Perilaku Syahid Murtadha Muthahhari Terhadap Istrinya.

Ayatullah Murtadha Muthahhari

Istri beliau berkata:

“Selama dua puluh enam tahun saya hidup bersama beliau, beliau selalu bersikap tawadhu dan tenang terhadap saya. Suaranya yang lembut dan wajahnya yang ceria membuat saya bersemangat dan senang mengerjakan tugas-tugas saya. Cinta dan kasih sayang beliau kepada saya membuat saya terdorong dan terinspirasi untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. Saya menikah dengan beliau dalam usia yang sangat muda. Namun, dengan usia saya yang masih sangat muda itu, saya tidak pernah dibuat marah dan menderita. Beliau betul-betul penuh kasih sayang dan pemaaf. Beliau sangat memperhatikan ketenangan dan ketentraman saya dan anak-anak. Saking akrabnya dengan saya, beliau tidak mampu melihat saya sedih atau susah.

Saya ingat, suatu hari saya pergi ke kota Isfahan menjenguk salah satu putri saya. Setelah beberapa hari saya kembali ke Tehran bersama salah satu teman saya. Mendekati Subuh kami sampai di rumah. Ketika kami masuk rumah, saya melihat anak-anak sedang tidur, hanya Ustad Muthahhari yang tidak tidur. Beliau telah menyiapkan minuman teh, buah-buahan dan kue serta menunggu kehadiran saya. setelah mengucapkan salam dan melihat Ustad Muthahhari tidak tidur sementara anak-anak tidur, teman saya betul-betul keheranan seraya berkata, “Semua rohaniwan betul-betul baik begini!

Saat itu Ustad Muthahhari berkata, “Saya khawatir, ketika kamu datang dari bepergian saya tidak ada di rumah dan tidak ada yang menyambutmu.

Suatu hari saya pergi ke Karbala bersama beliau. Ketika kami sampai di rumah, dua, tiga orang dari anak-anak kami sedang tidur. Beliau kecewa dan memarahi mereka seraya berkata, “Mengapa ketika ibumu pulang dari Karbala, kalian tidak menyambutnya secara bersama-sama?

Beliau betul-betul penuh kasing sayang. Setelah bertahun-tahun kami hidup bersama, cinta dan kasih sayang beliau kepada saya tetap seperti hari pertama pernikahan kami.

Setiap hari Kamis dan Jumat jika beliau pergi ke Qom, saya mencuci pakaian beliau dan merapikannya. Saya rapikan kamarnya dan saya menunggu sampai beliau datang. Kesimpulannya, sebesar apapun saya menceritakan tentang keakraban, kecintaan, kasih sayang dan ketakwaan beliau, itu bukan apa-apa dibanding dengan apa yang sebenarnya ada pada beliau.

Beliau tahu segalanya tentang urusan rumah. Kebanyakan pekerjaan-pekerjaan saya dan anak-anak dibantu oleh beliau. Beliau adalah satu-satunya pelindung dan penunjuk saya dan anak-anak. Seringnya setelah subuh beliau yang menyiapkan teh untuk saya dan anak-anak. Selama kami hidup bersama, saya ingat betul beliau tidak pernah mengatakan, ambilkan aku segelas air!. Beliau sangat marah bila melihat para wanita dizalimi dan selalu berkata, “Wanita jangan sampai dijajah.”

Antara saya dan beliau hanya penghormatan dan keakraban. Beliau sangat menghormati dan menghargai wanita dan senantiasa berkata, “Wanita di tengah-tengah masyarakat kita selalu dijajah dan dikuasai.” Suatu hari saya bersama beliau pergi ke luar negeri menemani almarhum Allamah Thabathabai untuk berobat. Sekelompok mahasiswi mendatangi kami dan berkata kepada Ustad Muthahhari, “Ulama Islam tidak begitu menghormati istri-istri mereka. Mereka selalu memanggil nama istrinya dengan sebutan yang tidak beradab dan tidak menyertakan mereka dalam urusan apapun.”

Ustad menjawab, “Tidak, tidak demikian.” Beliau menyampaikan tentang hak-hak wanita dalam Islam. Antara lain beliau berkata, “Islam betul-betul menghargai hak-hak wanita.” Bahkan berkata, “Seorang ibu tidak berkewajiban menyusui anaknya, apalagi mengerjakan pekerjaan yang lainnya.

Saya ingat ketika beliau menulis buku “Nezam Huquq Zan dar Islam” (Hak Perempuan dalam Islam), kadang-kadang terkait masalah ini beliau berbicara dengan saya. Beliau sangat sedih saat mendengar tentang derita dan kezaliman yang dialami oleh seorang wanita dan itu menurut beliau adalah sebuah aib bagi kaum pria.

Tentunya anda bisa menemukan pandangan beliau tentang wanita muslim di sela-sela buku yang beliau tulis. Saya sendiri belajar al-Quran dan bahasa Arab kepada beliau. Anak-anak juga belajar bahasa Arab dan pelajaran lainnya bersama beliau.

Setelah beberapa tahun saya lupa bahasa arab. Akhirnya beliau mengajari kami di rumah. Saya dan putri-putri kami dan salah satu menantu laki-laki kami dan putra-putra kami belajar pelajaran Jami’ al-Muqaddamat (buku pengantar ilmu-ilmu hauzah). Beliau betul-betul penuh kasih sayang, dan Allah tahu itu. Cinta dan kasih sayang ada di antara kami. Di sela-sela pembicaraannya beliau selalu menyelinginya dengan ucapan para arif, wali Allah dan orang-orang yang dekat dengan Allah. Beliau tidak secara langsung menjadikan saya sebagai audien tapi menggunakan contoh-contoh sederhana dan bermakna mengajak saja menuju kepada ketakwaan dan keutamaan.


Sumber: IRIB Indonesia/ENH

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s