Memahami Ramadhan

ramadan kareem festival greeting design in premium style

Tulisan ini kita mulai dengan mengutip penggalan doa Abu Hamzah Tsumali. Inilah merupakan munajat yang penuh hikmah dan makrifat yang sangat menyegarkan ketika dibaca pada pagi hari.

Segala syukur untuk-Nya. Selain-Nya tiada yang kuseru. Ketika yang lain kuseru mereka tidak menjawab. Syukur untuk-Nya yang menyelesaikan segala urusanku dan kembali aku mulia dihadapan-Nya. Jika aku menyerahkan urusanku pada orang lain, maka aku akan terhina… Segala syukur kepada Tuhan yang telah bersikap sedemikian sabar terhadapku, seolah-olah aku tidak pernah bersalah. Tuhanku, Engkaulah yang terbaik untukku dan paling layak untuk dipuji.”

Terkait efek puasa terhadap jiwa manusia Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang ingin meminimalkan kegundahan hatinya, maka berpuasalah pada bulan Ramadhan dan 3 hari setiap bulan.” Dalam hadis lainnya, Rasulullah bersabda, “Puasa bulan Ramadhan dan 3 hari setiap bulan, menghilangkan kegelisahan hati.

Ungkapan indah ini menunjukkan faedah puasa bagi jiwa dan mental manusia. Beberapa abad lalu dikenal sebagai abad depresi. Bahkan kini, pada abad 21 pun kita menghadapi krisis spiritualitas, kompetisi ekstrim dan berbagai manifestasi menakjubkan kehidupan industri, yang dampaknya semakin memperparah depresi manusia. Perubahan cepat sosial, memudarnya nilai dan tradisi masyarakat, dan yang lebih penting lagi lagi rapuhnya fondasi keyakinan keagamaan, kian meningkatkan kegelisahan dan masalah yang dihadapi umat manusia. Keyakinan religius dan tradisi sosial positif merupakan sebuah variabel yang mendukung manusia menghadapi berbagai masalah destruktif.

Menurut para psikolog, kegelisahan dalam batas tertentu dan nomal memiliki efek positif dan konstruktif bagi seseorang sekaligus menjadi pemicu munculnya rasa tanggung jawab, keseriusan dalam bekerja, serta munculnya mekanisme stimulan psikis dan skill. Dalam hal ini, pada umumnya yang dikhawatirkan manusia saat ini adalah kegelisahan ekstrim yang akan mengurangi kemampuan psikologis dan menimbulkan kegagalan serta berbagai macam gangguan. Berbagai eksperimen menunjukan bahwa orang-orang yang beragama memiliki kemampuan lebih besar dalam menahan tekanan psikologis dan memiliki tingkat kegelisahan yang lebih sedikit dalam hidupnya.

Orang-orang yang beragama memiliki pandangan yang sistematis dan realistis tentang kehidupan dan kematian. Selain itu, di lingkungan religius, mereka mendapat dukungan sosial dan psikologi yang lebih akrab. Atas dasar tersebut, mereka lebih mampu menghadapi berbagai kesulitan hidup. Ajaran-ajaran agama seperti tawakal, menerima takdir ilahi, harapan kepada masa depan dan lain-lain, menjauhkan seseorang dari kegelisahan yang merusak saat ia berada di dua persimpangan atau dalamkeputusan sulit. Oleh karena itu, pengaruh setiap amal ibadah seperti shalat dan puasa, dalam memperkokoh tekad dan meningkatkan kepercayaan diri, menciptakan ketenangan dan kesehatan psikologi individu ini, perlu diperhatikan.

