Hak Jiwa Atas Manusia (Bag. II)

 

sunrise-arms-up

Salah satu syarat kesuksesan manusia adalah pengenalan terhadap diri sendiri (mengenal diri). Seorang ilmuan besar Islam, Imam Muhammad al-Ghazali mengatakan, “Tidak ada yang lebih dekat dengan engkau selain dirimu sendiri, jika engkau tidak mengenal dirimu, bagaimana engkau akan mengenal orang lain?” Pengenalan diri adalah sebuah proses mengenali seluruh dimensi wujud kita dan kapasitas yang kita miliki. Pengenalan diri seperti; “dari mana kita datang, untuk apa kita datang, dan akan kemana kita melangkah”, adalah kunci mengenal Zat Yang Maha Esa dan Maha Bijaksana. Imam Ali as berkata,

Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia telah mengenal Tuhannya.”

Manusia dengan kemampuan luar biasanya, memiliki dimensi materi (lahir) yang disebut dengan raga dan juga dimensi non materi (batin) yang dinamakan jiwa dan ruh. Hakikat manusia terletak pada ruh dan jiwanya. Jika ia bersih dan suci, maka akalnya juga akan tercerahkan dan mampu membedakan antara jalan yang benar dengan yang keliru. Dengan kata lain, kebahagiaan dan kesempurnaan luhur manusia bergantung pada program pensucian dan pencerahan jiwa, sebab jasad manusia lebih cenderung mengikuti hawa nafsu. Sebagai contoh, indera penglihatan kita akan menelusuri sebuah pemandangan setelah menerima dorongan hawa nafsu. Karena itu, manusia harus berupaya mengenal jiwanya dan menjaganya dari polusi berupa noda dan dosa sehingga tidak menyimpang dari jalan yang benar.

Menurut para ilmuan, saat ini psikoanalisis dan pengenalan diri merupakan metode penting untuk memahami penyakit-penyakit jiwa dan mental. Imam Ali as juga menganjurkan kita untuk menyingkap berbagai macam penyakit jiwa dan mental lewat metode pengenalan diri. Imam Ali as berkata,

Para pemikir wajib menelusuri dan menyelami jiwanya dan harus mengenal penyakit-penyakit jiwa dan ruhnya dalam konteks iman, akidah, akhlak, dan tatakrama. Selanjutnya, mereka harus merekam dalam benaknya atau menulis dalam catatannya penyakitpenyakit tersebut. Kemudian mereka harus mengambil langkah serius untuk menghilangkan penyakit jiwa dan ruh itu.

Secara umum, ketika para kekasih dan wali Allah Swt ingin mendorong manusia untuk meraih nilai-nilai luhur, terlebih dahulu mereka menyadarkan manusia pada batinnya sehingga mampu menyingkap hakikat wujudnya. Manusia yang menyelami batinnya dengan teliti dan mengidentifikasi kelemahan dan kekurangan dimensi internalnya, maka ia akan menemukan kedudukannya di dunia ini. Manusia akan memahami bahwa kehinaan, kebohongan, nifak dan kerusakan tidak selaras dengan esensi wujudnya. Ia adalah sosok yang bebas dan punya ikhtiyar untuk menentukan masa depannya dan menjaga keasrian dunia.

Manusia adalah ciptaan Tuhan dan keistimewaannya tidak diperoleh secara kebetulan sehingga bisa bersikap arogan dan mengeksploitasi segala yang diinginkan. Dari sisi lain, kapasitas dan kedudukan manusia juga tidak mengizinkannya untuk meremehkan atau menganggap rendah dirinya sendiri dan atau membiarkan orang-orang lain menginjak-injak hak dan harga dirinya.

Pengenalan diri akan memberikan arti dan makna lain bagi kehidupan manusia dan akan membuka peluang untuk meraih kebaikan dan keutamaan moral. Dalam kitab suci al-Quran, Allah Swt menyinggung masalah tersebut dan menyatakan bahwa jiwa manusia diciptakan dengan baik dan juga telah diilhami dengan kecenderungan untuk berbuat baik dan taqwa, namun keberuntungan hanya milik orang-orang yang mensucikan diri.

Pengenalan diri dan pensucian jiwa (Tazkiyyatun Nafs) memiliki beragam cara. Salah satu metode penting dalam masalah ini adalah perenungan atau kontemplasi (tafakkur) dan menyendiri. Manusia perlu melakukan instrospeksi diri dan mengevaluasi setiap tindakan yang telah dilakukan. Menyangkut masalah ini, para pakar psikologi menyarankan kita untuk berdiam diri di sebuh ruangan yang jauh dari gangguan dan kebisingan guna memusatkan pikiran. Kita dapat mengubah kepribadian kita dengan cara mengeveluasi pekerjaan sehari-hari. Selain itu, dengan mewujudkan energi positif dalam diri sendiri, kita akan mampu memilih nilai-nilai dan tujuantujuan baru bagi kehidupan kita.

Ketika Imam Ali Zainal Abidin as-Sajjad as ditanya tentang orang yang paling penting dan memiliki karakter sempurna di tengah seluruh masyarakat, Imam menjawab, “Orang yang tidak menilai dunia sama dengan jiwanya.” Artinya ia adalah orang menghargai kemuliaan dan harga diri. Dan jika seluruh isi dunia berada di salah satu timbangan, sementara kemuliaan dan harga diri berada di bagian lain, maka ia tidak akan bersedia melakukan transaksi dalam masalah ini.


Sumber: Risalah Huquq Imam Ali as-Sajjad as

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s