Detik Melawan Godaan Setan

Hari itu, setelah Allah meniupkan ruh ke tubuh Adam, sebuah kemuliaan besar dianugerahkan kepada makhluk yang diberi nama manusia ini. Saat itulah api kedengkian membakar hati Iblis yang merasa diri lebih mulia dari Adam. Iblis enggan memenuhi perintah Allah untuk bersujud kepada Adam. Sejak itulah, Iblis dikutuk oleh Allah dan dijauhkan dari rahmat-Nya.

Ketika menerima keputusan dari Allah itu, Iblis yang merupakan pimpinan kelompok setan mengatakan bahwa dia dan pasukannya akan menggoda Adam dan anak cucunya agar berpaling dari kebenaran, supaya manusia tidak berhasil mencapai puncak kesempurnaan yang dipersiapkan untuknya. Peristiwa itu adalah ikrar perang setan dan manusia. Perang ini akan terus berlangsung hingga Hari Kiamat.

Setan selalu menggoda dengan memanfaatkan titik-titik kelemahan manusia. Satu hal yang menarik untuk diperhatikan adalah untuk memalingkan manusia dari kebenaran, setan hanya bisa menggoda. Tidak ada paksaan dan tekanan terhadap manusia dari makhluk terkutuk. Jika ada yang mengikuti setan berarti orang itulah yang lemah. Al-Quran menyebutkan bahwa setan hanya bisa menggoda orang-orang yang lemah imannya sehingga ia menuruti kehendak setan yang mengajaknya ke arah dosa dan mengajari untuk menjustifikasi perbuatannya.

Dalam surah al-Nahl ayat 99 dan 100 Allah Swt berfirman yang artinya, “Sesungguhnya setan tidak bisa menguasai orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan mereka. Kekuasaan setan hanya ada pada mereka yang memilih untuk patuh kepadanya dan mereka menyekutukan Tuhannya.”

Hanya mereka yang memiliki keimanan kuat dan berserah diri kepada Allah akan selamat dari godaan dan bisikan setan. Godaan setan biasanya terjadi secara bertahap, dan sering tidak disadari oleh manusia. Akan tetapi dengan ketakwaan dan keimanan kepada Allah, seseorang bisa lepas dari jeratan bisikan dan godaan setan. Keimanan dan ketakwaan sejalan dengan fitrah dan ruh manusia, sehingga ketika masuk ke dalam hati akan memberikan energi dan kekuatan kepadanya. Berbeda halnya dengan bisikan setan yang asing bagi fitrah manusia. Ketika berhadapan dengan bisikan tersebut, orang akan merasa tidak nyaman dan gelisah.

Untuk menghadapi musuh besar ini, diperlukan ajaran agama yang memberikan kekuatan dan pengetahuan kepada manusia akan hakikat sebenarnya Iblis dan balatentaranya. Puasa yang merupakan salah satu kewajiban yang dititahkan oleh agama, disebut oleh Rasulullah Saw sebagai ibadah yang menjauhkan setan dan kesempatan untuk menguatkan keimanannya.

Suatu hari Rasulullah Saw bersabda, “Maukah kalian aku tunjukkan kepada satu hal yang jika kalian lakukan setan akan menjauh dari kalian sejauh jarak antara barat dan timur?

Para sahabat menjawab, “Iya, wahai Rasulullah.

Beliau bersabda lagi, “Berpuasalah. Sebab puasa akan membuat setan sengsara.”

Kesempatan dan fasilitas kehidupan yang diciptakan oleh Allah untuk kita sangat banyak. Akan tetapi seseorang yang mendapatkan anugerah sebuah kenikmatan jangan sampai beranggapan bahwa kenikmatan itu akan selalu ada. Sampai kapan kenikmatan itu ada di tangan kita, hal itu sangat bergantung pada perbuatan kita sendiri. Baik Nabi Saw maupun para Imam as, mengingatkan kita untuk tidak menjauhkan kenikmatan dari diri kita karena kurang bersyukur.

Imam Ali as dalam sebuah riwayat mengatakan,

Hak minimal yang harus engkau lakukan terhadap kenikmatan Allah adalah dengan tidak menggunakannya untuk bermaksiat kepada-Nya.

