Riwayat Pentingnya Akal (Bag. II)

nastol.com.ua-852

Allah SWT juga berfirman, ‘Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit atas penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik. Dan sesungguhnya Kami tinggalkan dari padanya satu tanda yang nyata bagi orang-orang yang berakal.’ (QS. al-‘Ankabut: 34-35)

Wahai Hisyam, sesungguhnya akal bersama ilmu. Allah SWT berfirman, ‘Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.’ (QS. al-‘Ankabut: 43)

Wahai Hisyam, kemudian Allah SWT mencela orang yang tidak berakal. Allah SWT berfirman, ‘Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah’, mereka menjawab, ‘Tidak, tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga) walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?’ (QS. al-Baqarah: 170)

Allah SWT juga berfirman, ‘Dan perumpamaan (orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.’ (QS. al-Baqarah: 171)

Allah SWT berfirman, ‘Dan di antara mereka ada orang yang mendengar-kanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mendengar.’ (QS. Yunus: 42)

Allah SWT juga berfiraman, ‘Atau apakah kamu mengira bahwa kebanya-kan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).’ (QS. al-Furqan: 44)

Allah SWT berfirman, ‘Mereka itu akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka terpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti.’ (QS. al-hasyr: 14)

Allah SWT juga berfirman, ‘Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedangkan kamu melupakan diri kamu sendiri padahal kamu membaca al-Kitab? Maka tidakkah kamu berpikir?’ (QS. al-Baqarah: 44)

Wahai Hisyam, kemudian Allah SWT mencela kelompok yang banyak. Allah SWT berfirman, ‘Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.’ (QS. al-An’am: 116)

Allah SWT juga berfirman, ‘Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan keoada mereka, ‘Siapakah yang menciptaka langit dan bumi?’ tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah’, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.’ (QS. Luqman: 25)

Berikutnya, Allah SWT berfirman, ‘Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka, ‘Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghiduokan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ Tentu mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Katakanlah, ‘Segala puji bagi Allah’, tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya.’ (QS. al-‘Ankabut: 63)

Wahai Hisyam, selanjutnya Allah SWT memuji kelompok yang sedikit. Allah SWT berfirman, ‘Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.’ (QS. Saba: 13)

Allah SWT juga berfirman, ‘Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amatlah sedikit mereka ini.’ (QS. Shad: 24)

Allah SWT berfirman, ‘Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, ‘Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia mengatakan, Tuhanku ialah Allah.’” (QS. al-Mu’min: 28)

Selanjutanya Allah SWT berfiman, ‘Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Allah SWT berfirman, ‘Kebanyakan mereka tidak memahami.’

Pada ayat yang lain Allah berfirman, ‘Kebanyakan mereka tidak merasa.’

Wahai Hisyam, Allah menyebut orang-orang yang berakal dengan sebagus-bagusnya sebutan dan menghiasi mereka dengan sebagus-bagusnya hiasan. Allah SWT berfirman, ‘Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh dia telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengam-bil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.’ (QS. al-Baqarah: 269)

Allah SWT juga berfirman, ‘Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan orang-orrang yang beraka.’ (QS. Ali ‘Imran: 7)

Allah SWT juga berfirman, ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.’ (QS. Ali ‘Imran: 190)

Allah SWT berfirman, ‘Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang ditirunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang buta? Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.’ (QS. ar-Ra’d: 19)

Allah SWT berfirman, ‘(Apakah kamu hai orang-orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.’ (QS. az-Zumar: 9)

Allah SWT berfirman, ‘Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, yang penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.’ (QS. Shad: 29)

Allah SWT juga berfirman, ‘Dan sesungguhnya telah Kami berikan petun-juk kepada Musa; dan Kami wariskan Taurat kepada Bani Israil, untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.’ (QS. al-Mu’min: 53-54)

Allah SWT berfirman, ‘Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang berpikir.’ (QS. adz-Dzariat: 55)

Wahai Hisyam sesungguhnya Allah SWT berfirman di dalam Kitab-Nya, ‘Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati.’ (QS. Qaf: 37) Yaitu yang dimaksud ada-lah akal.

Dan sesungguhnya Kami telah berikan Hikmah kepada Lukman.’ Yaitu yang dimaksud adalah akal.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Lukman telah berkata kepada anaknya, ‘Tawadulah kamu kepada kebenaran, niscaya kamu menjadi manusia yang paling berakal. Sesungguhnya kecerdasan amat mudah bagi orang yang memiliki kebenaran. Wahai anakku, sesungguhnya dunia adalah lautan yang dalam. Sungguh telah banyak sesuatu yang karam di dalamnya. Maka jadikanlah ketakwaan kepada Allah sebagai perahumu, bahan bakarnya iman, layarnya adalah tawakal, nahkodanya akal, kompasnya adalah ilmu, dan para penumpangnya adalah sabar.’

Wahai Hisyam, sesunggunya segala sesuatu mempunyai tanda. Adapun tandanya akal adalah berpikir, dan tandanya berpikir adalah diam. Dan, sesungguhnya segala sesuatu mempunyai tunggangan, adapun tunggangan akal adalah tawadhu. Cukup merupakan kebohongan bagimu, kamu menunggangi sesuatu yang kamu dilarang menungganginya.

Wahai Hisyam, tidaklah Allah mengutus para nabi dan rasul-Nya kepada hamba-hamba-Nya melainkan supaya mereka mengenal Allah. Sesungguhnya orang yang paling baik penerimaannya di antara mereka adalah orang yang paling baik makrifahnya, dan orang yang paling mengetahui perintah Allah di antara mereka adalah orang yang paling baik akalnya, serta orang yang paling sempurna akalnya di antara mereka adalah orang yang paling tinggi derajatnya di dunia dan di akhirat.

Wahai Hisyam, sesungguhnya Allah mempunyai dua hujjah atas manusia. Yaitu hujjah yang tampak dan hujjah yang tidak tampak. Adapun hujjah yang tampak adalah para rasul, para nabi dan para imam, sedangkan hujjah yang tidak tampak adalah akal.

Wahai Hisyam, sesungguhnya orang yang berakal adalah orang yang rasa syukurnya tidak disibukkan oleh sesuatu yang halal, dan kesabaran-nya tidak dibelenggu oleh yang haram.

Wahai Hisyam, barangsiapa yang memenangkan sesuatu yang tiga atas sesuatu yang tiga yang lain, maka berarti dia telah membantu hawa nafsunya untuk menghancurkan akalnya:

Barangsiapa yang menggelapkan cahaya pikirannya dengan panjang angan-angannya, barangsiapa yang menghapus kata-kata hikmahnya dengan kata-kata sia-sianya, dan barangsiapa yang memadamkan cahaya pelajarannya dengan syahwatnya, maka berarti dia telah membantu hawa nafsunya untuk menghancurkan akalnya. Dan barangsiapa yang menghancurkan akalnya maka berarti dia telah merusak agama dan dunianya.”


Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s