasa perih menyaksikan pembantaian seperti ini, kita akan senantiasa menyambut kenikmatan agung Ilahi ini dengan kegembiraan.

Ketika rasa sedih dan duka merupakan ridha Allah, Sang Raja pada hari kebangkitan, dan kecintaan para hamba saleh, karenanya kita mengenakan busana duka dengan berlinang air mata, seraya berkata pada mata kita “Deraskan cucuran air matamu dalam tangisan yang panjang.” Dan kepada hati, kita katakan “Lakukanlah sesuatu yang biasa dilakukan para wanita ketika ditimpa musibah”.

Karena pusaka peninggalan Nabi Saww telah disia-siakan di hari Asyura’. Wasiat beliau pun mengenai keluarga dan keturunannya dikoyak-koyak oleh tangan umat dan musuh-musuhnya.

Sungguh betapa besar musibah yang menyayat hati ini, tragedi yang melahirkan kesedihan mendalam, bencana yang mengecilkan segala cobaan, tragedi yang mencabik-cabik simbol ketakwaan, anak-anak panah yang menumpahkan darah risalah Ilahi, tangan-tangan yang menggiring tawanan kebesaran, bencana yang menundukkan kepala setiap insan mulia, cobaan yang mengorbankan jiwa sebaik-baiknya keluarga, pesta para musuh yang mengguncang hati para jawara, tragedi yang menyedihkan bagi Jibril, dan kejahatan besar di sisi Tuhan Yang Maha Agung dan Jalil.

Bagaimana tidak, bukankah darah daging Rasulullah Saww terkapar di padang pasir. Darahnya yang suci tertumpah oleh pedang-pedang kesesatan. Wajah putri-putri beliau ditatap oleh mata para musuh Tuhan. Mereka menjadi tontonan khalayak ramai. Jasad para syuhada yang agung terlucuti dari pakaiannya. Raga mereka yang kudus tersungkur di atas tanah. Sungguh musibah besar yang menyayat hati Nabi dengan anak panah yang menancap pada kalbu hidayah.

Ketika orang yang bersedih bosan dengan kesedihan, para pembawa kabar datang dengan kesusahan dan duka.

Oh, andaikan saja Fatimah a.s. dan ayahnya menyaksikan putra dan putri mereka yang terampas, terluka, diseret dan disembelih. Para putri Nabi pun memukul-mukul tubuh mereka karena kebingungan ditinggal oleh orang-orang yang mereka cintai. Kerudung kepala mereka terbuka. Mereka memukuli pipi sendiri. Tak ada yang dapat mereka lakukan lagi, selain berlomba menguras tangisan dan jeritan, karena berpisah dari para penjaga dan pembela kehormatan mereka.

Wahai insan yang berbudi luhur, wahai pribadi dengan akal dan pikiran jernih, ceritakanlah pada diri kalian tragedi yang menimpa keluarga ini. Tangisilah mereka demi keridhaan Tuhan. Bantulah mereka dengan cinta dan air mata. Bersedihlah karena tidak dapat menolong mereka.

Mereka adalah pusaka peninggalan penghulu umat manusia, buah hati Rasulullah Saww, cahaya mata Fatimah Az-Zahra. Lisan suci Rasulullah Saww telah banyak menyebutkan kemuliaan mereka. Ayah dan ibu mereka lebih beliau utamakan dari seluruh umatnya

Sungguh mengherankan, bagaimana para durjana itu sampai hati membalas kebaikan kakeknya Saww dengan kekufuran, padahal zaman belum jauh berselang. Mereka telah mengeruhkan kehidupan beliau dengan menyiksa buah hatinya, dan meremehkan beliau dengan menumpahkan darah putra kesayangannya.

Mana bukti kesetiaan mereka pada wasiat beliau untuk memelihara keluarganya? Jawaban apakah gerangan yang hendak mereka berikan kala berjumpa dengan beliau kelak? Padahal mereka telah menghancurkan bangunan yang beliau dirikan, dan Islam meneriakkan jeritan duka?!

