Sifat-Sifat Allah

876077-abstract-leaves-multicolor-nature-rainbows

Mukaddimah

Telah kami jelaskan pada pelajaran yang lalu, bahwa sebagian besar argumen filosofis itu digunakan untuk menetapkan dzat yang dikenal sebagai wajibul wujud [Baca disini]. Jika argumen itu ditambahkan dengan argumen-argumen yang lain, maka akan dapat ditetapkan sifat-sifat salbiyah (negatif) dan sifat-sifat tsubutiyah (positif) pada wajibul wujud.

Melalui semua argumen itu kita mengenal Allah SWT dengan segala sifat-Nya yang khas yang membedakan dzat-Nya dari makhluk-makhluk-Nya. Jika tidak demikian, maka sekedar menetapkan bahwa Allah itu adalah wajibul wujud tidaklah memadai untuk mengenal Allah sebagaimana semestinya. Karena, sangat mungkin sebagian orang mempunyai keyakinan bahwa materi atau energi—misalnya—merupakan mishdaq dari konsep wajibul wujud.

Dari sinilah penting bagi kita—dari satu sisi—untuk menetapkan sifat-sifat salbiyah pada Allah, supaya kita dapat mengetahui bahwa wajibul wujud itu suci dari sifat-sifat yang khas pada makhluk-makhluk-Nya, yang tidak mungkin diterapkan pada dzat-Nya.

Dari sisi lain, kita juga harus menetapkan sifat-sifat tsubutiyah pada Allah, agar menjadi jelas bahwa Dialah yang layak untuk disembah, dan agar terbuka peluang untuk menetapkan semua keyakinan-keyakinan lainnya seperti Kenabian, Ma’ad dan masalah-masalah rinciannya.

Melalui argumen yang lalu, kita telah sampai pada kesimpulan bahwa wajibul wujud itu tidak membutuhkan sebab. Bahkan, Dialah sebab bagi semua realitas yang mungkin. Jadi, kita telah menetapkan dua sifat bagi wajibul wujud:

Pertama, bahwa wajibul wujud tidak butuh kepada selain-Nya, karena kalau ia butuh kepada wujud yang lain sekecil apa pun, maka wujud yang lain itu merupakan sebab bagi-Nya. Dan telah kita ketahui makna sebab dalam Filsafat, yaitu bahwa wujud sesuatu itu dibutuhkan untuk keberadaan sesuatu yang lain.

Kedua, bahwa semua yang mungkin (mumkinul wujud) adalah akibat dan butuh kepada sebab. Jadi, wajibul wujud merupakan sebab utama bagi kemunculan dan keberadaan wujud-wujud mungkin tersebut.

Berdasarkan dua kesimpulan ini, kami berusaha membahas konsekuensi masing-masing yang berhubungan dengan kedua sifat tersebut. Kita juga akan membuktikan adanya sifat-sifat negatif dan sifat-sifat positif bagi wajibul wujud. Tentunya, untuk menetapkan tiap-tiap sifat telah dibawakan argumen-argumen yang beragam yang terdapat dalam kitab-kitab Filsafat dan Kalam. Akan tetapi, demi memudahkan pemahaman secara merata dan menjaga keutuhan antara satu pelajaran dengan pelajaran yang lain, kita akan memilih argumen-argumen yang ada kaitannya dengan argumen yang telah lalu.

Azali dan Abadinya Allah SWT

Apabila realitas itu akibat dan membutuhkan realitas yang lain, maka mujudnya itu bergantung kepada wujud selainnya. Dan apabila wujudnya itu tiada, tentu ia tidak lagi mewujud. Artinya, apabila wujud itu sirna pada saat tertentu, hal ini menunjukkan ketergantungan (faqr)-nya, butuh kepada yang lain, dan menunjukkan dirinya sebagai mumkinul wujud. Mengingat bahwa wajibul wujud itu ada dengan sendirinya dan tidak membutuhkan kepada yang selainnya, ia adalah abadiyul wujud (wujudnya abadi dan azali).

