Dialog Yohanes dengan Ulama Mazhab Yang Empat [Bag. III]

Isfahan

Sebelumnya…

Adapun dari sisi ilmu, Rasulullah Saw telah bersabda, `Saya adalah kota ilmu dan `Ali adalah pintunya.` Akal dapat memahami bahwa seseorang tidak dapat mengambil manfaat sedikit pun dari sebuah kota kecuali jika dia mengambil dari pintunya. Sehingga dengan begitu maka jalan untuk mengambil manfaat dari Rasulullah Saw hanya melalui `Ali As. Ini adalah kedudukan yang tinggi. Rasulullah juga telah bersabda, `Orang yang paling mengetahui di antara kamu adalah `Ali.`[8] Kepadanyalah dinisbahkan seluruh permasalahan, berhentinya seluruh golongan, dan berpihaknya seluruh kelompok. Dia adalah pemuka dan sumber keutamaan, serta pemenang yang memenangkan arenanya. Setiap orang yang unggul di dalamnya semuanya mengambil darinya, mengikuti jejaknya dan meniru contohnya. Anda tentu telah mengetahui bahwa semulia-mulianya ilmu adalah tentang Ketuhanan. Ilmu ini dikutip dari perkataannya, dinukil darinya dan bermula dari dirinya.


Sesungguhnya kelompok Mu’tazilah, mereka itu adalah ahli fakir. Dari mereka inilah manusia belajar tentang ilmu ini, dan mereka itu adalah murid-muridnya. Karena guru besar mereka yang bernama Washil bin ‘Atha adalah murid Abi hasyim Abdullah bin Muhammad ibn al-Hanafiyyah,[1] sementara Abi Hisyam Abdullah adalah murid ayahnya, dan ayahnya adalah murid ‘Ali bin Abi Thalib kw.

Adapun kelompok Asy’ari, mereka itu berakhir kepada Abu Hasan al-Asy’ari. Dia adalah murid dari Abu ‘Ali al-Juba’i, dan Abu ‘Ali al-Juba’i adalah murid Washil bin ‘Atha.[2]

Adapun kelompok Imamiyyah dan Zaidiyyah, bermuara mereka kepadanya amat jelas sekali.

Adapun dalam bidang ilmu fikih, dia itu adalah pokok dan dasarnya. Seluruh fakih di dalam Islam menisbahkan diri mereka kepadanya.

Adapun Malik, dia mengambil fikih dari Rabi’ah ar-Ra’y, sementara Rabi’ah ar-Ra’y mengambil dari ‘Ikrimah, ‘Ikramah mengambilnya dari Abdullah, dan Abdullah mengambilnya dari ‘Ali As.

Adapun Abu Hanifah mengambil fikih dari Imam Ja’far ash-Shadiq as. Sementara Syafi’i adalah murid Malik, dan Hanbali adalah murid Syafi’i.[3] Adapun tentang merujuknya para fukaha Syi’ah kepadanya adalah sesuatu yang jelas sekali. Begitu juga tentang merujuknya para fukaha dari kalangan para sahabat kepadanya adalah sesuatu yang jelas, sperti Ibnu Abbas dan yang lainnya. Berikut ini adalah perkataan ‘Umar bin Khattab yang diucapkan tidak hanya sekali, ‘Aku tidak dilanda masalah selama masih ada Abul Hasan (‘Ali bin Abi Thalib).’[4] ‘Umar juga mengatakan, ‘Seandainya tidak ada ‘Ali maka celakalah ‘Umar.’[5]

Turmudzi telah berkata di dalam kitab shahihnya, dan begitu juga al-Baghawi telah berkata dari Abu Bakar, ‘Rasulullah Saw telah bersabda, ‘Barangsiapa yang hendak melihat kepada Adam di dalam keilmuannya,, kepada Nuh di dalam pemahamannya, kepada Yahya bin Zakaria di dalam kezuhudannya, dan kepada Musa bin Imran di dalam kekuatannya, maka hendaklah dia melihat kepada ‘Ali bin Abi Tahlib.’[6]