Jelas bahwa kelalaian dalam menjalankan perintah agama adalah salah satu faktor hilangnya kenikmatan Ilahi.

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa suatu hari Nabi Daud as memohon kepada Allah Swt untuk memperlihatkan kepadanya orang yang bakal menjadi sahabatnya di surga kelak. Mendadak Daud mendengar seruan bahwa engkau akan melihat orang itu besok di luar pintu kota. Esok harinya, Nabi Daud as bergegak keluar dari kota. Di sana beliau bertemu dengan Matta, ayah Nabi Yunus as. Matta saat itu sedang memanggul kayu bakar untuk dijual. Sejenak Nabi Daud as bercakap-cakap dengannya dan ikut bersamanya.

Tak lama seseorang muncul dan membeli kayu bakar tersebut. Uang hasil penjualan kayu bakar digunakan oleh Matta untuk membeli gandum. Dengan gandum itu ia membuat roti untuk dimakan berdua dengan Nabi Daud as. Ketika sedang menyantap roti itu, Daud as melihat Matta menengadahkan tangan ke atas dan berkata, “Tuhanku! Kayu bakar yang aku tebang berasal dari pohon yang Engkau tumbuhkan. Engkau yang telah memberiku kekuatan untuk menebangnya. Engkau memberiku kekuatan untuk memanggulnya, lalu engkau kirim orang kepadaku untuk membelinya. Tuhanku! Engkau pulalah yang menciptakan gandum dan memberiku kekuatan untuk memanfaatkan nikmat-Mu.”

Ketika mengucapkan kata-kata itu, terlihat air mata membasahi pipi ayah Nabi Yunus itu. Daud as yang menyaksikan pemandangan itu melirik kepada putranya Sulaiman dan berkata, “Beginilah orang bersyukur kepada Tuhannya sehingga ia berhak mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.

Cara pandang orang kepada kehidupan sangat berpengaruh pada perilaku dan perangainya. Orang yang beriman umumnya memandang kehidupan dengan pandangan yang positif. Sebab ia meyakini bahwa dunia ini diciptakan oleh Allah, Tuhan yang Maha Esa, dan Dialah yang mengelola alam ini. Dia adalah pemilik kekuatan yang sebenarnya dan Dia pula Tuhan yang Maha Penyayang. Dengan kemurahan dan kebijaksanaanNya, Dia menunjukkan jalan yang lurus kepada hambaNya. Jika sang hamba mengikuti petunjuk maka ia akan berbahagia. Orang Mukmin yang melangkah di jalan ini dan beramal saleh, tentunya akan percaya pada bantuan Allah. Orang yang seperti ini tidak mungkin akan berbuat zalim terhadap orang lain, meskipun ia kuat dan berkuasa. Ia akan mengabulkan permintaan hamba-hamba Allah dan dekat dengan mereka. Orang dengan jiwa seperti ini akan memiliki sifat penyayang dan pemaaf.

Dengan memandang positif kehidupan dan dengan bekal keimanan kepada Allah secara murni, seseorang akan memperoleh ilmu dan pengetahuan tentang Allah. Ia tidak memandang dunia sebagai sebuah fenomena kosong yang tak berarti. Tetapi sebaliknya, dunia di matanya adalah sebuah arena untuk berkarya dan bekerja keras. Ia meyakini bahwa dalam setiap hal Allah selalu melihat dan mengawasi setiap gerak geriknya.

Dengan keyakinan seperti ini ia akan merasa tenang dan jiwanya tenteram. Sebab ia tidak merasa sendirian dalam kondisi sesulit apapun. Ia merasa bahwa Allah selalu bersamanya. Hal itulah yang memberinya ketenteraman hati. William james, psikolog kenamaan Amerika mengatakan, “Keimanan adalah sebuah kekuatan yang harus ada untuk membantu manusia mengarungi kehidupan ini. Tidak adanya keimanan adalah bahaya yang bisa membuat manusia lemah dan gagal dalam menghadapi kesulitan.”

Sumber: Detik-Detik Kesucian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s