Dari uraian di atas, kita dapat menetapkan dua sifat pada wajibul wujud. Pertama, bahwa wajibul wujud itu bersifat azali, yakni Dia tidak didahului oleh ketiadaan. Kedua, Dia adalah abadi, yakni tidak akan tersentuh oleh ketiadaan selama-lamanya. Terkadang kedua sifat ini disederhanakan ke dalam sifat sarmadi.

Berdasarkan penjelasan ini, setiap sesuatu yang didahului oleh ketiadaan, atau menyimpan kemungkinan menjadi sirna walaupun hanya sekejap, ia bukanlah wajibul wujud. Dengan demikian jelaslah kemustahilan asumsi wajibul wujud pada hal-hal material.

Sifat-sifat Negatif

Sifat lainnya yang merupakan keniscayaan wajibul wujud adalah basathah (sederhana dan tidak tersusun). Bahwa setiap yang tersusun pasti membutuhkan bagian-bagian, sedangkan wajibul wujud suci dari segala kebutuhan. Apabila kita berasumsi bahwa wajibul wujud itu tersusun, akan tetapi bagian-bagiannya tidak ada secara fi’li (aktual) dan akan muncul secara bil quwwah (potensial)—layaknya sebuah garis yang diasumsikan terbelah menjadi dua—asumsi ini batil. Karena, sesuatu yang mempunyai bagian-bagian secara bil quwah bisa dibagi secara rasional, walaupun secara fi’li (aktual) bagian-bagiannya itu belum terealisasi di luar. Asumsi bahwa ia dapat dibagi ialah bahwa secara keseluruhan ia bisa sirna, seperti garis yang panjangnya satu meter. Apabila garis itu dibagi dua, garis yang panjangnya satu meter tersebut tidak ada lagi. Dan telah kita ketahui sebelumnya, bahwa wajibul wujud tidak mungkin mengalami kefanaan dan kesirnaan.

Mengingat bahwa susunan dari bagian-bagian bil fi’li (aktual) dan bil quwah (potensial) itu termasuk karakter jism (benda), dapat ditetapkan bahwa setiap yang bendawi tidak mungkin sebagai wajibul wujud. Dengan kata lain, berdasarkan hal di atas itu kita dapat menetapkan tajarrud (kenon-materian) Allah. Menjadi Jelas pula bahwa Allah tidak mungkin dapat dilihat dengan mata kepala, tidak mungkin dapat dijangkau dengan indra apa pun, karena setiap yang dapat dijangkau oleh indra merupakan sifat-sifat khas benda dan materi.

Demikian pula dengan ternafikannya ihwal kebendaan dari dzat Allah, akan ternafikan pula semua sifat khusus benda dari wajibul wujud, seperti butuh kepada tempat dan masa. Karena, tempat ialah sesuatu yang memiliki bentuk dan panjang. Begitu pula segala sesuatu yang bersifat masa ialah yang dapat dibagi kepada ekstensi dan durasi masa. Dua hal ini merupakan bagian-bagian yang bil quwah (potensial) pada benda.

Dengan demikian, kita sama sekali tidak mungkin menggambarkan Allah SWT itu sebagai dzat yang butuh kepada tempat dan masa. Begitu pula, segala sesuatu yang membutuhkan tempat dan masa bukanlah wajibul wujud. Kemudian dengan ternafikannya waktu dari wajibul wujud, akan ternafikan pula gerak, perubahan dan penyempurnaan dzat. Karena, setiap gerak atau perubahan apa pun tidak mungkin terwujud tanpa masa.

Oleh karena itu, orang-orang yang meyakini bahwa Allah SWT berada pada satu tempat seperti‘arsy atau menisbahkan gerak dan turun dari langit kepada-Nya, atau meyakini bahwa Allah bisa dilihat dengan mata, atau dapat berubah dan meningkat, berarti mereka tidak mengenal Allah dengan sebenarnya. Secara global, setiap arti dan konsep yang menunjukkan kekurangan, keterbatasan dan kebutuhan, ternafikan dari dzat Allah. Inilah arti sifat salbiyah Ilahiyah (sifat-sifat negatif bagi Allah).

