Berdzikir

14285d4c700a12559cc5416303a10210abb020dc.jpg

Ketika berada di bulan Ramadhan yang penuh berkah, manusia lebih mengingat Allah dan anugerah rahmat-Nya. Hubungan kedekatan dan keikhlasan ini memberikan penerangan dalam hati. Zikir dan mengingat Allah, sangat diperhatikan dalam ajaran agama. Mengingat Allah tidak dibatasi oleh waktu dan tempat serta kondisi tertentu. Zikir berhubungan dengan seluruh sisi kehidupan manusia. Dalam surat Ali Imran ayat 41 Allah berfirman, “… Ingatlah Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah kepadanya di waktu petang dan pagi hari.”

Dalam surah Thaha ayat 14 Allah berfirman, “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain-Ku maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”

Di ayat 10 surat Jumu’ah, Allah berfirman, “Dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Nabi Musa as berdoa kepada Allah, ‘Tuhanku, apakah Engkau jauh dariku hingga aku harus memanggil-Mu dengan keras ataukah dekat sehingga aku cukup berbisik memanggil-Mu?

Allah menurunkan wahyu, “Aku selalu bersama orang yang mengingatku.

Lalu apa urgensi mengingat Allah? Dan, mengapa Allah menghendaki hamba berhubungan dengan-Nya?

Zikir merupakan hadiah bernilai dari Allah Swt yang diturunkan melalui perantara Rasul-Nya kepada umat manusia. Zikir bermakna mengingat Allah. Selain itu, zikir dapat menyadarkan manusia. Hamba yang shalih adalah orang yang mengerahkan seluruh upaya individu dan sosialnya bahkan waktu luangnya untuk bercengkarama dengan Tuhan. Hal seperti ini, membuat orang berjalan seirama dengan alam. Maka, kehidupan dengan segala pahit manisnya akan nampak indah dan bermakna baginya.

Bisa dikatakan bahwa mengingat Allah tidak hanya dengan menyebut nama-Nya dengan lisan dan mengulangi tasbih dan takbir. Namun, dengan seluruh indera dan pemahamannya, kita harus mengingat Allah dengan segala keagungan-Nya. Kita tahu bahwa Tuhan hadir di semua tempat. Dengan kata lain, mengingat Allah bermakna memperhatikan Allah dan kekuasaanNya yang tiada tara. Alam semesta dengan segenap keluasannya, dari besarnya galaksi hingga kecilnya atom, berada dalam naungan kekuasaan Allah. Setiap kali mengingat Allah dalam lisan, amal dan perbuatan, kita akan merasakan hasilnya yang baik dan membangun.

Hasil pertama yang didapat dari zikir adalah keterikatan manusia terhadap prinsip ajaran Ilahi dan kemampuannya dalam membedakan antara yang baik dan yang buruk dalam kehidupan. Di mata manusia pencari Tuhan, setiap lembaran kehidupan manusia merupakan manifestasi nama, sifat dan hakikat suci Allah Swt yang setiap saat mengatur dan memperbarui alam ini. Maka kehadiran Allah mengerakan seluruh alam semesta Keagungan-Nya yang memancar dari dasar samudera hingga angkasa raya.

Visi pencerahan merupakan efek konstruktif dari mengingat Allah. Pada ayat 201, Surat al-A’raf Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila ditimpa bisikan dari setan, mereka ingat kepada Allah. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahankesalahannya.” Hal ini bermakna bahwa mengingat Allah menyebabkan munculnya visi dan pandangan hidup yang benar dalam diri manusia. Dalam kondisi demikian, ia bisa mengenal realitas sejati dan terbebaskan dari godaan setan dan gejala lainnya yang menjauhkannya dari jalan keselamatan.

