Air Mata Sang Pecinta

5767f046a7192389163588

Al-Imam Ali Zainal Abidin as berkata,

Seorang mukmin yang menangis hingga air matanya membasahi kedua pipinya dikarenakan dibunuhnya al-Husain, maka Allah akan memberinya kamar-kamar di surga yang dia tinggal disana selama-lamanya” (Tsawab al-A’mal, hal. 108)

Mungkin kita sering menangis dalam menjalani kehidupan kita ini. Ada kalanya kesusahan menimpa kita, derita menghampiri kita, penyakit menyerang keluarga kita, atau kita ditinggal wafat oleh orang-orang yang kita cintai. Semua itu membuat kita bersedih dan menangis. Bahkan tak jarang kita dengar orang-orang berkata bahwa tangisan adalah senjata manusia, terutama wanita.

Tangisan dan air mata adalah sama saja dalam setiap peristiwa. Air mata yang kita teteskan karena sakit yang menimpa, sama dengan air mata yang kita alirkan karena ditinggal wafat keluarga kita. Begitu pula tidak ada bedanya air mata yang keluar ketika menangisi Imam Husain as. Semua adalah air mata yang sama. Lantas mengapa air mata untuk Imam Husain as begitu tingginya nilainya di sisi Allah SWT, sedangkan air mata untuk penyakit kita biasa-biasa saja nilainya? Mengapa air mata untuk Al-Husain diganjar dengan surga? Padahal air matanya itu-itu juga.

Hal ini disebabkan paling tidak karena tiga hal. Pertama, Karena air mata itu kita hubungkan dengan Imam Husain as yang dirinya punya kedudukan agung di sisi Allah SWT. Pada prinsipnya, sesuatu itu bisa bernilai lebih jika dikaitkan dengan sesuatu lain yang punya kelebihan. Cincin besi mungkin hal yang bisa, tapi ketika cincin itu dipakai oleh seorang putri, maka nilainya menjadi luar biasa. Begitulah air mata adalah hal biasa bagi kita, tapi air mata itu punya nilai agung dan mulia ketika dihubungkan dengan wujud yang mulia.

Kedua, suatu tangisan itu timbul berakar dari kecintaan. Dan nilai cinta diukur dari objek cinta. Siapa yang dicintainya maka seperti itulah nilai cintanya. Alquran memerintahkan kita untuk mencintai keluarga Nabi Saw dan cinta itu sebagai upah kepada Nabi saw. Maka mencintai al-Husain adalah bagian dari agama dan termasuk mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dengan begitu, tangisan yang kita persembahkan kepada Al-Husain as adalah berakar dari cinta yang diperintahkan Allah SWT.

Ketiga, Tangisan kepada Al-Husaian adalah tradisi para manusia suci sepanjang sejarah manusia. Tangisan kepada Al-Husain telah dilakukan Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad Saw, dan dilakukan juga Imam Ali as hingga Imam Mahdi afs. Dengan demikian, ketika kita menangis untuk Al-Husain, maka kita sedang menggabungkan diri kita dengan seluruh manusia suci dari sejak para nabi dahulu hingga imam yang suci di masa kini. Dan bergabung bersama para manusia suci tentu adalah keagungan dan kemuliaan.

Ummu Fadhl menceritakan, “Suatu hari aku masuk menemui Rasulullah Saw dan menyerahkan Al-Husain ke pangkuan beliau, maka ketika aku menoleh, aku melihat kedua mata Rasulullah Saw mengucurkan air mata. Aku bertanya, ‘wahai Nabi Allah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusan anda, apa yang terjadi sebenarnya? Nabi pun bersabda, ‘Sesungguhnya Jibril datang menjumpaiku dan mengabarkan bahwa kelak umatku akan membunuh putraku.’ Aku bertanya, ‘Putra Anda ini wahai Rasulullah Saw? Nabi menjawab, ‘Ya! Dan Jibril as pun membawakan untukku segenggam tanah merah tempat terbunuhnya al-Husain, putraku“. (Al-Hakim, al-Mustadrak juz III, hal. 176).

Sebab itu, jika Nabi Adam as, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as, dan para Nabi lainnya menangisi Al-Husain sebelum lahirnya, dan Nabi Muhammad Saw menangisi Al-Husain ketika lahirnya, bahkan dalam banyak kesempatan melihat Al-Husain, Rasulullah Saw selalu mengucurkan air mata, lantas tidakkah layak bagi kita untuk meneteskan air mata untuk Al-Husain? Begitu keraskah hati kita sehingga tidak tersentuh dengan duka al-Husain? Begitu sombongkah mata kita sehingga tak ingin mengalirkan air mata ketika mengetahui pembantaian Al-Husain? Atau apakah kita khawatir karena memandang tangisan itu adalah bid’ah yang terlarang dalam agama?

Jika tangisan itu dianggap bid’ah, maka kita hanya bisa mengatakan, biarlah air mata ini kelak menjadi saksi dan hujjah di hadapan Allah dan Rasul-Nya serta Imam Ali as dan Bunda Fatimah, bahwa kita bersedih untuk Al-Husain karena kecintaan yang tulus kepadanya. Karena itu, di Bulan Muharram ini, kita ingin bergabung bersama kafilah duka suci Sang Nabi untuk menangisi Al-Husain putra Ali. Selamat datang jiwa-jiwa para pecinta, hati-hati yang diliputi duka, dan mata-mata penuh air mata.

Salam atasmu wahai Aba Abdillah!


Sumber: Candiki Repantu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s