Hak Jiwa Atas Manusia (Bag. IV)

cropped-head-ogo-1_Snapseed

Konsep pembentukan diri dan mensucikan jiwa memainkan peran penting dalam kebahagiaan manusia. Karena itu seluruh utusan Allah Swt menempatkan masalah pensucian jiwa dan pendidikan generasi umat manusia sebagai misi utama mereka. Para nabi as berupaya mendidik manusia untuk mencapai derajat kesempurnaan dan derajat yang tinggi. Keberadaan naluri dan hawa nafsu dalam diri manusia juga sebagai kelaziman hidup mereka dan dipandang perlu demi meniti jalan kesempurnaan. Namun jika naluri ini keluar dari batas-batas kewajaran dan lepas dari kontrol, maka ia akan menguasai dan menentukan langkah-langkah pemiliknya.

Al-Quran menilai fenomena ini sebagai bentuk penghambaan terhadap hawa nafsu dan sumber kelalaian dan kekufuran. Sebab dimana saja hawa nafsu berkuasa, maka agama dan akal akan terpinggirkan.

Menurut perspektif al-Quran, manusia yang dibekali naluri berada di persimpangan jalan dan harus memilih antara jalan yang lurus dengan jalan yang menyimpang. Dari satu sisi, ada daya tarik positif yang mengarahkan manusia kepada kesucian dan kesempurnaan. Daya tarik lain berupa kecenderungan negatif dan godaan syaitan yang akan menyeret manusia ke lembah kehinaan dan materialis. Kedua potensi utama ini ada dalam diri manusia.

Kitab suci al-Quran menilai nafs memiliki beberapa tingkatan dan sifat-sifat tertentu. Ada tiga jenis nafs sebagaimana yang digambarkan oleh Al-Quran, salah satunya adalah “al-Nafs alAmmarah”. Nafsu jenis ini akan mendorong manusia pada kejelekan dan kejehatan. Dalam surat Yusuf ayat 53, Allah Swt berfirman,

Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.

Al-Nafs al-Ammarah terdapat dalam setiap diri manusia dan terkadang menguasai perilaku mereka, tapi kadang-kadang manusia yang mengalahkan nafsu itu. Jika keinginan dan nafsu manusia tidak disalurkan melalui aturan tertentu dan dibiarkan lepas tanpa kontrol, maka setan dan godaannya akan menancapkan kakinya di lubuk hati dan jiwa manusia dan merampas tali kekang pikiran dan kehendak manusia.

Jenis lain nafsu manusia yang disinggung al-Quran adalah “al-Nafs al-Lawwamah” atau jiwa yang mencela dirinya. Al-Nafs al-Lawwamah akan mereaksi setiap perbuatan menyimpang dan mencela manusia karena melakukan perbuatan jelek. Nafsu seperti ini juga terdapat dalam diri setiap manusia dan mencegahnya agar tidak melakukan perbuatan kotor. Nafsu jenis ini memiliki pengaruh penting terhadap nasib manusia hingga al-Quran pun dalam salah satu suratnya bersumpah dengan al-Nafs al-Lawwamah.

Al-Nafs al-Lawwamah akan memperkuat keyakinan manusia tentang Sang Pencipta dan Hari Kiamat. Nafsu ini juga memperingatkan manusia terhadap perilaku keliru dan menyimpang. Karenanya, al-Nafs al-Lawwamah berperan memperbaiki diri manusia khususnya bagi orang-orang yang yakin bahwa Allah Swt selalu mengawasi perbuatan mereka.

Jenis lain nafsu manusia versi al-Quran adalah al-Nafs al-Mutmainnah. Pada tahap ini, manusia sudah terlepas dari barbagai keraguan yang bersumber dari al-Nafs al-Ammarah dan membuatnya tenang dan damai karena punya hubungan dengan Allah Swt. Dalam al-Quran ayat 27-30 surat al-Farj, Allah Swt berfirman,

Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Al-Nafs al-Mutmainnah akan menghadirkan sebuah ketenangan yang didapat dari keimanan yang tulus dan murni. Orang-orang yang berjiwa tenang yakin terhadap jalan yang dipilihnya dan juga meyakini janji-janji Tuhan. Dengan kata lain, mereka adalah orang-orang yang menaati perintah Sang Pencipta dan selalu bersikap tenang dalam menghadapi badai kehidupan, sebab mereka menyandarkan diri kepada sandaran yang sangat meyakinkan.

Secara umum dapat kita katakan bahwa benih-benih petunjuk dan kesempurnaan begitu juga dengan dekadensi dan kemerosotan terdapat dalam diri manusia. Manusia harus mengambil manfaat dari sumber-sumber petunjuk hingga terbebas dari kesesatan dan keterpurukan.

Imam Sajjad as memperingatkan manusia untuk menjaga dan menunaikan kewajiban-kewajibannya. Imam as juga mengingatkan manusia untuk menunaikan hak-hak anggota badan hingga dapat meraih keberuntungan dan kebahagiaan.


Sumber: Risalah Huquq Imam Ali as-Sajjad as

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s