Riwayat Pentingnya Akal (Bag. IV)

3d-lamp-wallpaper-53964-55695-hd-wallpapers

Di sana juga terdapat beratus-ratus riwayat yang menyingkapi tentang pentingnya akal dan kedudukannya yang tinggi di dalam madrasah Ahlul Bait. Akal adalah cahaya Ilahi, yang dengannya manusia mampu menyingkap hakikat sesuatu. Dengan demikian, dia merupakan pemberian Ilahi, dan bukan merupakan sesuatu yang bersifat orisinil (zati) di dalam diri manusia, yang berubah bersama dirinya dari kondisi potensial (bi al-quwwah) kepada kondisi riil (bi al-fi’il), sebagaimana pendapat para filosof, yang mana mereka mendefinisikan akal sebagai kemampuan yang dengannya manusia mampu menghasilkan teori (nadzariyyah)tu yang tidak memerlukan pemikiran (dharuriyyah), seperti mustahilnya berkumpulnya dua hal yang saling bertentangan, dan bahwa segala sesuatu yang berubah itu adalah hadits (baru). Dalam pandangan mereka, manakala seorang manusia telah mampu menghasilkan hal-hal yang nadzri dari hal-hal yang dharuri, maka manusia tersebut telah sampai kepada batas akal, yang merupakan salah satu peringkat dari peringkat-peringkat nafs. Manakala peringkat-peringkat itu telah sempurna maka menjadi akal. Kesimpulan-kesimpulan yang diperoleh dinamakan ma’qulat , setelah sampai kepada dharuriyyahh, meskipun dengan melalui dua puluh perantara (wasithah). Mereka mencampur adukkan antara akal dengan ma’qul dan antara ilmu dengan ma’lum (obyek ilmu). Mereka disibukkan dengan ma’lum dengan ma’qul, sehingga mereka tersesat dari cahaya yang dengannya mereka dapat mengetahui dan memahami sesuatu. Sungguh ini merupakan kesesatan yang jauh. Kita dapat melihat dengan nurani kita bahwa cahaya yang dengannya kita dapat mengetahui hakikat sesuatu ini, adalah sesuatu yang berada di luar zat kita dan zat ma’lum. Dia tidak lain merupakan pemberian Ilahi, yang denganya kita dapat mengetahui diri kita dan dapat menyingkat hakikat sesuatu. Karena jika tidak demikian, lalu ke mana akal ini pada masa kanak-kanak kita. Sekiranya akal tersebut bersifat zati bagi diri kita, tentu dia tidak akan pernah berpisah dari diri kita. Karena, sesuatu yang zati tidak akan pernah sekali pun berpisah dari diri kita.

Allah SWT berfirman, ‘Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun.’

Ayat ini mengingatkan kita akan hakikat akal dan ilmu. Keduanya tidak lain merupakan cahaya penyikap, yang tidak seorang pun dari kita memilikinya pada saat keluar dari perut ibu, namun sekarang dia memilikinya. Oleh karena itu, mau tak mau kita harus mengakui bahwa keduanya berasal dari Allah. Karena, seandainya keduanya itu berasal dari diri kita, maka tentu keduanya ada pada saat kita masih dalam usia kanak-kanak.

Rasulullah saw bersabda, menguatkan hakikat ini, “Manakala anak yang dilahirkan mencapai batas usia laki-laki dewasa atau wanita dewasa, maka tersingkaplah penutup, lalu masuklah cahaya ke dalam hati manusia ini, sehingga dia memahami yang wajib dan yang sunah, serta yang baik dan yang buruk. Ketahuilah, sesungguhnya perumpamaan akal di dalam hati tidak ubahnya seperti pelita di dalam rumah.

Dengan demikian, akal adalah cahaya Ilahi yang terjaga dari kesalahan. Demikian juga wahyu adalah cahaya Ilahi yang terjaga dari kesalahan. Sehingga dengan demikian tidak ada perselisihan di antara keduanya. Karena keduanya adalah dua cahaya yang berasal dari pelita yang sama. Allah SWT telah menjadikan cahaya yang pertama pada diri manusia, dan menjadikan cahaya yang kedua pada Al-Qur’an dan hadis. Keduanya saling menyempurnakan satu sama lainnya dan saling membenarkan.

Hubungan yang terjadi di antara akal dan wahyu adalah hubungan rangsangan. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin as tatkala menggambarkan tugas para nabi, “Mereka diutus untuk membang-kitkan kembali akal-akal yang telah terpendam.” Dengan demikian, tidak ada keterpisahan di antara akal dan wahyu. Dan oleh karena itu, ukuran yang lurus untuk menyingkap pengetahuan-pengetahuan agama adalah akal yang telah mendapat wawasan wahyu.

Masalah inilah yang telah menjadi penyebab perselisihan kaum Muslimin dan terkotak-kotaknya mereka ke dalam berbagai mahzab.

Kelompok Ahlul Hadis, mereka kaku di dalam memahami zahir nas. Sementara kelompok Mu’tazilah, mereka bersandar kepada takwil. Adapun kelompok Asy’ariyyah, mereka berusaha menggabungkan antara ta’wil dan sikap kaku di dalam menyikapi nas. Sementara kalangan filosof, mereka membangun jalan yang bertentangan dengan jalan Allah bagi diri mereka, dan megklaim bahwa mereka telah sampai kepada hakikat.

