Belajar Singkat Ilmu Kalam: Seri I

5GI1iS (1)

A. Pendahuluan

Dalam Islam pembahasan mengenai masalah ketuhanan terdapat dalam bidang filsafat dan kalam (teologi) Pengkajian filosof muslim mengenai ketuhanan biasanya berkisar pada menetapkan adanya Tuhan berdasarkan argumen rasional, hubungan zat Tuhan dengan sifat-sifatNya, hubungan perbuatan Tuhan dengan manusia, hakekat qadha dan qadhar Tuhan, serta hakekat kejahatan dan hubungannya dengan Tuhan. Jika filsafat lebih mendasarkan argumentasinya pada akal, maka ilmu kalam lebih mendasarkan argumentasinya pada naql (wahyu).

Bagi pemikiran teologi (kalam), agama adalah persoalan hidup dan mati (ultimate concern) yang tidak dapat dengan mudah diganti. Pada awal teologi dipandang sebagai bagian dari hukum (fiqh), namun kemudian wacana teologi berkembang secara massif hingga melahirkan berbagai aliran yang bertentangan satu sama lain dalam sebuah ilmu yang disebut dengan ilmu kalam. Persoalan yang dihadapi oleh ilmu kalam ialah bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan mendasar dalam Islam dengan bukti yang meyakinkan, yaitu mengenai wujud Allah, sifat-sifatNya, perbuatan Tuhan, Rasul, Alquran, dan Eskatologi. Mu’tazilah merupakan aliran pertama dalam teologi yang fokus pada pembahasan seputar tema-tema ketuhanan yang kemudian disusul oleh munculnya aliran Asy’ariyah, Maturudiyah, dan lain-lain.

Sekalipun terjadi perbedaan yang cukup signifikan dalam pembahasan mengenai masalah-masalah ketuhanan, namun kesemuanya itu berdasarkan pada aksioma yang sama, yaitu La ilaha illallah sebagai kalimat Tauhid yang menjadi fondasi utama dalam akidah Islam. Kalimat Tauhid tersebut terdiri atas dua frase, yaitu ”La ialaha” sebagai frase negasi (nafy) yang menegasikan segala eksistensi wujud mutlak baik dalam pahaman manusia serta frase ”Illallah” sebagai frase afirmasi (itsbat) yang menyiratkan pengakuan akan eksistensi Allah sebagai Wujud Mutlak yang mesti diimani secara total melebihi apa pun.

Dalam Islam, kalimat La ilaha illallah diterima sebagai postulat yang menjadi penanda keberislaman dan keberimanan seseorang. Hanya saja, penafsiran tentang kalimat Tauhid itulah yang kemudian terjadi perbedaan dan perdebatan hingga melahirkan banyak aliran pemikiran dalam memahami konsep ketuhanan dalam Islam.

B. Perdebatan Epistemologi Ketuhanan (Manhaj Kalam)

Bagaimana manusia bisa mengetahui dan meyakini akan eksistensi Tuhan?, merupakan pertanyaan dasar seputar epistemologi ketuhanan atau manhaj kalam. Pertanyaan ini menjadi sangat penting untuk mengetahui kerangka paradigmatik dari masing-masing aliran teologi dalam menyusun kerangka dan formulasi konsep teologinya. Secara umum perbedaan dalam manhaj kalam didasarkan pada perbedaan dalam memposisikan peran akal dan wahyu dalam kaitannya dengan konsep ketuhanan.

Mu’tazilah dianggap sebagai aliran yang sangat menitikberatkan peran akal dalam manhaj kalamnya. Hal ini bertentangan secara diametral dengan aliran Asy’ariyah yang lebih mendasarkan manhaj kalamnya pada pendekatan skriptualistik dalam memahami nash Al-quran maupun hadis. Mu’tazilah memberikan kepercayaan yang penuh pada kekuatan akal manusia. Epistemologi kaum Mu’tazilah ini ialah mempergunakan akal dan kemudian memberi interpretasi pada teks atau nas wahyu sesuai dengan pendapat akal. Sehingga kaum Mu’tazilah banyak memakai ta’wil dalam memahami nas wahyu atau dengan kata lain, Mu’tazilah lebih cenderung membaca yang tersirat dari teks. Itulah sebabnya Mu’tazilah kemudian berkembang menjadi sebuah aliran kalam yang bercorak rasional dan bahkan cenderung bersifat liberal dalam pemikiran kalamnya.

Berbeda secara diametral dengan Mu’tazilah, kelompok Asy’ariyah lebih cenderung bergantung pada wahyu dalam memahami konsep-konsep ketuhanan. Berkebalikan dengan Mu’tazilah, kalam Asy’ariyah terlebih dahulu beranjak kepada teks wahyu dan kemudian memberikan argument-argumen rasional untuk teks tersebut. Jika Mu’tazilah banyak berpegang pada ta’wil atas teks, Asy’ariyah lebih berpegang pada arti harfiah dari teks wahyu. Dengan kata lain, kelompok Asy’ariyah membaca teks secara tersurat. Akhirnya manhaj kalam Asy’ariyah jatuh pada manhaj kalam tradisional yang tidak terlalu banyak melibatkan logika dan filsafat dalam memahami petunjuk nas.