Bagaimana hati tidak akan hancur kala mengingat tragedi ini? Sungguh mengherankan bagaimana umat melupakannya! Apa yang akan dijadikan alasan oleh mereka yang mengaku beragama Islam dan beriman padahal lalai akan tragedi menyayat hati yang menimpa agama?!

Bukankah mereka tahu bahwa Muhammad adalah keluarga korban pembantaian ini? Bukankah putra kesayangan beliau dibantai dan dicampakkan di padang sahara? Bukankah para malaikat datang mengucapkan bela sungkawa kepada beliau atas musibah besar yang beliau alami? Bukankah para Nabi bersama beliau dalam duka dan nestapa?

“Apakah jawaban kamu, jika Nabi kamu menanyakan kepadamu,

Apa yang sudah kamu perbuat,

Wahai umatku yang hidup sepeninggalku,

Kamu apakah kaum keluargaku setelah aku tiada,

Ada yang menjadi tawanan, ada yang berlumuran darah?

Inikah yang kamu berikan kepadaku,

Setelah aku menunjuki kamu agar kamu selamat,

Kamu membalas dengan perlakuan yang buruk kepada keluargaku?”

“Wahai orang yang membunuh “Husain” tanpa berpikir,

Bergembiralah engkau menerima siksa dan kutukan.

Semua penghuni langit mendoakan agar kamu binasa,

Baik nabi, atau malaikat ataupun umat,

Kamu sudah dikutuk dengan ucapan Nabi Daud,

Dan juga Nabi Musa, dan Nabi Isa membawa Injil “.

“Aku berjalan perumahan keluarga Nabi Muhammad Saw

Aku tidak melihat penghuninya lagi,

Seperti ramainya dahulu pada waktu dibangun….!

Ya, semogalah Allah tidak menjauhkan rumah dan penghuninya,

Walaupun kini penghuninya sudah sepi!

Sungguh, keturunan Hasyim yang syahid di padang Karbala itu,

Menyebabkan kehinaan menimpa kaum muslim,

Dahulu mereka merupakan perempuan harapan,

Tetapi kini sudah menjadi bencana yang menimpa kemanusiaan!

Ya, sungguh bencana itu sangat besar dan agung……!”

“ Jenazah, yang ditangisi oleh Fatimah,

Serta ayahnya, dan juga Ali yang mempunyai ketinggian,

Andaikan Rasulullah saw masih hidup,

Tentu beliau sudah duduk menerima ucapan belasungkawa,

Mereka membawa kepala Husain ke mana-mana.

Kepala cucu yang mereka membaca salawat kepada kakeknya,

Entah dengan ikhlas, ataupun dengan terpaksa!

Ya Rasulullah, andaikan Rasulullah melihat cucu-cucunya,

Ada yang terbunuh , dan ada yang tertawan,

Tentulah Rasulullah menyaksikan pemandangan,

Yang menyebabkan hati terharu dan air mata berlinang,

Sungguh, perbuatan seperti itu tidak pantas dilakukan,

Sebagai membalas jasa kepada Rasulullah saw!

Oh umat yang durhaka, diktator yang melanggar ,

yang menyembelih cucu-cucu Rasulullah saw,

Seperti menyembelih kurban pada hari ‘Idul Adha,

Kemudian menggiring kaum – wanitanya seperti tawanan,

Sepanjang jalan mereka menjerit dan meraung,

Memanggil Rasulullah saw berulang kali,

Disela-sela letihnya berjalan dan beratnya langkah !”

Wahai para insan yang setia kepada Rasulullah, mengapa kalian tidak menyertai beliau dengan cucuran air mata?

Demi Allah, wahai pencinta putra Fatimah, iringilah beliau dalam meratapi jasad-jasad pembantaian ini! Berusahalah untuk mencucurkan air mata beriringan. Tangisilah kepergian pemimpin Islam ini, agar anda mendapatkan pahala orang yang bersedih atas musibah yang menimpa mereka dan meraih kebahagiaan di hari perhitungan awal kelak!

