Dialog Tentang Pemimpin yang Buruk dan Pengikutnya

unnamed

Masalah Hari Kiamat dan alam akhirat merupakan masalah yang sangat penting sehingga ia banyak disebutkan dalam ayat-ayat al-Quran. Salah satu pembahasan terkait Hari Kiamat adalah pahala orang-orang yang selamat dan siksa orang-orang yang sesat.

Melalui dialog para penghuni neraka dengan sesamanya, kita telah mengenal sebagian faktor yang menjadikan kelompok sesat, seperti pengingkaran mereka terhadap Hari Pembalasan, menyekutukan Allah, teman dan sahabat yang buruk, menumpuk-numpuk harta kekayaan.

Mengikuti pemimpin yang tidak baik dan sombong satu lagi faktor kehancuran manusia dalam pandangan al-Quran. Terkait masalah ini mari kita simak perdebatan para penghuni neraka:

“Dan (ingatlah), ketika mereka berbantah-bantahan dalam neraka, maka orang-orang yang lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: Sesungguhnya kami adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami sebahagian azab api neraka?”

Orang-orang yang menyombongkan diri menjawab: “Sesungguhnya kita semua sama-sama dalam neraka karena sesungguhnya Allah telah menetapkan keputusan antara hamba-hamba-(Nya).” (QS. Ghafir: 47-48)

“(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali.

Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (QS. Baqarah:166-167)

Di dalam kehidupan sosial dan proses gerakan yang ada di dalamnya, masyarakat senantiasa mengikuti sebuah kelompok untuk dijadikan sebagai pemimpin dan panutannya dan melanjutkan jalan mereka. Para pemimpin yang baik dan saleh dengan ilmu dan perencanaannya menerapkan ajaran-ajaran ilahi pada waktunya dan mengarahkan masyarakat menuju kepada jalan yang benar.

Namun sebagian manusia mengikuti para pemimpin yang pada hakikatnya mengikuti hawa nafsu, lebih mengutamakan kemauan dirinya dan tidak menaati perintah Allah. Karena hanya mementingkan kemauan hawa nafsu dan ingin berkuasa, langkah-langkah yang diambilnya selalu dibarengi dengan kezaliman, pelanggaran dan kerusakan. Oleh karenanya, mereka juga mengajak para pengikutnya pada jalan ini.

Antara para pengikut yang lemah dan pemimpin zalim yang sombong dalam lanjutan dialognya, masing-masing berusaha melemparkan dosanya ke pundak yang lainnya.

Kepada para pemimpin yang sombong, para pengikutnya yang lemah berkata, “Kalau saja bukan karena kalian, pasti kami menjadi orang-orang yang beriman.”

Kepada mereka yang dianggap lemah, para pemimpin yang sombong itu berkata, “Kamikah yang menghalangi kamu dari petunjuk setelah petunjuk itu datang kepadamu? Tidak. Sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa.

Orang-orang yang lemah berkata, “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya.” (QS. Saba: 31-33)

Orang-orang yang sombong berkata, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), kalau memang kami kembali (juga kepada kekafiran), sungguh kami adalah orang-orang yang zalim.” (QS. Mukminun: 107)

Allah berfirman, “(Kalian lupa), kalau sekelompok dari hamba-hamba-Ku berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat Yang Paling Baik.

Lalu kamu menjadikan mereka bahan ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, membuat kamu lupa mengingat Aku, dan kamu selalu mentertawakan mereka.

Sesungguhnya Aku memberi balasan kepada mereka di hari ini, karena kesabaran mereka; sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang menang.” (QS. Mukminun: 109-111)

Ketika pemimpin kekufuran masuk ke dalam neraka, maka para pengikutnya juga masuk neraka. Pada saat itu kepada para pemimpin itu dikatakan:

“Ini adalah rombongan (pengikut-pengikutmu) yang masuk berdesak-desak bersama kamu (ke neraka)”. (Berkata pemimpin-pemimpin mereka yang durhaka): “Tiadalah ucapan selamat datang kepada mereka karena sesungguhnya mereka akan masuk neraka.

Pengikut-pengikut mereka menjawab: “Sebenarnya kamulah. Tiada ucapan selamat datang bagimu, karena kamulah yang menjerumuskan kami ke dalam azab, maka amat buruklah Jahannam itu sebagai tempat menetap.

Mereka berkata (lagi): “Ya Tuhan kami; barang siapa yang menjerumuskan kami ke dalam azab ini maka tambahkanlah azab kepadanya dengan berlipat ganda di dalam neraka.” (QS. Shad: 59-61)

Terkait jalan dan kunci yang membuat seseorang selamat dari api neraka dan berkumpul dengan orang-orang yang selamat, al-Quran menjelaskannya dalam surat Hud ayat 113, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.”

Dengan demikian menaati Allah dan berada di jalan-Nya adalah satu-satunya jalan agar selamat dari api neraka.


Sumber: Tadarus Ramadhan 1433 Hq: Bab Dialog dalam Al-Quran

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s