Kalam Asy’ariyah dalam manhaj kalamnya lebih cenderung memandang kalimat tauhid pada sebagai kalimat yang menegasi (nafy). Dan implikasinya menolak segala bentuk ta’wil dan analogi menyangkut masalah-masalah ketuhanan. Perkembangan selanjutnya dari kalam Asy’ariyah, lebih banyak diwarnai dengan corak sufistik, khususnya dari al-Ghazali, al-Baqillani, dan al-Juwaini. Mereka inilah yang kemudian mengembangkan pemikiran kalam Asy’ariyah. Sehingga tampak di permukaan, khususnya di kalangan umat Islam Indonesia, pemikiran kalam Asy’ariyah yang telah diramu dan diwarnai oleh pemikiran sufistik al-Ghazali dan tokoh tasawuf lainnya. Sehingga terkesan manhaj kalam Asy’ariyah adalah manhaj kalam yang cenderung sufistik. Manhaj dan konsep kalam Asy’ariyah juga menemukan pembelaan filosofisnya melalui seorang mutakallim Asy’ariyah yang juga seorang filosof muslim terkemuka yaitu Fakhr al-Din al-Razi. Secara umum kalam Asy’ariyah menjadi pemikiran kalam yang mainstream dalam dunia Ahlussunnah (Sunni).

Pandangan kalam Asy’ariyah ini memiliki kesamaan dengan pandangan kalam kelompok Wahabi yang aksentuasi manhaj kalamnya pada purifikasi akidah (Tauhid) umat Islam. Segala bentuk ta’wil atau analogi tentang Allah merupakan sebuah pemahaman yang bertentangan dengan kalimat Tauhid, sehingga dapat merusak Tauhid umat. Pada praksisnya, manhaj kalam Wahabi justru lebih memperlihatkan ortodoksi pemikiran dibandingkan Asy’ariyah. Bahkan lebih dari Asy’ariyah, kalam Wahabi sangat tekstual dalam memahami nas-nas teologi dalam Alquran maupun hadis dan sangat menentang segala bentuk penggunaan akal dalam pandangan teologi.

Di samping kalam Asy’ariyah dan Wahabi, aliran kalam yang juga eksis di dunia Sunni adalah kalam Maturudiyah. Secara umum, manhaj kalam Maturudiyah berposisi sebagai sintesa dari manhaj kalam Mu’tazilah yang cenderung “liar” dalam penggunan akal serta manhaj kalam Asy’ariyah yang sangat menekankan pada otoritas makna harfiah nas. Sehingga manhaj kalam Maturudiyah tampak mengambil jalan tengah antara dikotomi akal dan naql (nas) Bebas dari ikatan fanatisme terhadap ortodoksi tradisional tetapi tetap mempedomani naql sebagai kebenaran mutlak. Akal bukan disejajarkan dengan naql, melainkan digunakan untuk memahami naql. Dengan demikian manhaj kalam Maturudiyah terlihat berada pada posisi tengah antara manhaj kalam Mu’tazilah yang rasional dan manhaj kalam Asy’ariyah yang literal. Dari sisi naql, manhaj kalam Maturudiyah lebih dekat dengan Asy’ariyah, sedangkan dari segi penggunaan akal, manhaj kalam Maturudiyah lebih dekat dengan Mu’tazilah. Corak manhaj kalam Maturudiyah ini berimplikasi pada bangunan konsep teologinya yang cenderung lebih rasional dibandingkan Asy’ariyah namun tidak seliberal Mu’tazilah.

Berbeda dengan aliran-aliran kalam yang ada di dunia Sunni, di dunia Syiah bangunan konsep kalam termasuk belakangan baru tersusun secara sistematis. Secara konseptual, pemikiran kalam Syiah baru tersusun secara sistematis oleh Nashr al-Din al-Thusi, seorang ulama Syiah yang hidup sekitar abad 14 Masehi. Nashr al-Din al-Thusi merupakan seorang ulama yang juga seorang filosof aliran paripatetik (masysya’iyyah). Sehingga dalam manhaj kalamnya sangat diwarnai oleh corak berpikir filsafat paripatetik. Secara umum, manhaj kalam di dunia Syiah sangat memberikan porsi yang cukup besar dalam penggunaan akal. Hal ini didasarkan pada frase nafy dalam kalimat Tauhid, yang meniscayakan pengingkaran rasional terhadap segala macam pahaman tentang Ilah atau wujud mutlak. Frase afirmasi “Illallah” merupakan simbolitas dari capaian akhir pencaharian rasionalitas manusia akan Sang Wujud Mutlak yang keberadaanNya bersifat Wajib al-Wujud. Posisi akal dan naql dalam manhaj kalam Syiah didudukkan dalam porsi yang sama sebagai penuntun kebenaran fitrawi manusia akan sang Khalik. Rasio manusia menuntun manusia pada aksioma dasar akidah, khususnya tentang kebenaran eksistensi dan keesaan Allah, kemestian akan keadilanNya, kemestian akan adanya kenabian dan imamah, serta keniscayaan akan adanya hari kebangkitan. Kedudukan nas kemudian berposisi sebagai peneguh, penjalas, dan memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai pembahasan teologi yang tidak mampu didedah oleh nalar an sich manusia.

Ma’rifatullah dalam pandangan kalam Syiah merupakan pangkal agama yang harus dipahami dalam kerangka pembuktian rasional. Dalam keyakinan Syiah mengimani keberadaan Allah dan keesaanNya dengan pendekatan rasional merupakan kemestian fitrawi, karena keimanan kepadaNya tidak boleh didasarkan pada taklid semata. Itulah sebabnya dalam manhaj kalam Syiah peran rasionalitas filsafat sangat signifikan dalam menyusun pandangan kalamnya. Hal ini dikarenakan, pada umumnya mutakallim Syiah adalah juga seorang filosof.


Sumber: Dr. Sabara Nuruddin, S. HI. M. Fil.I

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s