“Dialah (Imam Husain as) pohon cemara yang tegak di taman Rasul, dialah anak Ali, yang ayahnya mengawali pesta pengorbanan hingga ia dapat mendemonstrasikan sebuah sembelihan yang besar & bagi pangeran dr umat islam itu Rasul terakhir menyerahkan punggungnya untuk dinaiki. Dari Husain kita belajar rahasia kitab suci. Duhai utusan dr mrk yang jauh, bawalah airmataku ini kpd debunya yang suci. (Muhamad Iqbal)

Imam Husain as keluar dari rumah sayyidah zahra as yang sunyi dan sedih menuju karbala. Ketahuilah rumah kecil itu lebih besar dari seluruh sejarah! (Ali Syariati)

Diriwayatkan dari junjungan kita Imam Baqir a.s., bahwa beliau bersabda: “Imam Ali Zainal Abidin a.s. mengatakan:

Seorang mukmin bila ia menangisi pembantaian Imam Husain a.s. hingga air mata membasahi pipinya, kelak Allah akan memberinya kamar-kamar di surga yang akan dia tempati selama-lamanya. Bila seorang mukmin menangisi gangguan dan penganiayaan yang dilakukan para musuh terhadap kita, kelak Allah akan menempatkannya di tempat para siddiqin. Dan jika seorang mukmin merasa resah dan tersiksa karena gangguan yang kita derita, maka Allah akan menjauhkan segala gangguan darinya dan akan menjauhkannya dari kemurkaan api neraka di hari kiamat.

Diriwayatkan bahwa Imam Ja’far ash Shadiq a.s berkata:

Barang siapa yang mendengar musibah yang menimpa kita lalu menitikkan air mata walaupun sekecil sayap lalat, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.”

Imam Ja’far Shadiq as. berkata:

Setelah peristiwa Karbala, Ali Ibnu Husain as. terus menangis untuk Imam Husain as. selama dua puluh tahun. Dan setiap kali disediakan hidangan di hadapannya, segera itu pula beliau mulai menangis.”

Imam Ali Ridha as. berkata:

Ketika datang bulan Muharam, ayahku Imam Musa Kazhim as. tak pernah terlihat tertawa. Kedukaan dan kesedihan terus meliputinya pada sepuluh hari pertama Muharam. Dan di hari kesepuluh, di mana saat itulah hari tragedi, beliau sangat dirundung duka cita mendalam dan tangisan yang memilukan.”

Imam Muhammad Baqir as. berkata:

Amirul Mu’minin Ali as. bersama dua pengikutnya sekali waktu pernah melintas di padang Karbala. Saat itu, Beliau pun meneteskan air mata dan berucap: Inilah tempat peristirahatan hewan-hewan mereka, di sini pula tempat barang-barang mereka diletakkan, dan di tanah ini pula darah mereka mengalir. Berkah bagimu wahai bumi, di mana darah para kekasih tertumpah di permukaanmu.

Imam Ja’far Shadiq as., saat duduk di atas sajadah berdoa bagi mereka yang berduka dan pergi berziarah untuk Ahlulbait as. Doa beliau:

Ilahi, ampunilah mata-mata mereka yang meneteskan air mata kedukaan untuk kami dan hati-hati mereka yang telah tertahan dan terbakar pedih untuk kami. Juga ampunilah mereka atas ratap tangis mereka yang dipersembahkan untuk kami.”

Rasulullah Saww berkata kepada Sayyidah Fatimah as.:

Pada hari kiamat, engkau akan memberi syafa’at bagi kaum perempuan, dan aku akan memberi syafa’at bagi kaum laki-laki. Dan bagi setiap orang yang menangis atas tragedi Al Husain, kami akan meraih tangannya dan membimbingnya ke surga.”

Pada suatu hari, Imam Sajjad as dengan langkah lunglai memeriksa hewan-hewan yang akan dikorbankan di hari idul adha, diiringi dengan linangan airmata, beliau berkata:”Berilah minum ternak2 kalian sebelum di sembelih. Sungguh ayahku disembelih dalam keadaan kehausan.”

