Agama dan Mazhab [Bag. II]

“Intepretasi Meta-Teks Rasional”

Teks-teks suci agama merupakan rujukan primer bagi penganutnya untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh Tuhan. Keinginan-keinginan Tuhan yang tersembunyi menjadi nyata via teks-teks tersebut. Di sisi lain, kapasitas dan kadar pembacanya memiliki gradasi beragam. Keberagaman itulah yang menciptakan keragaman interpretasi dan penafsiran.

Bahkan lebih jauh lagi, para pembaca teks-teks suci dalam menguasai alat-alat atau pun media-media yang digunakan untuk membaca teks juga beragam. Selain itu, background pengetahuan mereka pun juga beranekaragam.

Mengamati persoalan “aneka-ragam” kondisi para pembaca teks-teks suci tersebut, mau tidak mau, suka tidak suka, berkonsekuensi pada keberagaman interpretasi dan panafsiran atas teks-teks tersebut. Oleh karena itu, menerima ikhtilāf (baca: perbedaan atau keanekaragaman) suatu keniscayaan yang tidak bisa terbantahkan.

Meta-teks Rasional

Terdapat banyak teks-teks suci mewartakan tentang sesuatu yang non-material dan tidak terjamah oleh kemampuan indera manusia, semisal Tuhan, surga, neraka, hari pembalasan, malaikat, keabadian dan lain-lainnya. Teks-teks suci, sebagai contoh Alquran dan Sunnah, menjelaskan dengan memaparkan contoh-contoh yang dapat menjadi batu loncatan agar nalar pembaca mampu melewati teks-teks tersebut. Selain itu juga, contoh-contoh tersebut diperuntukkan bagi person-person yang tidak atau belum mampu melewati teks.

Semisal, sering ditemukan teks yang menggambarkan tentang keindahan surga dengan “Surga (kebun-kebun) yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya“. (At-Taubah, ayat 72). Atau pun ayat “Perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Tuhan mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya.” (Surah Muhammad, ayat 15).

Namun, di sisi lainnya, terdapat sebuah riwayat menyatakan “Aku persiapkan untuk hamba-hambaKu yang salih sesuatu yang satu mata pun tidak pernah melihat, tidak satu pendengaran pun mendengar dan tidak pernah melintas di benak satu manusia pun.” (H.R Bukhari)

Mengamati dua jenis teks di atas, memberikan gambaran kepada kita bahwa teks-teks yang menjelaskan keindah surga merupakan percontohan atas kenikmatan-kenikmatan yang dapat dijangkau oleh daya imaginasi manusia, berpijak pada potong-potongan realitas dari sungai, khamr, susu dan air yang terhubung dengan indera mereka. Sedangkan jenis teks kedua adalah semacam pendelegasian nalar untuk melepaskan diri dari area indera.

Jika kita menelusuri teks-teks suci secara teliti akan kita temukan dua jenis teks seperti di atas, semisal hal-hal yang terkait dengan ketuhanan, keabadian, kebahagian dan kesengsaraan yang kekal, malaikat, ruh dan sejenisnya. Maka, tidak heran terdapat banyak jenis interpretasi dan tafsir terhadap teks-teks secara filosofis, yang disebut dengan “meta-teks rasional“. Interpretasi filosofis tersebut dapat ditemukan dalam “Tafsī al-Qurān al-Karīm” karya Molla Sadrā, “al-Mizān fi Tafsīr al-Qurān” karya Allamah Thabathabai, “al-Tafsīr al-Kabīr” karya Fakhruddin ar-Razi dan lain-lainnya.

Sumber: Habib Resi Waras

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s