Argumentasi atas Kemaksuman Para Nabi

616260_398343400219766_1349622180_o

Mukadimah

Meyakini kemaksuman para nabi dari maksiat dan dosa, yang disengaja atau tidak, merupakan  keyakinan yang pasti dan populer di kalangan Syi’ah Imamiyah yang telah diajarkan oleh para imam suci kepada syi’ah (pengikut setia) mereka. Mengenai masalah ini, mereka terlibat dalam dialog  dengan orang-orang yang menentang mereka melalui berbagai macam metode. Di antaranya, dialog yang dilakukan oleh Imam Ridha a.s. yang disebutkan dalam buku-buku hadis dan sejarah.

Dalil-dalil atas kemaksuman dapat dibagi menjadi dua kelompok; dalil akal dan dalil wahyu. Walaupun  menggunakan dalil kedua lebih banyak daripada dalil pertama, di sini kami hanya akan menjelaskan dua dalil pertama saja. Kemudian setelah itu kami akan menyebutkan dalil-dalil wahyu dari Al-Qur’an.

Dalil Akal atas Kemaksuman Para Nabi

Dalil akal yang pertama atas keterjagaan para Nabi dari maksiat ialah bahwa tujuan utama diutusnya para nabi itu ialah untuk memberikan petunjuk kepada seluruh umat manusia dan membimbing mereka kepada hakikat kebenaran dan tugas-tugas yang telah ditentukan oleh Allah swt. ke atas mereka. Pada hakikatnya, para nabi itu merupakan duta-duta Tuhan untuk seluruh umat manusia. Mereka mempunyai tugas untuk memberikan hidayah kepada jalan yang lurus. Apabila mereka sendiri tidak konsisten dengan ajaran Ilahi, atau bahkan mengamalkan yang sebaliknya; yang menyalahi kandungan risalah yang mereka emban, atau menyalahi ucapan yang mereka katakan dan pesan yang mereka berikan, pasti  umat manusia akan menilai bahwa perbuatan mereka tersebut sebagai penjelasan yang menyalahi ucapan mereka sendiri.  Dengan demikian, seorang pun tidak akan percaya lagi kepada ucapan mereka. Akibatnya,  tidak akan terealisasi secara sempurna tujuan diutusnya mereka.

Karenanya, hikmah dan rahmat Ilahi itu  menuntut bahwa para nabi itu harus maksum dan suci dari berbagai dosa. Bahkan tidak akan keluar perbuatan yang tidak baik dari diri mereka, sekalipun dalam bentuk lalai atau pun kelupaan, supaya umat manusia tidak berasumsi bahwa mereka menjadikan pengakuan lalai dan lupa sebagai alasan untuk melakukan dosa dan maksiat.

Dalil akal yang kedua atas kemaksuman para nabi adalah bahwa di samping ditugaskan untuk menyampaikan kandungan wahyu dan risalah kepada umat manusia dan memberikan petunjuk kepada mereka ke jalan yang lurus, para nabi juga  ditugaskan untuk mendidik dan membersihan jiwa mereka, dan mengantarkan individu-individu yang mempunyai potensi kepada peringkat yang terakhir dari peringkat kesempurnaan insani.

Artinya, di samping memberikan pengajaran dan tuntunan kepada umat manusia, para nabi juga mempunyai tugas penting lainnya, yaitu memimpin dan mendidik mereka secara menyeluruh, sekalipun mereka termasuk orang-orang yang berpotensi dan terpandang di masyarakat. Dan  kedudukan yang tinggi ini tidak mungkin dapat dicapai kecuali oleh orang-orang yang telah mencapai derajat kesempurnaan insani dan yang memiliki lebih banyak karakter kesempurnaan, yaitu karakter kemaksuman. Selain itu, peran sikap dan perilaku seorang pendidik itu lebih berpengaruh daripada ucapannya dalam proses pembinaan. Jika ditemukan berbagai kekurangan dan kesalahan pada perbuatannya, ucapannya itu pasti tidak lagi berarti.

Dengan demikian, tujuan Ilahi dari diutusnya para nabi – sebagai penuntun dan pendidik umat manusia– hanya bisa terealisasi secara penuh apabila mereka itu maksum dan terpe-lihara dari berbagai macam maksiat, kesalahan, dan penye-lewengan, baik dalam ucapan maupun perbuatan mereka.

