Belajar dari Keadilan Imam Ali as, Sang Khalifah Kaum Muslimin

heydar_by_montazerart-d4fwbse
Dikisahkan bahwa Imam Ali as telah kehilangan baju zirah/baju besi. Ternyata beliau dapati baju itu di tangan seorang Yahudi. Semua ciri baju zirah tersebut persis seperti punya Imam Ali as. Imam Ali as kemudian memintanya dengan baik kepada Yahudi tersebut, namun orang Yahudi tersebut tidak memberikannya dan mengatakannya bahwa baju zirah itu miliknya.

Imam Ali as merasa yakin bahwa baju zirah itu miliknya. Akhirnya beliau mengajak orang Yahudi tersebut ke pengadilan untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Imam Ali as, saat itu beliau sebagai khalifah kaum muslimin. Bisa saja jika berkehendak dengan menggunakan kekuasaannya, mengambil baju zirah tersebut dari orang Yahudi itu. Tapi, beliau tidak melakukan hal tersebut.

Tibanya di pengadilan, sang hakim meminta Imam Ali as untuk mendatangkan saksi atas pengaduannya itu. Kemudian imam pun mendatangkan Imam Hasan as, putranya sebagai saksi.

Namun, ternyata kesaksian tersebar tidak diterima karena dianggap tidak reable, saksi dari keluarga pelapor sendiri. Akhirnya Imam Ali as pun kalah di pengadilan tersebut karena tidak mendatangkan saksi dari luar.

Imam Ali kalah karena dianggap kurang reliable-nya saksi yang dihadirkannya (karena saksi adalah Al Hasan yang merupakan putranya sendiri, dianggap nepotisme)

Tidak masuk akal? Seorang khalifah tidak diterima kesaksiannya. Juga sang saksi bukan orang biasa, imam Hasan as, penghulu pemuda surga yang memiliki banyak keutamaan sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah saw…

Tapi demi Allah, peristiwa ini benar-benar dicatat dalam sejarah Islam. Padahal pengadilan islam secara logis mustahil menolak kesaksian cucunda Nabi Hasan Al Mujtaba.

Tapi ternyata hukum Islam yang ditegakkan saat itu menjunjung asas rasa keadilan bagi si Yahudi yang berperkara dengan imam Ali. Keadilan harus ditegakkan, prinsip saksi yang tidak nepotisme netral harus dijunjung. Hasilnya si Yahudi menang, baju zirah dinyatakan adalah miliknya dan ia tak terbukti mencurinya dari imam Ali. Tak ada umat Islam yang mengumpat, menuntut, tak ada yang berteriak-teriak di jalan dengan slogan bela ini, bela anu, sekalipun Khalifah Islam dikalahkan dan putranya ditolak di pengadilan.

Melihat hasil itu si Yahudi tercengang. Bagaimana mungkin ia bisa menang di kandang lawan dan yang ia lawan adalah pemimpin mereka?

Akhirnya ia mengakui mencuri baju zirah itu dan menyatakan masuk Islam melihat betapa adil pengadilan Islam yang benar-benar Islam, yaitu menjunjung tinggi keadilan bagi siapapun dan apapun agama dan statusnya. Bukan pengadilan Islam yg berlandaskan asas fanatisme.

Adakah pengadilan sekarang yang meniru seperti keadilan Imam Ali as?  Ulama atau siapa pun yang bersalah harus diadili dengan asas keadilan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s