Sebab Pengada

Kesimpulan kedua yang dapat kita ambil dari argumen yang terdahulu, ialah bahwa wajibul wujudmerupakan sebab bagi keberadaan makhluk-Nya. Berikut ini kami akan membahas konsekuensi dari kesimpulan ini. Pertama-tama, kami akan jelaskan macam-macam sebab, kemudian menyelidiki keistimewaan-keistimewaan Sebab Ilahi.

Sebab—menurut maknanya yang umum—dapat diterapkan kepada setiap realitas yang kepadanya realitas lain bergantung. Pada pengertian ini, sebab mencakup syarat-syarat dan sebab penyiap (illah mu’iddah). Dan sebab semacam ini tidak berlaku pada Allah. Tidak adanya sebab bagi Allah SWT artinya bahwa Dia—sedikit pun—tidak mempunyai ketergantungan dengan realitas yang lain. Maka itu, tidak mungkin kita menyatakan bahwa Allah SWT mempunyai syarat dan pengada (bagi wujud-Nya).

Adapun makna Allah sebagai sebab bagi seluruh realitas ialah bahwa sebagai pencipta dan pengada, Dia merupakan makna khusus dari ‘illah fa’iliyah (sebab pelaku, efficient cause). Untuk menjelaskan poin ini, terlebih dahulu kita harus mengetahui secara global akan macam-macam sebab. Penjelasan yang lebih luas mengenai hal ini bisa dirujuk ke kitab-kitab Filsafat.

Telah kita ketahui, bahwa secara pasti munculnya tumbuh-tumbuhan di atas bumi ini disebabkan oleh adanya bibit-bibit, tanah yang subur, air dan udara. Di samping itu, harus terpenuhi faktor-faktor lainnya seperti; faktor alami atau insani yang menebarkan bibit-bibit tersebut di atas tanah dan mengalirkan air ke atasnya. Berdasarkan definisi sebab yang telah kami jelaskan, semua faktor-faktor ini merupakan sebab munculnya tumbuh-tumbuhan tersebut.

Dari aspek-aspek tertentu, sebab-sebab tersebut dapat diklasifikasikan kepada beberapa macam. Misalnya, sebab-sebab yang keberadaannya selalu dharuri (mesti) bagi terwujudnya akibat dinamakan sebagai sebab hakiki. Sekelompok sebab yang kesinambungannya tidak diperlukan untuk kesinambungan wujud akibat, seperti petani kaitannya dengan tanaman, dinamakan sebagai sebab penyiap. Ada pula sebab-sebab yang posisinya dapat digantikan oleh sebab-sebab selainnya dinamakan sebagai sebab alternatif (illah badilah). Sedangkan sebab-sebab yang posisi dan pengaruhnya tidak mungkin digantikan oleh selainnya dinamakan sebagai sebab definitif (‘illah munhasirah).

Terdapat satu macam sebab yang berbeda dengan sebab-sebab tersebutkan pada realitas tumbuh-tumbuhan di atas. Sehubungan dengan sebab ini, kita dapat temukan mishdaq-nya pada jiwa manusia, sebagian keadaan dan kondisi kejiwaannya. Ketika seseorang menciptakan suatu bayangan di dalam benaknya atau bertekad mengerjakan suatu tindakan, terjadilah di dalam dirinya suatu fenomena nafsiyah (kejiwaan) yang dinamakan dengan gambaran mental (shuroh dzihniyah), atau kehendak yang keberadaannya merupakan akibat dan bergantung kepada keberadaan jiwa (nafs). Jelas, akibat semacam ini tidak memiliki kemandirian sedikit pun dari sebabnya, dan tidak mungkin berpisah dan mandiri dari wujud sebabnya.