Dalil Wahyu atas Kemaksuman Para Nabi

Pertama, Al-Qur’an menggunakan istilah al-mukhlas pada sebagian individu ketika mereka tidak tersentuh oleh bujuk-rayu setan.  Dari sinilah setan bersumpah untuk menyesatkan seluruh Bani Adam, kecuali mereka yang mukhlas, sebagaimana terdapat dalam firman-Nya:

“Maka dengan keagungan-Mu aku akan berusaha sekuat tenaga untuk meyesatkan seluruh umat manusia kecuali hamba-hamba-Mu  yang mukhlas” (Qs. Shad: 82-83).

Tidak diragukan lagi bahwa sebab putus asanya setan dari menyesatkan orang-orang yang mukhlas itu karena mereka suci dan terjaga dari dosa dan maksiat. Kalau tidak demikian, musuh-musuh mereka itu tentu akan dapat menggoda mereka dan penyesatan setan dapat menyentuh mereka. Dan jika mereka pun bisa disesatkan, setan tidak akan membiarkan mereka sedetik pun. Oleh karena itu, arti al-mukhlash itu identik dengan arti al-ma’sum. Walaupun tidak dijumpai argu-men yang menunjukan kekhususan sifat mukhlas ini bagi para nabi, akan tetapi tidak diragukan lagi bahwa sifat ini disan-dang oleh mereka. Al-Qur’an telah memberikan penilaian atas sebagian para nabi dengan sifat al-mukhlasin:

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim Ishak dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan manusia akan akhirat” (Qs. Shaad: 45-46).

“Dan ceritakanlah kisah Musa di dalam al-Buku (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang mukhlas dan seorang rasul dan nabi” (QS. Maryam: 51).

Begitu pula ihwal disucikannya Nabi Yusuf a.s. dari peyelewengan ketika beliau berada pada kondisi  yang sangat sulit, karena beliau adalah hamba Allah yang mukhlas. “Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba-Ku yang mukhlas” (Qs. Yusuf:4).

Kedua, Al-Qur’an telah mewajibkan seluruh umat manusia untuk mentaati Nabi secara mutlak:

 “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan untuk ditaati dengan izin Allah.” (Qs. An-Nisa: 64).

Ketaatan umat secara mutlak kepada para Nabi hanya terjadi jika para nabi itu berada di bawah  ketaatan kepada Allah swt. dan sebagai perpanjangan dari-Nya, sehingga ketaatan kepada para nabi itu tidak menafikan ketaatan kepada Allah swt. Kalau tidak demikian, perintah secara mutlak untuk mentaati Allah swt. itu bertentangan dengan perintah secara mutlak kepada orang-orang yang melakukan kesalahan dan penyelewengan.

Ketiga, Al-Qur’an telah mengkhususkan kedudukan Ilahi kepada mereka yang sama sekali tidak berbuat zalim.  Allah swt.  berfirman ketika menjawab permintaan Nabi Ibrahim a.s. akan kedudukan imamah untuk putra-putranya: “Janjiku tidak akan meliputi orang-orang yang zalim.”

Kita tahu bahwa maksiat itu merupakan perbuatan zalim -paling tidak- atas diri sendiri. Dan setiap pelaku maksiat adalah manusia zalim menurut Al-Qur’an. Dengan begitu, para nabi dan orang-orang yang mempunyai kedudukan Ilahi (kenabian dan risalah) pasti suci dari kezaliman dan maksiat. Argumentasi atas kemaksuman para Nabi ini bisa juga dijumpai pada ayat dan riwayat yang lain yang tidak mungkin kami jelaskan di sini.

Rahasia  Kemaksuman Para Nabi

Di akhir pelajaran ini, barangkali tepat bila kami membubuhkan catatan tentang falsafah kemaksuman para nabi dalam hal menerima wahyu. Yaitu, bahwa mengetahui wahyu itu adalah perkara yang tidak mungkin mengalami kesalahan. Dan nabi-nabi yang berhak menerima wahyu akan mendapatkan hakikat ilmu secara hudhuri, mereka menyak-sikan hubungan ilmu ini dengan Pemberi Wahyu (Allah), baik  melalui perantara malaikat atau tidak. Maka, tidak mungkin penerima wahyu akan merasa ragu; apakah yang diterimanya itu berupa wahyu atau bukan? Atau siapakah yang mewahyukan kepadanya? Atau apakah kandungan wahyu yang diturunkan kepadanya? Apabila terdapat sebagian hikayat yang menceritakan bahwa ada seorang nabi yang merasa ragu dengan kenabiannya, atau ia tidak mengetahui kandungan wahyu, atau ia tidak mengetahui siapakah pemberi wahyu itu, hikayat semacam ini adalah dusta dan dibuat-buat. Kebatilan kisah semacam ini sama dengan ungkapan: ia ragu terhadap wujudnya sendiri, atau ragu terhadap pengetahuannya yang bersifat hudhuri dan wijdani.