Imam Ali as. berkata kepada Ibnu Abbas:

Pada suatu waktu, Beliau melewati padang Karbala, Nabi Isa as. duduk dan mulai menangis. Para pengikutnya yang melihat Isa menangis, turut pula menangis, tapi mereka tidak mengetahui alasan mereka menangis. Mereka pun bertanya, Wahai Ruhullah! Apa gerangan yang membuat engkau menangis? Isa as. berkata: “ Tidakkah kalian tahu tanah apa ini? Para pengikutnya menjawab: Tidak. Lalu Beliau berkata: Ini adalah tanah tempat putra Muhammad Saww akan terbunuh.”

Imam Ja’far as berkata:

Kami, Para Ahlulbayt, Rasul, Imam Ali, dan nenekku Fatimah as akan menghadiri setiap majlis yang diadakan untuk al-Husain as.”

Ketika Zainab dilahirkan, Rasul menggendongnya dan mencium telapak tangan mungilnya sambil mencucurkan airmata seraya Bersabda: “Barangsiapa yang menangisi bayi ini, maka Allah akan menenangkan hatinya dihari kiamat nanti.”

Janganlah engkau menangisiku Wahai anakku Husain. Aku hanya dipukul satu kali oleh pedang sedangkan engkau akan dipukul ratusan pedang.” Imam Ali as

Suasana mencekam di kota Madinatur Rasul karena ancaman Yazid atas nyawa Husain menyebabkan Husain berpikir untuk pergi ke kota Makkah. Sebelum pergi, Husain as. berkunjung ke pusara datuknya di tengah malam gulita, sambil berkata:

Assalamu ‘alika ya Rasulullah! Anal Husain ibnu Fathimah.

Salam Sejahtera kepadamu wahai Rasulullah Aku adalah Husain putranya Fatimah. Aku adalah anakmu dan anak dari putrimu. Aku adalah cucumu yang kautinggalkan kepada umatmu. Saksikanlah wahai Nabi Allah bahwa mereka telah menghinaku dan mengabaikan hak-hakku serta tidak memeliharaku. Inilah keluhanku kepadamu hingga kelak aku berjumpa denganmu…”

Kemudian Husain berdiri shalat, ruku’ dan sujud sepanjang malamnya di samping pusara kekasihnya Rasulullah saw. Usai shalat Husain berdoa:

Allahumma! Inna hadza qabru nabiyyika Muhammad… Ya Allah! Ini adalah pusara Nabi-Mu Muhammad, sementara aku adalah putra dari putrinya Muhammad. Engkau maha tahu derita yang apa kini datang kepadaku. Allahumma ya Allah! Sungguh aku cinta pada yang ma’ruf dan benci pada yang munkar. Aku bermohon kepada-Mu ya Dzal Jalali wal Ikram, demi pusaran ini dan demi penghuninya, agar Kau pilihan untukku sesuatu yang di dalamnya Kau ridha padaku.

Menjelang subuh, Husain kemudian meletakkan kepalanya ke pusara datuknya. Di sana kemudian ia sejenak tertidur. Dalam tidur ia melihat datuknya datang dengan serombongan malaikat kepadanya. Dipeluknya Husain erat-erat ke dadanya. Diciumnya antara kedua matanya. Kemudian Nabi berkata, “Wahai putraku Husain! Sepertinya sebentar lagi kau akan terbunuh dan tersembelih di sebuah tempat dan bumi Karbun wa Bala’. Di sana kau dikepung oleh sekumpulan orang dari umatku, dalam keadaan kau haus dan tidak diberi air minum. Tapi mereka masih mengharapkan syafaatku di hari kiamat. Demi Allah, kelak aku tidak akan memberi mereka syafaat di hari kiamat…

Setelah kunjungan terakhir ke pusara Rasulullah saw., Husain kemudian berangkat ke kota Makkah bersama seluruh anggota keluarganya. Syekh Mufid meriwayatkan, di saat Husain meninggalkan kota Madinah. Husain tiba di kota Makkah pada tanggal 3 Sya’ban tahun 60 H. Di sana beliau dan keluarganya menetap sepanjang bulan Sya’ban, Ramadhan, Syawal dan Dzulkaidah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s