Baihaqi telah berkata, ‘Rasulullah Saw telah bersabda, ‘Barangsiapa yang hendak melihat kepada Adam di dalam keilmuannya, kepada Nuh di dalam ketakwaannya, kepada Ibrahim di dalam kesabarannya, kepada Musa di dalam kewibawaannya, dan kepada Isa di dalam ibadahnya, maka hendaklah dia melihat kepada ‘Ali bin Abi Thalib.’[7] Dialah yang telah menjelaskan hukuman meminum minuman keras,[8] yang telah memberikan fatwa berkenaan dengan seorang wanita yang melahirkan pada usia enam bulan kandungannya.[9] Dialah yang telah menyelesaikan pembagian uang dirham kepada pemilik roti.[10] Dia juga yang telah memerintahkan untuk membelah seorang anak menjadi dua bagian.[11] Dialah yang telah memerintahkan umtuk memenggal leher seorang hamba sahaya, dan yang bertindak sebagai hakim pada kasus orang yang mempunyai dua kepala.[12] Dia juga yang telah menjelaskan hukum maker (bughat),[13] dan dia juga yang telah memberi fatwa berkenaan dengan seorang wanita yang hamil karena zina.[14]

Salah satu dari cabang ilmu adalah ilmu tafsir. Manusia telah mengetahui kedudukan Ibnu Abbas di dalam ilmu tafsir. Dia adalah murid ‘Ali kw. Dia telah ditanya, ’Bagaimana kedudukan ilmumu dibandingkan ilmu putra pamanmu?’ Ibnu Abbas menjawab, ‘Laksana setetes air hujan di lautan yang sangat luas.’[15]

Salah satu cabang ilmu yang lain adalah tarekat dan ilmu hakikat. Anda mengetahui bahwa tokoh-tokoh ilmu ini yang ada di seluruh negeri Islam, mereka semua berakhir kepadanya, dan berhenti di sisinya. Asy-Syibli, al-Hambali, Sirri as-Saqathi, Abu Zaid al-Busthami, Abu Mahfudz, yang dikenal dengan sebutan al-Kurkhi, dan yang lainnya, dengan tegas mengakui hal ini. Cukup menjadi bukti bagi yang demikian itu, sobekan-sobekan tersebut—melalui sanad mu’an’an—kepadanya, dan mengatakan bahwa dialah yang telah menuliskannya.[16]

Di antara cabang ilmu berikutnya adalah ilmu nahwu. Seluruh manusia telah mengetahui bahwa ‘Ali As lah yang telah menciptakannya. Dia telah mendiktekan berbagai kumpulan yang hampir mendekati kategori mukjizat kepada Abul Aswad ad-Duwali. Karena kemampuan manusia biasa tidak cukup untuk dapat menghasilkan penemuan yang seperti ini.

Bagaimana bisa memiliki sifat seperti seorang laki-laki yang manakala ditanya, apa arti kata abban, dia berkata, ‘Aku tidak akan mengatakan tentang kitab Allah berdasarkan pikiranku’, dan memberikan keputusan tentang bagian warisan yang diterima kakek dengan seratus perkataan yang berbeda satu sama lainnya. Dia mengatakan, ‘Jika aku menyimpang maka luruskanlah, dan jika aku berada pada jalan yang benar maka ikutilah aku.’ Apakah orang yang berakal akan membandingkan orang yang seperti ini dengan orang yang mengatakan, ‘Tanyailah aku sebelum kalian kehilanganku’, ‘Tanyailah aku tentang jalan-jalan yang ada di langit. Karena sesungguhnya—demi Allah—aku lebih mengetahui jalan-jalan yang ada dilangit dibandingkan jalan-jalan yang ada di bumi.’ ‘Ali As juga berkata, ‘Sesungguhnya disini—sambil menunjuk kearah dadanya—terdapat ilmu yang banyak.’ Dia juga mengatakan, ‘Sekiranya terbuka tirai penutup, tidak akan bertambah keyakinanku.’[17]

Adapun dalam masalah zuhud, dia adalah penghulu orang-orang zuhud. Tidak pernah sekali pun dia makan sampai kenyang. Dia adalah orang yang paling keras di dalam masalah pakaian dan makanan.

