Hak Jiwa Atas Manusia (Bag. III)

alone-boy-hd-wallpaper_1_1920x1200

Dalam diri manusia tertanam potensi kebahagiaan dan kesengsaraan. Barang siapa yang menjaga jiwanya dari bisikan hawa nafsu dan berbagai macam godaan, maka ia telah mempermudah langkahnya menuju jalan kesempurnaan dan akan menemukan kebenaran dan hakikat.

Saat itu, cahaya kebenaran akan menerangi setiap sisi manusia, menghadirkan kebahagiaan dan mensucikan jiwa dan raga dari debu-debu dosa dan kotoran. Kebenaran akan memusnahkan rasa iri, dengki, dan seluruh penyakit jiwa dan moral dari masyarakat. Manusia yang haus kebenaran tidak akan pernah merasa puas kecuali setelah mengenal dirinya dan melangkah di jalan yang benar.

Manusia yang mengabaikan sifat-sifat batinnya akan terseret ke dalam lembah kesesatan, sebab polusi dan gangguan jiwa dan batin sangat merusak diri manusia. Oleh karena itu, kebahagiaan manusia tidak mungkin terwujud tanpa kesehatan dan kesucian jiwa dan keseimbangan potensi-potensi jiwa. Hawa nafsu berupa ketamakan, amarah, iri dan seluruh kecenderungankecenderungan negatif lain harus dibenahi.

Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as menilai langkah menyucikan jiwa atau tazkiyatun-nafs sebagai tugas manusia. Setelah menjelaskan hak dan kewajiban terhadap Allah Swt, Imam Sajjad as menyebutkan kewajiban kedua manusia yaitu kewajiban atas jiwanya. Imam Ali Zainal Abidin as berkata,

“Kewajibanmu atas dirimu adalah memanfaatkan seluruh potensi dan kemampuan yang diberikan Allah Swt dan melangkah di jalan ketaatan. Karena itu, tunaikanlah hak lisanmu, pendengaranmu, penglihatanmu, kedua tanganmu, kedua kakimu, dan mintalah pertolongan Allah Swt dalam menunaikan hak-hak tersebut dan bertawakkallah kepada-Nya.”

Kecenderungan dan daya tarik akan menciptakan sebuah ikatan dan ketertarikan antara manusia dengan lingkungan sekitar. Manusia akan terdorong untuk mendekati obyek luar tadi. Manusia yang tunduk di hadapan tuntutan hawa nafsunya, maka ia telah menyerahkan nasibnya kepada sebuah kekuatan luar. Sebuah kekuatan yang akan menyeret manusia ke segala arah. Namun di sisi lain, menguasai hawa nafsu dan membentuk diri akan membangun kepribadian manusia. Ketika manusia mampu menguasai hawa nafsunya dengan tekad dan semangat, maka ia dapat membebaskan diri dari segala macam bahaya. Menguasai diri dan hawa nafsu merupakan tujuan utama pendidikan agama khususnya Islam.

Imam Sajjad as menilai langkah mensucikan diri atau tazkiyatun-nafs sebagai sebuah hak dan kewajiban manusia sehingga mereka tidak terpesona oleh berbagai hiasan dunia sekaligus dapat menjaga kemuliaan dirinya. Karena itu, manusia harus menemukan kebesaran dan keagungan dirinya dan perlu berpikir tentang esensi wujudnya.

Imam Ali bin Abi Thalib as dalam sebuah untaian kata yang indah berkata,

Wahai manusia, penawar penyakit pada dirimu ada dalam dirimu sendiri. Engkau tidak melihat penawar itu. Rasa sakitmu juga berasal dari dirimu sendiri tapi engkau tidak menyadarinya. Engkau ibarat buku alam semesta dan jika engkau menyelami dirimu dengan teliti, maka sebagian besar hakikat akan nampak. Apakah engkau mengira bahwa dirimu hanya sebuah benda kecil di alam semesta, padahal dalam dirimu terdapat sebuah alam besar.

Manusia perlu mengenal hakikat eksistensi dirinya dan berjalan pada jalur yang benar hingga bisa sampai pada tujuan penciptaan, yaitu ibadah dan ketaatan kepada Allah Swt. Dalam surat adz-Dzaariyaat ayat 56, Allah Swt berfirman,

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Melihat tujuan penciptaan yang dipaparkan al-Quran, Imam Sajjad as menilai hak jiwa manusia yang paling besar adalah mematuhi dan menghambakan diri kepada Allah Swt dan tujuan luhur ini tidak boleh dilupakan begitu saja, terlebih badai kehidupan sekarang membuat manusia lalai untuk memikirkan tujuan penciptaan.

Paham-paham berbahaya berupa pemikiran dan budaya telah mengepung umat manusia dan kita selalu menyaksikan peristiwa-peristiwa baru yang lahir dari “Manusia Berperadaban”. Imam Sajjad as yakin bahwa orang-orang yang melangkah meraih tujuan penciptaan dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa, ia termasuk golongan yang menunaikan kewajiban atas dirinya. Manusia yang memahami penghambaan dan keagungan Sang Pencipta akan sampai pada kebesaran dan saat itulah ia akan mencapai derajat yang lebih tinggi dibanding makhluk-makhluk yang lain. Sementara orang yang melalaikan tujuan penciptaan, maka ia telah mendahulukan penghambaan kepada selain Tuhan dan melecehkan hakikat kemanusiaannya.

Kebergantungan terhadap pangkat, jabatan, dan harta benda dan bersandar pada kekuatankekuatan besar termasuk contoh penyembahan kepada selain Allah Swt. Pada dasarnya, manusia yang menyembah selain Allah Swt tidak mengenal hak dan kewajibannya. Manusia perlu menggunakan berbagai sarana pendukung guna menunaikan kewajiban-kewajibannya termasuk anggota badan yang ia miliki. Allah Swt dengan menciptakan dua tangan, kaki, penglihatan dan lain-lain, bermaksud mengantarkan manusia ke puncak kesempurnaan dan membebaskannya dari berbagai belenggu duniawi.


Sumber: Risalah Huquq Imam Ali as-Sajjad as

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s