Kasih Sayang dan Ungkapan Cinta Harus Ditanamkan

the-red-love-tree-in-the-field-with-white-flowers-5120x2880Salah satu kriteria keluarga ideal yaitu kebersamaan suami-istri untuk berkembang dan sempurna. Dalam lingkungan keluarga ideal, pasangan suami-istri bukan penghalang bagi yang lain dalam mengembangkan berbagai potensi dan bakat, tapi mereka bahkan saling mendorong dan memberi semangat.

Para psikolog keluarga memaparkan kriteria penting lainnya sebuah keluarga ideal, yaitu penanaman kasih sayang serta ungkapan cinta di antara pasangan. Para pakar penggiat masalah keluarga berpendapat bahwa salah satu kegagalan dalam kehidupan bersama adalah tidak adanya pengetahuan berkenaan cara tepat bertukar perasaan antar pasangan.

Kasih sayang dan rasa cinta memainkan peran penting terlebih di awal pernikahan. Akan tetapi, selang beberapa waktu karena ketidaktahuan dan kelalaian salah satu dari mereka atau keduanya, cinta pertama yang membara akan memudar dan perlahan saat-saat menjemukan datang menyapa.

Dalam kondisi ini, kritik dan saling tuduh ibarat cambuk yang singgah dalam kehidupan bersama. Suami-istri kalang kabut, kenapa kehidupan yang hangat dan manis berubah menjadi dingin. Mereka melupakan satu hal bahwa kasih sayang dan rasa cinta sangat penting untuk permulaan yang baik, bahkan tak kalah pentingnya untuk meneruskan kehidupan.

Jika sepuluh tahun pertama kehidupan bersama kita asumsikan sebagai permulaan transaksi kasih sayang. Maka di tahun-tahun berikutnya, kehidupan membutuhkan transaksi kasih sayang yang lebih besar, terlebih di tahun-tahun pertengahan dan terakhir kahidupan bersama terkadang suami-istri merasa sendiri, hal ini akan menghadirkan masalahmasalah baru.

Hati adalah sumber perasaan dan cinta bagi manusia. Oleh karena itu, perasaan dan kasih sayang negatif jangan sampai merasuki dimensi-dimensi hati. Suami-istri untuk memiliki hubungan harmonis dan ideal perlu menyediakan ruang untuk membina perasaan-perasaan positif dan membangun. Jika dalam lubuk hatinya, mereka saling menanamkan benih-benih kebencian, salah satu dari mereka atau keduanya akan tersapu badai. Oleh sebab itu, dalam transaksi kasih sayang dan rasa cinta, perasaan harus timbul dari diri yang paling dalam.

Hubungan komunikatif adalah cara lain untuk mengungkapkan perasaan dan rasa cinta. Berapa banyak orang menyimpan rasa cinta mendalam terhadap pasangannya, tapi ia tidak mampu untuk mengungkapkannya. Pada akhirnya, tidak tumbuh rasa tenang dalam diri dan pasangannya. Dalam kondisi ini, tirai-tirai keraguan dan rasa tidak aman membalut kehidupan.

Rasul Saw punya wasiat khusus mengenai penguatan hubungan suami-istri dalam lingkungan keluarga. Dalam hal ini, beliau Saw menilik sisi hubungan komunikatif antara suami-istri. Rasul Saw bersabda, “Barang siapa yang mengatakan kepada istrinya, ‘Aku mencintaimu‘, ungkapan ini tidak akan pernah sirna dari hatinya”.

Dr. Sharafi seorang psikolog keluarga mengatakan, “Tidak saling kenal dan tahu antar pasangan, rasa sombong tidak pada tempatnya, dan rasa malu berlebihan termasuk faktor-faktor tidak terlafalkannya rasa cinta verbal. Padahal mengutarakan kalimat-kalimat yang berbau perasaan dan cinta antar pasangan, tidak hanya berdampak terhadap hilangnya sebagian besar kesalahpahaman, bahkan akan menambah rasa cinta di antara mereka dan akan terjamin manisnya kehidupan. Pengabdian terhadap pasangan juga merupakan metode praktis dalam mengungkapkan perasaan cinta.

Pada fase ini, dengan bekal saling kenal kriteria masing-masing, mereka akan berusaha untuk melakukan sesuatu yang disenangi pasangannya. Dengan sikap seperti ini, ia juga telah meringankan beban pasangannya, dan juga akan membangkitkan perasaan ini pada pasangannya bahwa “kamu adalah orang yang bernilai dalam hidupku, dan keberadaanmu bagiku sangat berharga.

Akan tetapi, dalam melestarikan dan menguatkan hubungan kasih sayang, suami-istri tidak boleh menciptakan suasana yang memposisikan pasangannya sebagai tawanan hasratnya, atau merampas semua bentuk aktivitasnya. Sebagai contoh, seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta yang mengalami masalah ini menuliskan, “Saya bekerja di sebuah perusahaan swasta, dan telah menikah beberapa tahun, sampai sekarang kesempatan baik datang kepada saya dan saya menerima beberapa penugasan dari perusahaan. Hal ini disamping menambah pendapatan saya, juga berpengaruh terhadap perkembangan karir saya.

Akan tetapi sayangnya, karena satu hal, saya tidak dapat memanfaatkan kesempatan itu lagi. Masalahnya setiap kali saya membicarakan masalah penugasan, ia dengan ragu dan lunglai meminta saya untuk membatalkan pekerjaan ini, sampai ia berkata, “Jika kamu ingin membuktikan rasa cinta kepada saya, tidak semestinya kamu meninggalkan saya sendiri dan berangkat kerja. Sekarang, saya membandingkan keadaanku dengan tahun-tahun sebelumnya, saya melihat hasrat dan kekuatanku sudah lemah dan rapuh karena dampak ketergantungan dahsyat dan keinginan-keinginan tidak rasional istriku.”


SumberAgama dan Keluarga yang Sehat | IRIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s