Adapun falsafah kemaksuman para nabi dalam menjalankan tugas-tugas Ilahi seperti menyampaikan risalah Allah kepada seluruh umat manusia, ini memerlukan premis sebagai berikut:

Suatu perbuatan manusia akan sempurna apabila terdapat di dalam hatinya kecondongan kepada sesuatu yang diinginkannya. Dan kecondongan itu muncul karena berbagai faktor yang menentukan jalan agar ia sampai kepada tujuan yang diinginkannya tersebut dengan bantuan berbagai pengetahuan. Kemudian, ia akan melakukan perbuatan yang sesuai dengan tujuannya tersebut. Apabila terdapat kecon-dongan dan keinginan yang saling bertentangan, ia berusaha untuk mengetahui manakah yang lebih utama dan  paling banyak nilainya. Ketika itu ia akan memilih yang lebih baik lalu melakukannya. Akan tetapi terkadang –akibat adanya kekurangan pada pengetahuannya– ia keliru dalam menen-tukan mana yang lebih utama, atau karena ia tidak menge-tahui manakah yang lebih bermaslahat, atau karena ia telah terbiasa dengan hal-hal yang buruk, maka ia memilih hal-hal yang buruk pula, dan tidak ada kesempatan baginya  untuk berfikir jernih dan memilih yang lebih bermaslahat.

Oleh karena itu, semakin pengetahuan, kesadaran dan  perhatian seseorang terhadap berbagai hakikat itu luas dan kuat, dan semakin kuat kehendaknya untuk menentukan kecondongan-kecondongan dan reaksi-reaksi internal, niscaya pilihannya akan lebih baik, dan lebih terjaga dari berbagai kesalahan dan penyimpangan.

Dari sinilah sebagian individu yang mempunyai pengetahuan dan potensi yang tinggi membekali dirinya dengan kesadaran yang tinggi dan pendidikan yang bersih. Orang-orang semacam ini pasti akan sampai ke peringkat kesempurnaan dan keutamaan. Mungkin juga mereka ini akan mencapai peringkat yang mendekati kemaksuman. Bahkan mungkin tidak terlintas dalam benak mereka pikiran untuk berbuat dosa dan hal-hal yang buruk. Sebagaimana tidak seorang pun yang berakal sehat mempunyai pikiran untuk minum racun atau ramuan yang dapat membinasakan dirinya atau meng-konsumsi sesuatu yang kotor dan berbau busuk.

Maka itu,  apabila kita berasumsi adanya seseorang yang kapasitasnya telah terpenuhi untuk memperoleh berbagai macam hakikat, ruh  dan hatinya telah mencapai derajat yang tinggi, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an: “Hampir-hampir minyaknya itu dapat menerangi walaupun tidak disentuh oleh api”,  lantaran  kapasitasnya yang sudah penuh, jiwanya yang bersih, memperoleh pendidikan Ilahi serta ditopang dengan ruhul qudus. Orang semacam ini pasti akan melewati tangga-tangga kesempurnaan dengan cepat yang tidak bisa dibayangkan. Bahkan bisa jadi ia akan melewati jalan yang tidak mungkin dilewati oleh orang lain selama seratus tahun, dan sangat mungkin ia akan mengungguli orang lain walaupun ia masih kanak-kanak, bahkan sekalipun dia masih berupa janin. Bagi orang semacam ini akan tampak jelas nistanya perbuatan maksiat dan dosa, persis dengan tampak-nya bahaya minum racun, sesuatu yang berbau busuk dan kotoran-kotoran bagi orang lain. Sebagaimana orang  biasa itu menjauhi hal-hal yang berbahaya dan kotor tanpa dipaksa, seorang yang maksum pun akan menjauhi berbagai maksiat dan dosa tanpa menafikan kehendak dan usaha bebasnya sama sekali.[]


Sumber: al-shia.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s