Abdullah bin Rafi’ berkata, ‘Saya masuk menemui ‘Ali bin Abi Thalib pada hari raya. Lalu dia mengambil sebuah kantong tertutup yang berisi roti kering yang telah hancur, kemudian dia pun memakannya.

Saya berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, kenapa Anda menutup kantong tersebut, padahal hanya berisi roti yang telah kering?’

‘Ali bin Abi thalib menjawab, ‘Saya takut kedua anak saya akan membubuhinya dengan minyak atau mentega.’[18]

Pakaian yang dikenakannya selalu bertambalkan kulit dan sabut. Kedua sendalnya terbuat dari sabut. Dia biasa memakai pakaian yang kasar, dan jika kepanjangan, dia memotongnya dengan pisau dan tidak menjahitnya kembali. Makanan yang dimakannya hanya berbumbukan garam dan cuka. Kalaupun lebih dari itu, dia cukup menambahkannya dengan tanaman hasil bumi. Kalaupun lebih baik lagi, dia hanya menambahkan dengan sedikit susu unta. Dia tidak memakan daging kecuali hanya sedikit. Dia berkata, ‘Jangan engkau jadikan perutmu menjadi kuburan binatang’, meskipun demikian dia adalah manusia yang paling kuat dan paling kokoh.[19]

Adapun dari sisi ibadah, dari dialah manusia belajar shalat malam, dawam membaca wirid dan melakukan ibadah-ibadah nafilah. Bagaimana pendapat Anda tentang seorang yang dahinya kapalan tidak ubahnya seperti lutut unta. Salah satu bukti bagaimana dia begitu menjaga kewajiban agamanya, dia membentangkan tikar sajadah pada saat perang Shiffin berhadapan dengan pasukan Mu’awiyah bin Abu Sufyan (semoga Allah melaknatinya). Dia tetap mengerjakan shalatnya pada saat anak-anak panah berjatuhan di hadapannya dan melewati kedua telinganya. Dia tidak gentar, dan terus melanjutkan shalatnya hingga selesai.

Jika Anda menyimak dan memperhatikan berbagai doa dan munajatnya, serta melihat pengagungan Allah yang terdapat di dalam doanya, dan begitu juga ketundukan akan kebesaran-Nya, niscaya Anda akan mengetahui betapa besar keikhlasan yang terkandung di dalamnya. Imam ‘Ali Zainal Abidin as (Imam ke empat dalam keyakinan Syi’ah), setiap malamnya mengerjakan shalat sebanyak seribu rakaat, namun dia masih mengatakan, ‘Aku tertinggal apabila dibandingkan dengan ibadah ‘Ali.’[20]

Adapun dalam masalah keberanian, ‘Ali bin Abi Thalib adalah tokohnya. Dia adalah seorang pemberani yang tidak pernah lari dari medan perang, dan tidak pernah gentar menghadapi sekelompok pasukan. Tidak ada seorang pun yang menantang kecuali pasti dibunuhnya. Tebasan pedangnya hanya sekali tebasan, dan tidak memerlukan kepada tebasan yang kedua.

Di dalam hadis di sebutkan bahwa pukulan-pukulan pedangnya ganjil.[21] Orang-orang musyrik, jika melihat ‘Ali di dalam medan peperangan mereka berwasiat kepada satu sama lainnya. Dengan pedangnyalah bangunan agama menjadi kokoh, dan para malaikat merasa kagum akan kehebatan serangan dan pukulan pedangnya.