Jika manusia telah mengecap nikmatnya zikir kepada Allah, Allah pun menganugerahkan karunia dalam hidupnya dan memberikan keamanan dan ketentraman. Kegelisahan dan kekhawatiran, adalah petaka yang mencekik manusia di zaman modern ini. Kekhawatiran tentang masa depan, ketakutan akan kemungkinan hilangnya berbagai nikmat, kemiskinan dan penyakit dll seringkali menimpa manusia. Terkadang, masa lalu yang suram menyesaki pikiran manusia. Terkadang pula kelemahan dan ketidakmampuan menghadapi berbagai bencana alam dan kenihilan menyiksa batin manusia.

Dunia yang berperadaban dan maju kini juga tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam dimensi ini. Sejatinya, keterasingan utama manusia adalah mengingat Tuhan. Dari sini Imam Sajad as dalam doanya memohon kepada Allah Swt untuk menganugerahkan manisnya menyendiri mengingat Allah. Ketika manusia mengingat Allah dan bergantung pada kekuatan dan rahmat-Nya, hati akan tentram dan tenggelam di samudera rahmat Ilahi.

Salah satu dari pemandangan indah di bulan Ramadhan adalah kebersamaan umat. Di Iran, pada bulan puasa kota-kota tampil dengan warna dan nuansa baru begitu juga dengan masyarakatnya. Setelah selesai jam kerja, para pegawai dan pekerja menuju rumah mereka masing-masing. Semakin dekat dengan waktu berbuka, orang semakin mempercepat langkah untuk sampai ke rumah dan berbuka bersama keluarga.

Kepadatan jalan raya meski terlihat tidak menyenangkan, akan tetapi menggambarkan usaha untuk hadir di tengah keluarga dalam satu jamuan, dan hal ini jarang sekali terlihat pada hari-hari biasa. Hidangan berbuka, panjatan doa, sayuran yang segar, roti hangat, senyuman kasih ibu bapak, bagi keluarga yang jarang berkumpul dalam satu hidangan merupakan kesempatan untuk bersama.

Dunia yang penuh dengan hiruk-pikuk telah merampas sebagian besar kesempatan dari kita. Setiap hari, anggota keluarga berjauhan satu sama lain. Rasa hormat dan kasih sayang di tengah mereka semakin memudar. Para pakar berpandangan bahwa menyantap hidangan di satu meja makan bersama keluarga adalah salah satu jalan untuk menumbuhkan rasa kasih sayang, mengambil teladan dari kedua orang tua, dan juga jalan untuk menghindari munculnya berbagai problema sosial dan moral. Kasih sayang, canda-tawa, dan bercengkrama akan menumbuhkan hubungan mesra antara orang tua dan anak-anak mereka. Para psikolog menyakini adanya hubungan langsung antara bercengkrama dalam waktu singkat saat menyantap hidangan makan malam dengan diskusi panjang lebar yang terjadi pada waktu yang lain.

Stephen Covey penulis buku “Tujuh Kebiasaan Keluarga-keluarga Sukses” dalam hal ini meyakini bahwa salah satu cara sederhana untuk keserasian anggota keluarga adalah makan bersama dalam satu meja makan. Duduk berdampingan dalam satu meja makan akan menggantikan suasana menjadi layaknya rapat keluarga.

Saat-saat demikian, Anda dapat mewujudkan suasana riang dan gembira dan saling bercengkrama. Anda dapat bercanda, bertukar pikiran menyangkut kejadian-kejadian penting hari ini, dan dengan menyimak pembicaraan anak-anak dapat mengurangi jurang pemisah antara generasi orang tua dan anak. Rasa enak dan puas, riang dan gembira, pola makan sehat dan belajar cara yang benar dalam mengkonsumsi makanan, semua hal ini adalah manfaat makan bersama dalam satu hidangan.

Nuansa spiritual bulan puasa yang sederhana telah memberikan peluang ini kepada keluarga hingga bisa merasakan keakraban dan berdampingan satu sama lain, merasakan manisnya kasih sayang, saling mengasihi dan bersama-sama mengharap kasih Allah Swt.


Sumber: Detik-Detik Kesucian Ramadhan 1433 H

Download e-Book disini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s