Hak Puasa

111312-ONYAMH-504

Setelah menjelaskan hak shalat, Imam Ali Sajjad as membahas tentang hak puasa. Sebab, puasa adalah ibadah yang punya pengaruh besar jasmani dan rohani. Puasa juga sarat dengan pesan-pesan penting pendidikan, sosial dan kesehatan. Islam mewajibkan puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan setiap tahunnya. Puasa dilakukan pada waktu yang jelas yakni antara terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Selama menjalankan puasa orang dilarang makan, minum dan melakukan hal-hal yang dapat membatalkan ibadah ini.

Salah satu pelajaran utama yang didapatkan dari puasa adalah kesetaraan umat. Artinya, dengan menahan lapar dan dahaga orang -sekaya apapun dia- akan merasakan derita kaum fakir. Dengan merasakan lapar dan dahaga, hati akan menjadi luluh dan rasa kemanusiaan akan tergugah. Imam Jakfar Shadiq as berkata, “Puasa diwajibkan dalam Islam supaya orang mampu dan orang miskin bisa setara.”

Puasa menguatkan tekad dan kemauan serta mengontrol nafsu. Bisa dikatakan bahwa tujuan utama dari diwajibkannya puasa adalah supaya orang bisa mengendalikan diri dan hawa nafsunya. Hawa nafsu adalah dorongan alamiah yang ada dalam diri setiap manusia. Dorongan itu harus dipenuhi namun dalam batas yang logis dan benar. Hawa nafsu harus dikendalikan supaya orang tidak terseret kepada sikap dan tindakan ekstrim dalam menuruti atau meredamnya. Semakin kuat orang dalam mengendalikan dorongan hawa nafsu, maka semakin kuat pula kepribadiannya. Sebaliknya, semakin orang tunduk kepada hawa nafsu, maka semakin lemahlah kepribadiannya.

Orang yang tak pernah punya masalah pengadaan air minum, makanan dan apa saja yang diperlukannya, akan sulit beradaptasi dengan goncangan dan penderitaan seperti rasa lapar dan dahaga. Orang seperti itu mirip dengan pohon yang tumbuh di tempat yang teduh dan sejuk di tepi aliran sungai. Tumbuhan ini tak punya kekuatan dan mudah layu. Sejenak saja tidak mendapat siraman air, tumbuhan ini layu dan tak mustahil akan mati kekeringan. Beda halnya dengan tanaman yang tumbuh di atas batu yang keras, selalu diombang-ambingkan oleh angin kencang yang bertiup di lereng pegunungan dan langsung diterpa panas dan dingin. Tumbuhan jenis ini sangat kokoh dan tidak mudah layu. Puasa adalah ibadah yang membatasi insan muslim dari beberapa perbuatan yang sebenarnya halal baginya. Hal itu akan sangat berpengaruh untuk memperkuat daya tahan manusia serta membuat jiwanya semakin tercerahkan oleh cahaya dan kesucian.

Dari sisi lain, puasa punya banyak manfaat kesehatan. Jarang ada dokter yang tidak menekankan soal faedah menahan diri dari makan dalam mencegah dan mengobati berbagai penyakit. Nabi Saw dalam sebuah ungkapan singkat bersabda, “Berpuasalah niscaya kalian tetap sehat.” Puasa membakar kalori dan kelebihan lemak di badan sekaligus memberikan kesempatan bagi organ pencernaan untuk beristirahat. Organ pencernaan ini perlu diistirahatkan setelah bekerja secara kontinyu sepanjang tahun. Pengistirahatan organ pencernaan dan lambung untuk sementara waktu akan menyehatkan kondisi umum badan.

Puasa yang dilakukan dengan niat ikhlas untuk menjalankan perintah Allah Swt akan
membersihkan jiwa dan menjauhkan orang dari riya’ dan kemunafikan. Imam Sajjad as dalam kaitan ini berkata, “Ketahuilah bahwa puasa adalah tabir yang dijulurkan oleh Allah untuk menutupi lisan, telinga, mata, aurat dan perutmu supaya kamu terselamatkan dari sengatan api azab. Dalam sebuah hadis nabawi disebutkan bahwa puasa adalah tameng dari api negara. Karenanya, jika anggota tubuhmu tenang di balik tabir itu maka optimislah bahwa engkau akan mendapat perlindungan. Tapi jika engkau melepaskan kendali dan membiarkan organ-organ tubuhmu terus memberontak mengoyak tabir Ilahi dan melanggar batas-batas yang telah Allah tentukan, maka jangan merasa aman dari balasan terkoyaknya tabir Ilahi.

Dalam ungkapan tadi, Imam Ali Zainal Abidin as menerangkan hak puasa yang sebenarnya. Imam mengatakan bahwa puasa bukan hanya menghindari makan dan minum. Bentuk lahiriyah puasa memang meninggalkan makan dan minum, tapi yang lebih penting dari itu adalah bentuk batinnya. Menurut Imam Sajjad, orang yang berpuasa hendaknya tidak mencukupkan diri dengan menghindari makan dan minum tapi lebih dari itu, ia juga harus menjaga mata, lisan, telinga, dan hati dari perbuatan dosa. Artinya, orang yang berpuasa jangan sampai menggunakan lidahnya untuk berkata yang tidak benar, menggunjing atau melontarkan tuduhan terhadap orang lain.
Telinga juga jangan sampai digunakan untuk mendengar suara-suara yang mengandung dosa. Demikian pula organ-organ tubuh yang lain.

Allah Swt telah menjadikan puasa sebagai tameng pelindung dari api neraka. Tentunya, puasa yang demikian adalah puasa yang dijalankan dengan benar dan ikhlas demi ketaatan kepada Allah. Dusta, ghibah, menuduh, dan mengikuti syahwat dapat menjauhkan orang dari makna puasa yang sebenarnya. Sebaliknya, jiwa dan ruh seseorang akan semakin sempurna jika ia mengekang hawa nafsu. Saat itulah orang akan kian mendekat kepada Allah. Inilah yang dalam terminologi agama disebut dengan istilah takwa. Puasa adalah ibadah yang mendatangkan ketakwaan. Allah Swt berfirman,

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana  diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.


Sumber: Risalah Huquq Imam Ali as-Sajjad as | DOWNLOAD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s