Di dalam perang Badar, yang merupakan cobaan berat atas kaum Muslimin, ‘Ali bin Abi Thalib berhasil membunuh pahlawan-pahlawan Qurasy, seperti Walid bin ‘Utbah, ‘Ash bin Sa’id dan Naufal bin Khuwailid, yang menahan Abu bakar dan Thalhah sebelum hijrah. Rasulullah Saw telah bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang telah memperkenankan doaku berkenaan dengannya.’[22] ‘Ali bin Abi Thalib terus membunuhi pahlawan-pahlawan Quraisy satu demi satu, sehingga dia berhasil membunuh setengah dari keseluruhan jumlah kaum musyrik yang terbunuh di perang Badar, yang jumlah keseluruhannya sebanyak tiga puluh orang. Sementara seluruh kaum Muslimin yang lainnya, beserta tiga ribu malaikat, berhasil membun-uh setengah yang lainnya.[23] Di sini lah Jibril berkata,

Tidak ada pedang kecuali Dzul Fiqar, dan tidak ada pemuda kecuali ‘Ali.’[24]

Pada saat perang Uhud, manakala kaum Muslimin tercerai berai dari Rasulullah Saw, dan Rasulullah Saw dibanting ke tanah dan pukuli dengan tombak dan pedang oleh orang-orang musyrik, ‘Ali As berdiri kokoh di hadapan Rasulullah Saw sambil menghunus pedang. Ketika Rasulullah Saw melihat kepadanya, setelah siuman dari pingsannya, Rasulullah Saw bertanya, ‘Wahai ‘Ali, apa yang telah dilakukan oleh kaum Muslimin?’

‘Ali bin Abi Thalib as menjawab, ‘Mereka telah melanggar sumpah dan telah lari dari medan peperangan.’

Rasulullah Saw berkata, ‘Lindungi aku.’ Maka ‘Ali pun membuka kepungan mereka, dan menghadapi sekelompok pasukan demi sekelompok pasukan musuh, sambil memanggil kaum Muslimin, hingga akhirnya mereka kembali berkumpul. Jibril as berkata kepada Rasulullah Saw, ‘Sungguh ini merupakan pembelaan. Para malaikat merasa kagum dengan pembelaan yang dilakukan oleh ‘Ali untukmu.’

Rasulullah Saw berkata, ‘Tidak ada yang mencegahnya melakukan itu. Karena dia adalah bagian dariku dan aku bagian darinya.’[25] Karena keteguhan ‘Ali itulah akhirnya sebagian kaum Muslimin kembali lagi, termasuk Utsman, yang baru kembali setelah tiga hari. Rasulullah Saw berkata kepada Utsman, ‘Engkau pergi membawa peringatan.’[26]

Pada perang Khandak, pada saat kaum musyrikin mengepung kota Madinah, sebagaiman yang dikatakan oleh Allah Swt di dalam AQur’an, ‘(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatanmu dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan berbagai macam sangkaan’ (QS. Al-Ahzab: 10), dan Amr bin Abdul Wudd berhasil mendobrak parit kaum Muslimin, serta menentang duel kepada kaum Muslimin, sementara tidak ada seorang pun dari kaum Muslimin yang berani menghadapinya, maka tampillah ‘Ali bin Abi Thalib dengan mengenakan sorban Rasulullah Saw, semen-tara tanganya menenteng sebuah pedang. Dengan cepat ‘Ali bin Abi Thalib memukulkan pedangnya kepada Amr bin Abdul Wudd, dengan sebuah pukulan pedang yang menyamai amal perbuatan seluruh jin dan manusia hingga hari kiamat.[27]

Di mana Abu Bakar, ‘Umar dan Utsman pada saat itu?

Orang yang membaca kitab peperangan karya al-Waqidi dan kitab sejarah karya al-Baladzari, niscaya akan mengetahui bagaimana kedudukan ‘Ali di sisi Rasulullah, dari sisi jihad dan keberaniannya pada perang Ahzab, perang Bani Musthaliq, pada saat mengangkat pintu benteng khaibar, dan pada saat perang khaibar. Peristiwa-peristiwa ini merupakan peristiwa-peristiwa yang amat terkenal.

Abu Bakar al-Anbari meriwayatkan di dalam kitabnya al-Amali, ‘Ali duduk di sisi ‘Umar di mesjid, sementara di samping mereka banyak orang yang hadir. Pada saat ‘Ali berdiri dan meninggalkan majlis, salah seorang dari mereka yang hadir mengatakan bahwa ‘Ali itu sombong.