Salah satu penyakit yang dalam ilmu psikologi kontemporer dikategorikan sebagai gangguan kegelisahan adalah rasa waswas berpikir dan bertindak. Dalam kondisi waswas seperti ini, penderita akan selalu terlibat pemikiran yang tidak diinginkan yang bersifat berita dan ia merasa tidak dapat lari darinya. Di samping beberapa metode yang biasa ditempuh untuk mengobatinya, puasa berpengaruh besar dalam pencegahan dan penyebaran penyakit waswas. Puasa merupakan program ibadah yang berdiri di atas poros kehendak manusia. Mengingat esensi puasa adalah pencegahan atas perealisasian sejumlah tuntutan kecenderungan dalam diri manusia, maka puasa secara langsung memperkuat tekad manusia. Berpuasa selain memiliki faedah spiritual dan pendidikan, juga merupakan sebuah terapi psikologi sebulan untuk meningkatkan tekad dan menciptakan perubahan perilaku.

Di sisi lain, berbagai bukti menunjukan bahwa puasa berpengaruh dalam proses penyembuhan stres. Dr. Ayub Malik dalam bukunya berjudul Puasa Islami dan Masalah Kedokteran, menulis, “Ciri-ciri terapi yang ada dalam puasa kaum muslimin, adalah dapat membantu proses pemulihan penderita stres. Salah satu di antaranya adalah perubahan pola tidur dan bangun. Pada bulan Ramadhan, ketika seseorang bangun untuk makan sahur dan melakukan ibadah di waktu sahur, terjadi perubahan pola tidur seseorang sepanjang satu bulan dan hal ini bisa menjadi anti depresi. Penelitian terhadap 1700 pasien menunjukan bahwa perubahan rutinitas terancana seperti tidur, bisa memulihkan stres dari 30 hingga 50%. Meski pengaruhnya bersifat sementara.”

Tentang urgensi suci Ramadhan, filsuf dan mufasir besar Ayatullah Jawadi Amoli mengatakan, “Bulan Ramadhan adalah bulan jamuan Tuhan. Pada bulan ini manusia menjadi tamu Allah Swt. Dalam jamuan tersebut, selain rezeki lahiriah yang dianugerahkan Tuhan, manusia dikaruniai rezeki lain. Salah satu yang terpenting dari hidangan langit yang dianugerahkan Allah kepada manusia adalah pengenalan terhadap al-Quran dan Ahlul Bait as. Menurut Rasul Saw, al-Quran tidak terpisahkan dari itrah, maka di bulan ini kita harus mengambil manfaat dari keduanya. Al-Quran disebut sebagai hablullah atau tali Allah.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa di satu sisi al-Quran berada di tangan Tuhan dan di sisi lain berada di tangan manusia, maka peganglah erat-erat. Ini bukan tali yang akan putus jika ditarik oleh enam atau tujuh milyar manusia. Inilah tali yang sangat kuat, yang memenuhi seluruh keperluan manusia. Barang siapa yang bertanya dan memiliki keperluan, maka alQuran akan menjawabnya. Al-Quran adalah kitab kehidupan. Sebuah ajaran praktis dari Allah Swt bagi pembangunan manusia yang di samping mengatur dan memajukan urusan kehidupan materinya, manusia juga dapat memberikan warna ilahi kepada hal tersebut. Agar manusia membangun kehidupannya berdasarkan fitrah dan keinginan Allah. Al-Quran membimbing kita di jalan yang paling kokoh. Optimalkan kapasitasmu menjadi tamu kitab ini. Untuk itu bacalah dan tingkatkanlah. Jangan kalian menjual diri kalian dengan harga yang murah”.

Bulan Ramadhan senantiasa mengingatkan keikhlasan dan ketulusan niat hamba Allah. Ali bin Abi Thalib as adalah manusia sempurna yang syahid di bulan Ramadhan. Di akhir nasehat kepada putranya, Imam Ali as menyampaikan beberapa poin penting dan penuh makna. Salah satu di antaranya adalah perhatian terhadap al-Quran dan mengamalkan ajarannya. Imam Ali as berkata, “Allah, Allah, tentang al-Quran jangan sampai orang lain mendahului kalian mengamalkan al-Quran.”


Sumber: Detik-Detik Kesucian Ramadhan 1433 H

Download e-Book disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s