Dialog Allah Dengan Iblis

10763317

Dialog dan percakapan adalah inti sebuah kisah dan kejadian. Al-Quran banyak memperhatikan masalah dialog sebagaimana ajakan para nabi Allah dijelaskan dalam bentuk dialog, demikian juga dengan sebagian hukum ilahi.

Untuk menunjukkan hakikat dan menceritakan pelbagai peristiwa dan kejadian, alQuran menjelaskannya dengan indah melalui dialog dan percakapan.

Dalam peristiwa penciptaan Adam, hanya iblis yang tidak mau bersujud kepada Adam karena kesombongan dan ketakabburannya. Al-Quran dalam pelbagai surat menceritakan kisah ini dan menggambarkan kelemahan dan ketidakmampuan iblis.

Karena kesombongannya, tirai kegelapan telah menutupi mata iblis. Ia mendapat teguran dari Allah,

Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?” (QS. Shad: 75)

Dengan menyampaikan alasan yang tidak bisa diterima, Iblis menjawab,

Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Shad: 76)

Iblis berpikir bahwa api lebih baik dari tanah. Dan ini adalah salah satu kesalahan besarnya. Karena tanah adalah sumber segala keberkahan dan kehidupan. Tanah merupakan perantara dan alat untuk kelanjutan hidup seluruh makhluk hidup.

Yang lebih penting adalah kelebihan Adam bukan karena tercipta dari tanah. Tapi kelebihannya karena ruh yang ditiupkan Allah kepadanya. Adam belajar ilmu dan nama-nama benda yang diajarkan Allah kepadanya. Ia layak untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi.

Poin penting lain dalam peristiwa ini adalah pelanggaran dan penolakan iblis terhadap perintah Allah. Ia tidak mau menaati dan menjalankan perintah Allah. Ia menganggap dirinya lebih dari kelayakan dan kemampuan yang dimilikinya. Pada saat itulah Allah berfirman,

Maka keluarlah kamu dari surga; sesungguhnya kamu adalah orang yang terkutuk. Sesungguhnya kutukan-Ku tetap atasmu sampai Hari Pembalasan.” (QS. Shad: 77-78)

Dialog ini memperingatkan bahwa semua kecelakaan iblis adalah akibat kesombongan dan ketakabburannya. Merasa diri lebih dari yang lain tidak saja berakibat ia menolak bersujud kepada Adam bahkan mengingkari ilmu dan hikmah Allah yang akhirnya ia harus menolak perintah Allah. Akibatnya, ia harus kehilangan posisinya yang berharga. Di dalam Nahjul Balaghah, dalam khutbah Qashi’ah Imam Ali as berkata,

Ambillah pelajaran dari sikap Allah terhadap iblis. Ia harus kehilangan pahala amal ibadah, usaha dan penghambaan yang dilakukannya untuk Allah selama enam ribu tahun akibat takabur sesaat. Sejatinya, egoisme, kesombongan, kebodohan dan hasud secara bersamaan telah menjatuhkan iblis dari puncak kebanggaan menuju posisi yang rendah yang dulunya ia berdampingan dengan para malaikat bahkan guru mereka.”

Namun kisah iblis tidak tuntas sampai di sini. Ketika ia menyaksikan dirinya terkutuk, yang seharusnya ia bertaubat dan kembali kepada Allah, ia justru berkata,

Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Shad: 79)

Allah pun berfirman,

Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya (Hari Kiamat).” (QS. Shad: 80-81)

Dengan penangguhan yang diberikan kepadanya, iblis merasa gembira dan menunjukkan secara terang-terangan tujuan busuknya seraya berkata,

Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” (QS. Shad: 82-83)

Kemudian ia menekankan ucapannya dan berkata,

Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS. A’raf: 16-17)

Allah pun berfirman,

Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhan-mu sebagai Penjaga.” (QS. Isra: 64-65)

Kemudian Allah menutup dialog ini dengan firman-Nya,

Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Hijr: 42)


Sumber: Tadarusan Al-Qur’an 1433 Hq 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s