‘Umar berkata, ‘Orang sepertinya berhak untuk sombong. Kalau bukan karena pedangnya tidak akan tegak berdiri pilar-pilar agama. Dia adalah orang yang paling mengetahui di antara umat ini, dan paling mempunyai kedudukan.’

Orang itu bertanya kepada ‘Umar, ‘Lantas, apa yang mencegah Anda darinya, wahai Amirul Mukminin?’

‘Umar menjawab, ‘Tidak ada yang kami tidak sukai darinya kecuali karena umurnya yang masih muda, kecintaannya kepada Bani Abdul Muththalib, dan dia yang membawa surat al-Bara’ah ke kota Mekkah.’

Ketika ‘Ali bin Abi Thalib mengajak Mu’awiyah untuk berduel hingga terbunuh salah seorang dari mereka, gunan menghentikan peperangan di antara umat, Amr bin Ash berkata kepada Mu’awiyah, ‘Laki-laki itu telah bertindak adil kepadamu.’

Mu’awiyah berkata kepada Amr bin Ash, ‘Belum pernah sekali pun engkau menipuku di dalam memberi nasihat kepadaku kecuali pada hari ini. Engkau menyuruhku untuk berduel dengan Abul Hasan, pa-dahal engkau tahu dia adalah seorang pemberani yang perkasa? Aku lihat, tampaknya engkau menginginkan kekuasaan negeri Syam sepeninggalku.’[28]

Orang Arab merasa bangga apabila berhadapan dengan ‘Ali bin Abi Thalib (semoga Allah menyucikan wajahnya) di medan peperangan. Kabilah mereka merasa bangga apabila yang membunuh mereka adalah ‘Ali Asadullah (singa Allah). Hal ini tampak jelas sekali dalam ucapan-ucapan mereka. Ummu Kultsum[29] berkata berkenaan dengan terbunuhnya Amr bin Abdul Wudd,

‘Seandainya pembunuh Amr bukanlah pembunuhnya, niscaya aku akan menangisinya selamanya, dan sekejap pun aku tidak mau hidup. Namun, pembunuhnya adalah orang yang tidak ada tandingannya, yang ayahnya telah menganggapnya sebagai orang yang terpandang.’[30]

Adapun tentang kedermawanannya, dialah yang telah menyelesaikan puasanya tiga hari berturut-turut dengan menyedekahkan makanan untuk buka puasanya kepada peminta-minta setiap malamnya. Hingga Allah Swt menurunkan ayat berkenaan dengannya, ‘Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?’ (QS. Al-Insan: 1)

Kemudian dia menyedekahkan cincinnya ketika ruku’, maka turunlah ayat yang berbunyi, ‘Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zalat dalam keadaan ruku’.’ (QS. Al-Maidah: 55)

Dia juga bersedekah dengan empat dirham, lalu Allah Swt menurunkan ayat yang berbunyi, ‘Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.’ (QS. Al-Baqarah: 274)

Dialah orang yang menyiram kebun pohoh kurma dengan tangannya dan kemudian menyedekahkan uang upah yang diperoleh darinya. Mu’awiyah bin Abi Sufyan, yang merupakan musuhnya, manakala Mahjan adh-Dhibbi berkata kepadanya, ’Saya telah datang dari sisi manusia yang paling kikir’, mengatakan, ‘Celaka engkau, apa yang engkau katakan? Engkau mengatakan dia manusia yang paling kikir? Tidak, seandainya dia mempunyai sebuah rumah yang terbuat dari lempengan emas dan sebuah rumah lagi yang terbuat dari jerami, niscaya terlebih dahulu dia akan menginfakkan rumahnya yang terbuat dari emas, sebelum rumahnya yang terbuat dari jerami.’ [31]

Dialah yang telah mengatakan, ‘Wahai kuning (emas), wahai putih (perak), bujuklah selain aku. Jauhlah engkau dariku. Sesungguhnya aku telah memberimu talak tiga, yang tidak ada kemungkinan untuk kembali.’[32]

