Kezuhudan Imam Ali as

ClvjWiiUYAAbXaq

Ali bin Abi Thalib telah menunjukkan bahwa selama hidupnya adalah orang yang zuhud. Yang lebih penting lagi adalah ia jujur dalam kezuhudannya. Hal yang sama ketika ia jujur dalam semua apa yang dilakukan atau yang terlintas dalam hatinya bahkan yang diucapkannya. Ia mempraktekkan hidup zuhud dari dunia, gemerlapan negara dan kekuatan seorang penguasa serta hal-hal apa saja yang menurut orang lain dapat mengangkat derajat mereka. Sesuatu yang dilihat oleh mereka sebagai inti keberadaan. Ali bin Abi Thalib hidup di sebuah rumah yang sederhana bersama anak-anaknya sementara kekhalifahan berlindung padanya bukan kerajaan. Ia makan dari gandum yang digiling sendiri oleh istrinya dengan tangannya sementara pembantu-pembantu serta gubernur-gubernurnya hidup dalam gemerlap duniawi di Syam, hidup dalam kekayaan di Mesir dan hidup dalam kenikmatan di Irak. Ali bin Abi Thalib memakan roti kering dan keras yang ketika hendak dimakan di patahkan dengan lututnya. Bila musim dingin tiba dan hawa dingin menggigilkan semua orang, Ali tidak mempergunakan beberapa selimut untuk menghangatkan badannya untuk mengusir rasa dingin yang menghantamnya. Ali bin Abi Thalib mencukupkan dirinya dengan pakaian hangat yang tidak terlalu tebal sebagai petanda akan kehalusan ruh yang dimilikinya.

Harun bin ‘Antarah meriwayatkan dari ayahnya, “Aku menemui Ali bin Abi Thalib di daerah Khuznaq. Pada waktu itu musim dingin. Ali bin Abi Thalib memakai pakaian beludru sementara badannya terlihat menggigil. Aku berkata kepadanya,Wahai Amir Mukminin! Allah telah memberikan kepadamu dan keluargamu bagian di harta ini (baitul mal). Engkau dapat memanfaatkannya untuk dirimu‘. Ali menjawab, ‘Demi Allah! Aku menganggap apa yang kalian lihat selama ini kecil. Aku merasa cukup dengan pakaian beludru ini yang kubawa dari Madinah‘.”

Salah seorang mendatangi Ali bin Abi Thalib sambil membawakan makanan manis yang berharga mahal yang disebut Al-Faludzaj (kue yang dibuat dari tepung, susu dan madu). Ali tidak memakannya. Sambil melihat makanan tersebut sambil berkata, “Demi Allah! Engkau adalah makanan yang berbau wangi, warnamu sangat menarik dan tepat untuk dimakan. Sayangnya, aku tidak akan membiasakan diriku dengan sesuatu yang tidak menjadi kebiasaanku.”

Sungguh, kezuhudan Ali bin Abi Thalib adalah makna gabungan dari kekesatriaan walaupun, menurut sebagian orang bahwa kezuhudan dan kekesatriaan dua makna yang berbeda.

Kehidupan Umar bin Abdul Aziz yang indah patut menjadi contoh. Ia mengatakan, “Manusia yang paling zuhud adalah Ali bin Abi Thalib“. Sementara keluarganya Bani Umayyah begitu membenci Ali bin Abi Thalib. Mereka memperkenalkan keburukan Ali bin Abi Thalib di hadapan masyarakat bahkan mencaci-makinya di atas mimbar salat Jumat.

Semua mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib tidak tinggal di istana negara yang telah dipersiapkan untuknya di Irak. Ali tidak ingin rumahnya lebih dari rumah-rumah para fakir miskin yang tinggal dalam kesederhanaan dan kefakirannya. Ucapan beliau terkait dengan sikapnya dalam hidup mencerminkan hal itu.

“Apakah aku akan merasa cukup dengan diriku ketika orang-orang mengatakan padaku Amir Mukminin sementara aku tidak pernah merasakan kesulitan-kesulitan yang dialami mereka?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s