Mengenal Lebih Dalam Muhammad Eksistensial (Wujudi)

mohammad_pbuh_by_ostadreza-d6x1q5j

Allah Swt berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 30:

Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi“.

Rasulullah saww bersabda,

Dunia ini tidak akan pernah kosong dari seorang Hujjah

Allah Swt sebagai puncak kesempurnaan ketika menciptakan membutuhkan perantara. Bukan karena ia tidak mampu, melainkan ciptaannya tidak mampu menerima kebesaran wujud Allah swt.

Allah Swt sebagai kesempurnaan mutlak dan wujud nirbatas tidak memiliki esensi. karena jika memiliki esensi, (Mahiyah) maka ia terbatas.

Untuk menciptakan ciptaan yang ber-esensi, maka Allah swt harus menciptakan perantara pertama sebagai penghubung antara Allah swt dan ciptaannya.

Kenapa Allah swt sendiri saja secara langsung menciptakan gunung, laut, langit dan lain sebagainya dari ciptaan?
Karena Allah swt adalah wujud mutlak tak ber-esensi. Esensi adalah batasan. ketika Allah swt ber-esensi , maka ia memiliki batasan sehingga keluar dari kemutlakannya.

Untuk menciptakan ciptaan, maka Allah swt menciptakan perantara sehingga mampu mengalirkan kesempurnaannya melewati perantara tersebut dalam menciptakan segala ciptaan.

Perantara tersebut dalam Filsafat dan Irfan di Istilahi dengan Nur Muhammadi, hakikah Muhammadiyah, Akal pertama, Nurul Aqrab atau Insan Kamil.

Nur Muhammadi diciptakan sebagai perantara pertama antara Allah swt dan ciptaannya, sehingga tanpanya maka ciptaan tidak akan pernah ada.

Wujud Mutlak nirbatas menciptakan Akal pertama yaitu Nur Muhamadi. Akal pertama karena ia akibat, maka terangkap dari dua rangkapan minimalnya, yaitu wujud (eksistensi) dan mahiyah. (esensi)

Karena ia terdiri dari wujud dan Mahiyah, (esensi) maka mampu menciptakan segala hal yang ber-esensi setelahnya. Baik itu dimulai dari alam tertinggi (Akal) sampai Alam terendah (Materi).

Mudahnya, Allah swt sebagai wujud mutlak yang tidak ber-esensi, (karena jika ber-esensi akan keluar dari kemutlakannya) membutuhkan perantara yang ber-esensi, sehingga mampu menciptakan segala yang ber-esensi melewati perantara ciptaan pertama tadi sebagai manifestasi segala hal yang ber-esensi.

Dalam literatur Agama Islam Rasulullah saww sendiri berkata kepada sahabatnya Jabir,

Wahai Jabir, makhluk pertama yang Allah Swt ciptakan adalah Cahaya Nabimu.

Disinilah makna Shalawat akan menjadi sangat dalam. karena segala hal baik itu berkaitan dengan alam materi atau non materi, akan kembali kepada sang perantara pertama.

Ketika kita bershalawat, maka kita sedang meminta izin kepada pemilik segala esensi yaitu Rasulullah saww dan Ahlulbaytnya.

Allah Swt, Malaikat dan seluruh makhluk bershalawat kepada Rasulullah saww tidak tanpa alasan, melainkan beliau dan ahlul baytnya adalah perantara pertama segala peciptaan.

Tanpa Mereka mustahil bagi Allah swt memanifestasikan kehidupan,kedermawanan, kekuatan, keindahan dan seluruh kesempurnaanNya.

Sekali lagi bukan karena Allah Swt tidak mampu, melainkan ciptaanNya (Ber-esensi) tidak mungkin mendapatkan sentuhan langsung dari Wujud mutlak yang tidak ber-esensi.

Untuk itu ketika kita bershalawat kepada mereka terutama ketika Shalat, kita sedang melewati pintu ke-maha-an Allah Swt yang sebenarnya.

Ruh segala ciptaan adalah khalifatullah. Sebagaimana badan kita untuk bergerak membutuhkan ruh, begitupula alam materi dan alam-alam lain yang lebih tinggi membutuhkan ruh.

Ibn arabi mengatakan,

Ibn Arabi di dalam Fushusul Hikam menjelaskan bahwa Alam materi, Alam Mitsal, Alam Malakut dan Alam Jabarut semuanya membutuhkan Insan Kamil untuk menjadi ada.

Bukan saja untuk menjadi ada, bahkan merekalah yang memiliki kuasa mutlak dari sang maha mutlak untuk mengatur seluruh alam.

Ketika Allah swt memerintahkan Para Malaikat dan Iblis untuk sujud kepada Adam, bukan karena Adam sebagai adam (Adimul Ardh) yang tercipta dari tanah, melainkan sebagai manifestasi insan kamil, yaitu Hujjah Allah swt.

Begitu pula ketika Adam as berbuat salah langsung bertawasul kepada Akal Pertama, Nur Muhammadi.

Tidak heran para Ulama menafsirkan surat Al-Qadr bahwa turunnya seluruh Malaikat dan Ruh agung adalah untuk menyerahkan segala urusan kepada Insan kamil.

Tanpa Hujjah/Insan Kamil/Imam/Khalifah maka alam ini seperti Jasad tanpa ruh. Hikmah Allah swt mengharuskan alam ini harus selalu ada Hujjah, sebagai perantara antara makhluk dengan Sang Nirbatas.

Masihkah kita tidak merayakan kelahirannya?!


Sumber: Ust. Abu Syirin Al Hasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s