Dialah yang telah merelakan jiwanya dengan tidur di ranjang Rasulullah Saw pada malam ketika rumah Rasulullah Saw dikepung orang-orang musyrik Quraisy. Hingga Allah Swt menurunkan ayat yang berkenaan dengannya, ‘Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.’” [33]

Yohanes berkata, “Ketika mendengar perkataan ini, tidak ada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya. Mereka mengatakan, ‘Anda benar. Apa yang Anda katakan ini, kami telah membacanya di dalam kitab kami, dan kami telah menukilnya dari imam-imam kami. Akan tetapi kecintaan Allah dan Rasul-Nya dan juga perhatian keduanya adalah sesuatu yang ada di belakang semua ini. Mungkin saja Allah Swt mempunyai perhatian yang diberikan-Nya kepada ‘Ali.’

Yohanes berkata, ‘Sesungguhnya kita tidak mengetahui yang gaib, dan tidak ada yang mengetahui yang gaib selain Allah. Apa yang Anda katakana ini adalah sebuah kebohongan, padahal Allah Swt telah berfirman, ‘Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta.’ (QS. Adz-Dzariat: 10) Kita semata-mata ha-nya menghukumi berdasarkan bukti-bukti yang menunjukkan kelebih-utamaan ‘Ali, dan kemudian ki-ta pun mengemukakan bukti-bukti tersebut.

Adapun mengenai perhatian Allah terhadap ‘Ali As, keutamaan-keutamaan di atas merupakan dalil yang pasti akan besarnya perhatian Allah Swt terhadapnya. Perhatian mana yang lebih baik dari dijadikannya dia oleh Allah Swt sebagai manusia yang paling mulia nasabnya setelah Rasulullah, sebagai manusia yang paling besar kesabarannya, sebagai manusia yang paling berani hatinya, sebagi manusia yang paling banyak jihadnya, paling banyak kezuhudannya, paling banyak ibadahnya, paling tinggi kedermawanannya, paling tinggi kewarakannya, dan sifat-sifat kesempurnaan lainnya yang telah disebut-kan. Ini adalah perhatian dari Allah Swt terhadapnya.

 

Sumber: Kebenaran Yang Hilang karya Syeikh Mutashim Sayyid Ahmad


Referensi:

[1]  Dia adalah Abdullah bin Muhammad al-Hanafiyyah, yang mempunyai nama laqab al-Akbar dan nama kunyah Abu Hisyam, yang wafat pada tahun 98 atau 99 H. Silahkan rujuk kitab Tanqih al-Maqal, karya al-Maqamani, jld 2, hlm 212.

[2]  Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 17.

[3] Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 17-18.

[4]  Manaqib al-Khawarizmi, hlm 96-97; Faraid as-Simthain, jld 1, hlm 344-345.

[5] Faidh al-Qadir, jld 4, hlm 357; Fadha’il al-Khamsah min ash-Shihah as-Sittah, jld 2, hlm 309; ‘Ali Imam al-Muttaqin, Abdurrahman asy-Syarqawi, jld 1, hlm 100-101’ al-Manaqib, Ibnu Syahrasyub, jld 2, hlm 361.

[6] Al-Bidayah wa an-Nihayah, jld 7, hlm 356; Kifayah ath-Thalib, hlm121.

[7]  Kanz al-‘Ummal, hlm 226; ar-Riyadh an-Nadhirah, jld 2, hlm 218; Kifayah ath-Thalib, hlm 122; al-Ghadir, jld 2, hlm 353.

[8]  Al-Muwaththa, Imam Malik, jld 2, hlm 842; al-Mustadrak, jld 4, hlm 375; Fadha’il al-Khamsah, jld 2, hlm 310.