Akan tetapi, pada saat yang sama, kita perhatikan bahwa penciptaan jiwa (fa’iliyah nafs) atas gambaran di mental atau atas kehendak memerlukan syarat-syarat tertentu yang muncul lantaran kekurangan, keterbatasan dan kemungkinan (imkan) wujud yang merupakan sifat-sifat substansial jiwa.

Oleh karena itu, penciptaan (fa’iliyah) wajibul wujud atas alam semesta jauh lebih hebat dan lebih sempurna dibandingkan penciptaan jiwa atas keadaan dan pengalaman-pengalaman dirinya. Kita tidak akan mendapatkan padanan efesiensi (fa’iliyah) Tuhan atas seluruh efesiensi, karena efesiensi Allah sama sekali tidak butuh kepada apapun untuk mengadakan akibat-Nya, yaitu akibat yang sekujur wujudnya hanyalah ketergantungan mutlak kepada-Nya.

Keistimewaan Sebab Pengada

Berdasarkan penjelasan di atas, kami dapat menyebutkan sifat-sifat khas yang penting yang dimiliki oleh Sebab Pengada.

Pertama, Sebab Pengada memiliki seluruh kesempurnaan akibatnya secara lebih sempurna, sehingga ia bisa memberikan kesempurnaan kepada setiap akibat sesuai dengan kapasitas wujudnya masing-masing. Berbeda halnya dengan sebab penyiap dan sebab materi yang berlaku sebagai pengadaan lahan yang sesuai untuk perubahan pada wujud akibat, bukan untuk wujudnya itu sendiri. Oleh karena itu, sebab penyiap dan sebab materi tidak mesti mencakup kesempurnaan-kesempurnaan akibatnya.

Misalnya, tersedianya tanah itu tidak perlu kepada kesempurnaan yang dimiliki oleh tumbuh-tumbuhan, atau keberadaan kedua orang tua tidak butuh kepada kesempurnaan anak-anaknya. Adapun Allah SWT sebagai sebab pengada (illah mujidah), mesti memiliki semua kesempurnaan-kesempurnaan wujud segala sesuatu, di samping sifat basatah-Nya (ketaktersusunan).

Kedua, Sebab Pengada itu mewujudkan akibatnya dari ketiadaan. Yakni, Dia menciptakan (khalq) akibatnya. Akan tetapi, penciptaannya ini tidak mengurangi wujudnya, sedikitpun.Berbeda sebab alami (fa’il tabi’i) yang aktif; mengubah akibat yang ada dengan mengerahkan seluruh potensi. Apabila diasumsikan ada sesuatu yang terpisah dari dzat wajibul wujud, ini berarti bahwa dzat Allah dapat dibagi dan berubah. Padahal, ini telah jelas kemustahilannya.

Ketiga, Sebab Pengada merupakan sebab sejati (‘illat hakikiyah). Oleh sebab itu, keberadaannya merupakan dharuri (niscaya) untuk kesinambungan wujud akibatnya. Berbeda dengan sebab penyiap; kesinambungan akibatnya tidak lagi butuh kepadanya.

Searah dengan penjelasan ini, maka apa yang telah disampaikan oleh sebagian mutakalimin Ahli Sunnah bahwa kekekalan alam semesta tidak butuh kepada Allah SWT, begitu juga apa yang dikatakan oleh sebagian filsuf Barat, bahwa alam materi ini laksana jam yang telah diatur dan diukur putaran waktunya lalu secara otomatis bergerak dengan sendirinya, maka alam semesta ini; tidak butuh lagi kepada Allah dalam melanjutkan berbagai aktifitasnya, pandangan-pandangan seperti ini jauh dari kebenaran. Karena, alam wujud ini selalu butuh dan bergantung kepada Allah SWT dalam segala keadaannya. Apabila Allah menghentikan anugerah-Nya, meski untuk sekejap saja, tidak akan ada lagi yang tersisa dari alam tersebut.[]

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s