Esensi Idul Adha dan Imam Husein as

imamhussain

Menjelang Iedul Adha, kaum muslimin berbondong-bondong menyambutnya dengan sambutan meriah, namun dibalik itu semua, Eidul Adha memiliki rahasia dan filosofis yang harus dikaji lebih dalam.

Allah Swt berfirman,

Dan Kami tebus Hamba Shaleh itu dengan sembelihan yang agung.”

Beberapa ahli tafsir, menafsirkan ayat diatas dengan kambing atau domba. Namun ada beberapa kejanggalan didalamnya, yaitu Allah swt memakai kata “Adhim” yang bermakna besar dan agung. Padahal Allah Swt mensifati “DUNIA” beserta isinya termasuk didalamnya: kambing, domba, gugusan bintang dan hal-hal bersifat kemateri-an lainnya dengan “Qalil” yaitu kecil, kerdil dan mini.

Allah Swt berfirman surat Al-Imran ayat 197 :

Itu (Dunia) hanyalah kesenangan “Kecil” (sementara), kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.

Allah Swt berfirman surat Al-Nisa ayat 77:

“Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.”

Allah swt berfirman Surat Al-Taubah ayat 38:

Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah kecil

Logika Al-Quran mengatakan bahwa Dunia dengan segala isinya adalah kenikmatan kecil lalu bagaimana dengan kedudukan kambing, Domba dan sejenisnya?!

Untuk itu tidak sepadan jika tafsiran “tebusan agung” adalah kambing yang esensinya lebih kecil dari alam semesta. Bahkan Manusia lebih mulia dari dunia beserta isinya, karena Allah Swt menciptakan dunia beserta isinya untuk Manusia semata; Agar manusia sampai kepada tujuan peciptaan.

Kemudian aktor yang mengatakan ”Tebusan Agung “ disini adalah Allah swt sendiri. Artinya, Allah swt menyifati dunia dengan kecil lalu menyifati kambing dengan “Agung.” Jelas terjadi kontradiksi disini. Jika ahli tafsir menafsirkan “tebusan agung” itu dengan kambing, maka mereka harus menerima kontradiksi antara dunia yang “kecil” dan kambing sebagai ekstensi dan bagian dari dunia sebagai sesuatu yang “Agung?!”

Tebusan Agung itu adalah Imam Husein as

Mulla Faidh Kasyani dalam tafsir Shafi, Allamah Al-Bahrani dalam tafsir al-Burhan, Huwaizi dalam nur tsaqalain dan Allamah majlisi didalam kitab Bihar al-anwar meriwayatkan dari Imam Ridha sebuah Hadist yang panjang menjelaskan Kronologis sesungguhnya dari penyembelihan Ismail oleh Ibrahim as.

Sebelum Allah Swt mengirim seekor kambing kepada Ibrahim as, Kekasih Allah Swt tersebut berharap benar-benar menyembelih putranya, sehingga mendapatkan pahala Ahli musibah dan dinaikan derajatnya oleh Allah swt.

Allah Swt bertanya kepada Ibrahim, “Wahai Ibrahim! Dari seluruh makhluk ciptaan-Ku, siapa yang engkau cintai? Ibrahim menjawab, Kekasihmu Muhammad saww makhluk yang paling aku cintai.”

Allah swt bertanya, “Engkau lebih mencintai siapa, dirimu atau Kekasihku Muhammad saww? Ibrahim as menjawab, Tentu saja aku lebih mencintai Muhammad saww, ketimbang diriku.”
Allah Swt kembali bertanya, “Anaknya lebih engkau cintai, ataukah anakmu? Ibrahim menjawab, Anaknya lebih aku cintai dari anaku.”

Allah Swt kembali bertanya, “Putranya terbunuh ditangan Musuh dengan disembelih lebih menyakitkan hatimu, ataukah kematian putramu disembelih oleh musuh-musuhnya?”
Ibrahim as menangis seraya menjawab,” Kematian Putranya ditangan Musuhnya dengan disembelih lebih menyakitkan hatiku.”

Allah Swt dengan lantang berkata, “Wahai Ibrahim, Sesungguhnya kelak Al-Husein putra kekasihku Muhammad saww akan disembelih oleh kaum yang mengaku umat dari Muhammad. “

Setelah itu Allah swt berfirman,

Dan Kami tebus Hamba Shaleh itu dengan sembelihan yang agung.”

Ibrahim pun ketika mendengar itu tidak kuasa menahan tangisan dan meratap Wa Huseinah.

(Khisal Syeikh Shaduq juz.1 hal.58-89/Kanzul Daqaiq, Muhammad Ridha Qummi juz.11 hal.171-172/ Khishol Juz.1 Hal.30)

Telaah sanad dan penjelasan Hadist diatas

1. Hadist diatas dari sisi sanad tidak memiliki masalah (cacat), perawinya tergolong terpecaya seperti: Abdul Wahid ibn Muhammad Ibn Abdul Naisyaburi (Ustadz dari Syeikh Shaduq ), Ali ibn Muhammad Qutaibah Naisyaburi (Sahabat Imam Ridha as), Fadhl Bin Syadzan (Sahabat Para Imam Maksum). Mereka semua tidak memiliki kecacatan sama sekali. (Thabaqat A’lamu Syia juz.1 hal.205)

2. Sepanjang sejarah kemanusiaan, sembelihan paling agung hanyalah Imam Husein as Putra dari Rasulullah saww, Ali as dan Sayidah Fatimah as, penghulu pemuda surga, ketika kecilnya ditimang oleh jibril as.

Sejarah mencatat, ketika Imam Sajjad datang ketempat penyembelihan binatang kurban, beliau selalu mengulang-ulang kepada tukang jagal, sebelum disembelih, untuk memberikan air minum kepada hewan kurban tesebut.
Seraya menangis, “Ayahku Al-Husein as disembelih didepanku, didepan mataku dalam keadaan haus. Perlakukan mereka dengan baik, karena ayahku diperlakukan lebih buruk dari hewan ternak.”


Sumber: Ust. Abu Syirin Al Hasan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s