[9] Al-Isti’ab, jld 3, hlm 842; Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 19; Qurthubi menyebutkan di dalam kitab tafsirnya, tatkala berbicara tentang tafsir firman Allah SWT yang berbunyi, “Mengandung dan menyapihnya adalah tiga puluh bulan” (QS. al-Ahqaf: 15), “Usman didatangi oleh seorang wanita yang baru melahirkan anaknya enam bulan (anak hasil zina). Lalu Usman hendak menjatuhkan hadd (hukuman) atas wanita tersebut, namun Imam ‘Ali As berkata kepadanya, ‘Bukan itu yang berlaku atasnya. Karena Allah SWT telah berfirman, ‘Mengandung dan memyapihnya adalah tiga puluh bulan.’”

[10]  Al-Isti’ab, jld 3, hlm 1105-1106; Fadha’il al-Khamsah min ash-Shihah as-Sittah, jld 2, hlm 302; Dzakha’ir al-‘Uqba, hlm 84; ash-Shawa’iq al-Muhriqah, hlm 77.

[11]     Al-Manaqib, Syahrsyub, jld 2, hlm 367; al-Fushul al-Mi’ah, jld 5, hlm 366; Kanz al-‘Ummal, jld 3, hlm 379; Bihar al-Anwar, jld 40, hlm 252, al-Ghadir, jld 6, hlm 174.

[12] Kanz al-‘Ummal jld 3, hlm 176.

[13] Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 9, hlm 231; al-Umm, jld 4, hlm 233, Bab “Kekhilafahan di dalam memerangi makar.” Syafi’i berkata, “Kita mengenal hokum makar dari ‘Ali As.”

[14]  Ar-Riyadh an-Nadhirah, jld 3, hlm 163; Dzakaha’ir al-‘Uqba, hlm 81; Mathalib as-Su’ul, hlm 13; Manaqib al-Khawarizmi, hlm 48; al-Arba’in, Fakhrurrazi, hlm 466; al-Ghadir, jld 6, hlm 110.

[15] Nahj al-haq wa Kasyf ash Shidq, hlm 238; Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 19.

[16] Nahj a-haq wa Kasf ash-Shidq, hlm 228; Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 19.

[17] Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 7, hlm 253.

[18] Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 7, hlm 253.

[19] Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 26.

[20] Al-Irsyad al-Mufid, hlm 256; I’lam al-Wara, hlm 255; Bihar al-Anwar, jld 46, hlm 62.

[21] Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 20.

[22] Al-Maghazi, al-Muqidi, jld 1, hlm 92.

[23] Al-Maghazi, jld 1, hlm 147; al-Irsyad, Syeikh al-Mufid, hlm 41-43; Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 24.

[24] Al-Manaqib al-Khawarizmi, hlm 167; Manaqib Ibnu al-Maghazili, hlm 198-199; Kifayah ath-Thalib, hlm 277; Thabar, jld 2, hlm 197; Sirah Ibnu Hisyam, jld 3, hlm 52; Sunan al-Baihaqi, jld 3, hlm 276; al-Mustadrak, jld 2, hlm 385; ar-Riyadh an-Nadhirah, jld 3, hlm 155; Dzakha’ir al-‘Uqba, hlm 74; Mizan al-I’tidal, jld 2, hlm 317; Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 29.

[25]     Dzakha’ir al-‘Uqba, hlm 68; Fadha’il ash Shahabah, Ahmad, jld 2, hlm 594; Majma’ az-Zawa’id, jld 6, hlm 114; Nahj al-Haq wa Kasyf ash-Shidq, hlm 239.

[26]     Tarikh Thabari, jld 2, hlm 203; al-Kamil, Ibnu Atsir, jld 2, hlm 110; as-Sirah al-Halabiyyah, jld 2, hlm 227; al-Bidayah wa an-Nihayah, jld 4, hlm 28; as-Sirah an-Nabawiyyah, Ibnu Katsir, jld 3, hlm 55; Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 15, hlm 55; ad-Durr al-Mantsur, jld 2, hlm 89.

[27] Al-Maghazi, al-Waqidi, jld 2, hlm 470-471.

[28] Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 20, dan jld 8, hlm 53.