Oleh karena pembicaraan kita sekarang berkenaan dengan kelompok Hanbali, kita perlu kemukakan, bahwa pengingkaran mereka terhadap akal tidak ada dasarnya. Orang yang membaca kitab-kitab Hanbali, niscaya akan menemukan keyakinan-keyakinan yang saling bertentangan, atau keyakin-an-keyakinan yang bertentangan dengan akal dan fitrah manusia. Mereka mempercayai riwayat-riwayat yang menetapkan adanya tasybih (penyerupa-an Allah dengan makhluk) dan tajsim (penjisiman Allah) bagi Allah SWT. Anda dapat melihat keyakinan-keyakinan mereka tidak banyak berbeda dengan keyakinan-keyakinan Yahudi, Nasrani dan Majusi. Oleh karena itu, muncullah di tengah-tengah mereka mahzab-mahzab yang mengakui paham tajsim, tasybih, ru’yah (Allah dapat dilihat dengan mata), jabr (manusia terpaksa di dalam perbuatannya), dan keyakinan-keyakinan lain yang berasal dari keyakinan-keyakinan Ahlul Kitab.

Ini semua disebabkan perlakuan mereka yang sewenang-wenang terhadap hadis. Mereka tidak membahas hadis dengan teliti dari segi arti dan maksudnya, dan juga tidak memperhatikan sanad-sanadnya, serta tidak membandingkannya dengan Al-Qur’an dan akal, melainkan mereka mempercayainya secara bulat-bulat.

Taklid mereka sampai tingkat sedemikian rupa sehingga mereka mengambil makna zahir dari semua hadis mawquf, marfu’, mawdhu’ yang diriwayatkan oleh para perawi. Meski pun hadis-hadis itu aneh, janggal dan berasal dari riwayat-riwayat Isariliyyat, seperti yang diriwayatkan oleh Ka’ab, Wahab dan lainnya, atau bertentangan dengan hal-hal yang sudah pasti (qath’iyyat), yang terhitung sebagai nas-nas agama, pemahaman inderawi, dan perkara-perkara yang sangat jelas menurut akal (yaqiniyyat). Dan mereka mengkafirkan orang-orang yang mengingkarinya, dan memfasikkan orang-orang yang menyalahinya…..

Jika kita memperlakukan hadis dengan cara yang seperti ini, tentu tidaklah mustahil akidah Islam akan menjadi tawanan beribu-ribu hadis mawdhu’ (palsu) dan hadis-hadis Israiliyyah, yang disisipkan oleh orang-orang Yahudi ke dalam akidah Islam.

Kalim kelompok Hanbali yang mengatakan bahwa mereka berpegang kepada al-Kitab dan sunah, serta tuduhan sesat dan kafir yang mereka lontarkan kepada kelompok di luar mereka, adalah sebuah klaim yang kosong yang tidak mempunyai dalil. Seluruh kelompok mengakui kehujjahan sunnah dan beramal dengannya, akan tetapi kelompok Hanbali, mereka meyakini seluruh yang diriwayatkan sebagai sesuatu yang berasal dari Rasulullah saw, dengan tanpa melakukan pengecekan, dan tanpa mela-kukan usaha untuk memahami dan mengerti akan maksud dan artinya. Zamakhsyari berkata tentang kelompok Hanbali di dalam syairnya,

“Jika kamu bertanya tentang Ahlul Hadis niscaya mereka menjawab, kambing jantan yang tidak memahami dan mengetahui.

Rasulullah saw telah bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah dia untuk menempati tempatnya di neraka.” Di dalam hadis ini, dengan jelas Rasulullah saw mengisyaratkan bahwa musuh-musuh agama akan menisbahkan segala sesuatu yang mendiskreditkan dirinya dan menyelewengkan akidahnya kepada dirinya. Oleh karena itu, mau tidak mau kajian ilmu hadis harus tunduk kepada metoda-metoda ilmiah dan mantiqiyyah, dan bukan sebagaimana yang telah dilakukan oleh kelompok Hanbali, yang mengimami seluruh yang mereka temukan di dalam kitab-kitab hadis, bailk yang logis maupun yang tidak logis, baik yang sejalan dengan Al-Qur’an maupun yang tidak sejalan.

Ahmad bin Hanbal berkata dalam risalahnya, “Kami meriwayatkan hadis sebagaimana dia diriwayatkan, dan kami membenarkan serta meyakini bahwa dia sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah saw.

Seseorang berkata, “Ali bin Isa telah memberitahukan aku bahwa seorang Hanbali telah berkata, ‘Saya bertang kepada Abu Abdillah tentang hadis-hadis yang mengatakan bahwa Allah SWT turun ke langit dunia setiap malam, Allah dapat dilihat, Allah meletakkan kaki-Nya, dan hadis-hadis lain yang seperti itu. Abu Abdillah menjawab, ‘Kami meyakininya dan membenarkannya, serta tidak memberinya bentuk dan arti. Artinya, kami tidak menyimpangkannya dengan takwil, lalu kami mengatakan maknanya demikian. Kami tidak menolak sedikitpun darinya’.”

Inilah jalan mereka di dalam memperlakukan hadis. Mereka tidak menolak sedikitpun darinya, dan membenarkan segala sesuatu yang disebutkannya. Adapun alasan yang mereka ajukan atas apa yang mereka lakukan itu amatlah lucu. Membenarkan hadis-hadis yang seperti ini adalah sama dengan membenarkan paham tajsim dan tasybih. Sebagian dari mereka telah bertindak ekstrim, yaitu dari kelompok Hasyawiyyah, di mana mereka menetapkan perbuatan fisik bagi Allah SWT.

Syahrastani berkata, “Adapun penyerupaan yang dilakukan oleh kelompok Hasyawiyyah telah sampai kepada batas di mana mereka mengatakan bahwa Tuhan mereka dapat disentuh dan diajak berjabat tangan, dan bahwa kaum Muslimin yang mukhlis akan dapat memeluk-Nya di dunia dan di akhirat, ketika mereka telah sampai ke tingkatan ikhlas di dalam riyadhah (latihan spiritual) dan ijtihad.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s