Dialog Allah dengan Adam as

cultfit-us

Menurut logika al-Quran, nilai dan kemuliaan manusia terletak pada kemampuannya dalam menaklukkan dan menguasai hawa nafsunya dan mengikuti ajaran-ajaran Allah. Mengikuti ajaran-ajaran ilahi senantiasa menjadikan manusia bahagia dan menjauhinya menjadikan kehidupan mereka dipenuhi dengan kegelapan dan dosa.

Setelah Allah menghukum dan mencabut nikmat dari Iblis, Dia memasukkan Adam dan istrinya, Hawa ke dalam surga dan berfirman, ingatlah nikmat yang Aku berikan kepadamu. Karena Aku telah menciptakan kamu dari fitrah yang suci. Dengan kehendak-Ku Aku ciptakan kamu sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dan kelayakan. Aku tiupkan ruh-Ku kepadamu dan Aku perintahkan para malaikat-Ku untuk bersujud kepadamu dan Aku anugerahi kamu dengan sorotan ilmu-Ku.

Hai Adam! Karena kamu, Aku singkirkan iblis dari rahmat-Ku. Aku melaknatnya ketika ia menolak perintah-Ku. Rumah abadi adalah surga dan tempat abadi ini aku tetapkan sebagai tempat tinggalmu. “Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kamu tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” QS. Thaha: 118-119

Bila kau menaati perintah-Ku maka kamu akan tetap tinggal selamanya di surga ini, sebaliknya jika kamu menolak perintah-Ku, maka akan Aku keluarkan kamu dari tempat ini dan akan Aku siksa. Ingatlah, iblis adalah musuhmu dan musuh istrimu, hati-hatilah akan tipudayanya agar kamu tidak dikeluarkan dari surga.

Allah Swt memberikan izin kepada Adam dan istrinya untuk menggunakan pelbagai jenis makanan surga dengan sesuka hati. Mereka diberi kebebasan untuk memetik segala jenis buah yang mereka sukai. Mereka hanya diminta untuk menjauhi satu pohon.

Allah telah menunjukkan dan menentukan pohon yang dilarang. Supaya tidak lagi muncul keraguan di dalam pikiran Adam dan istrinya. Dan sekali lagi mereka diperingatkan agar tidak mendekati pohon tersebut. Allah berfirman, “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” QS. 2: 35

Adam dan Hawa memasuki sebuah kebun yang betul-betul luas dan indah. Keduanya memanfaatkan apa saja yang mereka sukai. Mereka mengelilingi kebun dan istirahat di bawah naungan pohon. Mereka menikmati dan merasakan hasil kebun, meminum air segar surgawi. Mereka berdua bahagia karena sumber air kebahagiaan ada di dekatnya.

Namun, iblis sebagai musuh bebuyutan yang telah tersingkirkan dari surga datang menggoda Adam dan Hawa yang menyebabkan keduanya harus keluar dari kebun yang indah itu.

Iblis menggoda Adam dan Hawa demikian, “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga). Dan iblis bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” QS. A’raf: 20-21.

Dengan demikian iblis telah menipu mereka dan Adam dan Hawa pun memakan buah dari pohon yang dilarang. Ketika Adam dan Hawa tertipu iblis, maka pakaian kemuliaan dan ketakwaannya terlepas dari badan mereka, akibatnya mereka tersingkirkan juga dari surga.

Kepada mereka Allah berfirman, “… Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” QS. A’raf: 22.

Seketika itu juga Adam dan Hawa memahami kesalahannya dan berusaha untuk menebus kesalahannya seraya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” QS. A’raf: 23.

Saat itu, “Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” QS. Thaha: 123.


Sumber: Tadarusan Al-Quran 1433: Dialog Dalam Al-Qur’an

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s