[29] Dia adalah saudara perempuan Amr, yang nama panggilannya (kunyah) adalah Ummu Kultsum

[30] Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, jld 3, hlm 33; al-Fushul al-Muhimmah, Ibnu Shubagh al-Maliki, hlm 62; al-Irsyad al-Mufid, jld 1, hlm 108; Lisan al-‘Arab, Ibnu Mandzur, jld 7, hlm 127.

[31] Syarh Nahj al-Balaghah, Ibnu Abi al-Hadid, jld 1, hlm 22.

[32] Nahj al-Balaghah, Shubhi ash-Shalih, hlm 480-481; Qishar al-Hikam, hlm77.

[33] Al-Hakim meriwayatkan di halaman 4, juz 3 dari kitabnya al-Mustadrak, bahwa Abdullah bin Abbas berkata: “’Ali telah menjual (mengorbankan) dirinya, dan mengenakan pakaian Nabi Saw (Pada malam hijrah)’’. Al-hakim telah mengakui tentang shahihnya hadits ini sesuai dengan persyaratan Bukhari/Muslim, meskipun mereka berdua tidak meriwa-yatkannya. Dan adz-Dzahabi juga telah mengakuinya dalam Talkhis al-Mustadrak. Dan telah diriwayatkan pula oleh al-Hakim pada halaman yang sama bahwa ‘Ali bin Husein Zainal Abidin berkata, “Yang paling dahulu menjual dirinya demi mencari keridhaan Allah ialah ‘Ali bin Abi Thalib, ketika ia berbaring di tempat tidur Rasulullah Saw (Pada malam hijrah)’’. Ia mengutip syair ‘Ali yang dimulai dengan: “Aku korbankan diriku untuk beliau, sebaik manusia yang pernah menginjak pasir Masjidil haram, dan bertawaf di sekitar Ka’bah… dan seterusnya.”

Dirawikan oleh pengarang kitab-kitab: as-Sunan. Dan disebutkan oleh Fakhruddin ar-Razi dalam kitab tafsir-nya juz II halaman 189 ketika ia menafsirkan ayat tersebut diatas sebagai berikut: “Dan pada malam ketika ‘Ali menggantikan Rasulullah Saw tidur di tempat beliau biasa tidur (yaitu malam hijrah), Allah Swt telah mewahyukan pada Jibril dan Mikail: “Bahwasanya Aku telah mempersaudarakan antara kalian berdua, dan Ku-jadikan usia salah seorang diantara kalian lebih panjang dari usia saudaranya. Maka siapakah diantara kalian berdua yang bersedia mengutamakan hidup saudaranya diatas hidup dirinya sendiri?’’. Tapi keduanya memilih kehidupan bagi dirinya sendiri, dan Allah berfirman kepada mereka berdua: “Tidakkah kalian (berbuat) seperti ‘Ali bin Abi Thalib; Ku-persaudarakan antara dia dan Muhammad saw; maka ‘Ali tidur di tempat tidurnya (Muhammad saw), mengorbankan dirnya untuk dirinya demi menyelamatkannya, dan mengutamakan hidup (Muhammad saw) diatas hidupnya sendiri. Turunlah kalian ke bumi dan jagalah ia dari (gangguan) musuhnya.’’

Maka turunlah kedua malaikat itu; Jibril (menjaganya) dari arah kepala (‘Ali), dan Mikail dari arah kedua kakinya . . . dan Jibril pun berseru: “Sungguh berbahagia engkau, sungguh berbahagia engkau! Siapakah gerangan yang dapat menyamaimu, hai (‘Ali) bin Abi Thalib. Allah membanggakanmu di antara para malaikat’’, dan berkenaan dengan itu Allah SWT menurunkan firman-Nya (sebagaimana yang telah tersebut diatas).

Silahkan rujuk:

1.    Syawahidut Tanzil, Al-Hakim al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, hlm 96, hadis ke: 133, 134, 135, 136, 137, 138, 139, 140, 141,dan 142.

2.    Kifayah Ath-Thalib, al-Kanji Asy-Syafi’I, halaman 239, cet. Al-Haidariyah, hlm 114, cet. Al-Ghira.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s