Belajar Singkat Ilmu Kalam: Seri II

book-wallpaper-22145-22702-hd-wallpapers

C. Perdebatan Konsep Ketuhanan

Perbedaan manhaj kalam sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, berimplikasi pada perbedaan yang sangat signifikan tentang konsep ketuhanan pada masing-masing aliran kalam. Perbedaan dalam penempatan peran dan kedudukan akal dalam manhaj kalam akhirnya menimbulkan perbedaan yang sangat signifikan pada konsep ketuhanan. Antara Mu’tazilah dan Asy’ariyah (dan juga Wahabi) yang berbeda secara biner dalam memposisikan akal menyebabkan pandangan ketuhanan antara aliran tersebut berbeda secara diametral.

Mu’tazilah yang memberikan peran yang sangat besar pada akal dan lebih cenderung menggunakan metode ta’wil dan analogi dalam menafsirkan ayat-ayat seputar teologi. Walhasil dalam memahami nas yang berbicara tentang “kedirian” Allah ditafsirkan secara metaforik. Misalnya ayat yang bertutur tentang Yad Allah (Tangan Allah), Wajh Allah (Wajah Allah), ‘Arsy, Kursy, dan lainnya dipahami sebagai ungkapan metaforik tentang kekuasaan, keagungan, dan kemuliaan Allah. Pendapat ini berbeda secara diametral dengan kalam Asy’ariyah dan Wahabi, yang memahami teks-teks teologi secara literal, sehingga cenderung menafsirkan ayat-ayat tentang tema-tema tersebut secara tekstual. Meskipun demikian, pandangan tentang tangan, wajah, ‘arsy, dan kursy Allah tidak bisa diserupakan sesuatu yang bersifat makhluk. Berdasarkan pada frase nafy dalam kalimat Tauhid yang diperjelas dengan ayat “laysa kamitslihi syai’un, kalam Wahabi dan juga Asy’ariyah menolak segala bentuk penyerupaan atau analogi tentang hal-hal tersebut.

Perbedaan lain antara kalam Asy’ariyah dan Mu’tazilah adalah pada persoalan eksistensi Zat dan Sifat Allah. Dalam kalam Mu’tazilah, eksistensi Zat dan Sifat Allah adalah identik, sehingga Allah dalam kalam Mu’tazilah diyakini tidak memiliki sifat. Sedangkan dalam kalam Asy’ariyah eksistensi Sifat-sifat Allah sebagai “entitas” yang eksis. Dalam kalam Asy’ariyah, sifat Allah bukanlah esensi Allah, bukan Allah, dan bukan selain Allah (la Huwwa wa la ghairuh). Pandangan ini jelas-jelas ditolak oleh Mu’tazilah yang menganggap pandangan tersebut berimplikasi pada ta’addud alqudama (banyaknya ke-qadim-an). Pandangan ini menurut Mu’tazilah menimbulkan Syirik, karena meyakini akan adanya pluralitas “dalam” kedirian Allah.

Perbedaan lain antara keduanya adalah pada keyakinan mengenai kehendak dan kekuasaan Allah. Mu’tazilah cenderung berpendapat bahwa kehendak dan kekuasaan Allah “di batasi” oleh hukum-hukum tertentu yang ditentukan oleh Allah sendiri, semisal janji dan ancaman, serta keadilanNya. Sedangkan Asy’ariyah berpendapat sebaliknya, bahwa kehendak dan kekuasaan Allah tidak terbatas sebagaimana ketidakterbatasan Allah sendiri. Oleh karena itu, janji, ancaman, dan keadilan Allah tidak bisa membatasi kehendak dan kekuasaanNya. Perbedaan pandangan ini berimplikasi pada pandangan tentang apakah Tuhan bisa memasukkan orang kafir ke surga dan memasukkan orang mukmin ke neraka?. Dalam pandangan Asy’ariyah hal itu mungkin saja, sedangkan dalam pandangan Mu’tazliah hal tersebut adalah mustahil karena bertentangan dengan janji dan ancamanNya, serta bertolak belakang dengan prinsip keadilanNya.

Dalam hal penyifatan Allah, pandangan kalam Wahabi menampilkan corak yang lebih ortodoks dibandingkan Asy’ariyah. Pandangan kalam Wahabi meyakini eksistensi Allah yang duduk di atas ‘ArsyNya dan disetiap sepertiga malam turun ke langit dunia. Pandangan kalam ini sangat bercorak antropomorphis atau menyamakan Allah dengan sifat-sifat kemanusiaan. Dengan demikian tampak ambiguitas dalam pandangan kalam Wahabi, yang di satu sisi menolak analogi dan penyerupaan Allah dengan makhlukNya, tapi di sisi lain pandangan kalamnya menyiratkan penyerupaan Allah dengan manusia.

Pada ranah Tauhid praksis, didasarkan pada frase nafy dalam kalimat Tauhid, kalam Wahabi menentang keras segala hal atau prilaku yang dianggap sebagai bentuk penyembahan kepada selainNya. Itulah sebabnya, Wahabi sangat keras dalam menentang praktek-praktek dan keyakinan tradisional yang mempercayai akan adanya kekuatan atau karamah pada benda-benda tertentu, termasuk diantara kuburan nabi dan para wali. Keyakinand dan prilaku tersebut dalam pandangan mereka adalah praktek yang mengarah pada kesyirikan yang harus dimurnikan dari akidah umat Islam.

Pendapat lain dalam kalam Sunni yaitu Maturudiyah, yang dalam manhaj kalamnya mencoba membangun sintesa antara ortodoksi literal Asy’ariyah dan liberalisme rasionalitas Mu’tazilah. Paralel dengan pandangan Asy’ariyah, kalam Maturudiyah menyatakan bahwa Allah memiliki sifat, namun Maturudiyah juga berpendapat bahwa sifat Allah bukanlah sesuatu selain ZatNya (laisa syai’ ghairu zat). Dengan demikian dalam Tauhid sifat, Maturudiyah berbeda dengan Mu’tazilah yang cenderung menegasikan sifat, namun juga berbeda dengan pandangan Asy’ariyah yang meyakini eksistensi sifat sebagai entitas yang bukan Allah tapi juga bukan selain Allah. Dengan demikian, Maturudiyah juga menolak akan adanya ta’addud al-qudama’ (banyaknya keqadiman).

Posisi jalan tengah dalam kalam Maturudiyah juga terlihat pada pembahasan perbuatan manusia dan ketetapan Allah. Jika Mu’tazilah berpandangan bahwa perbuatan manusia diciptakannya sendiri dan keadilan Allah adalah dengan memberinya pahala jika ia baik. Sedangkan dalam pandangan Asy’ariyah perbuatan manusia diciptakan oleh Allah dan keadilan Allah dengan membalas dari segi kasbnya. Namun, jika Allah memberikan siksa pada kasb yang baik dan sebaliknya memberikan surga pada kasb yang buruk Allah tetaplah Maha Adil. Maturudiyah berpandangan bahwa, perbuatan manusia dilakukan atas pilihannya sendiri. Allah terlibat dalam menciptakan istita’ah (kemampuan) pada diri manusia yang menyebabkan manusia dapat menciptakan sendiri perbuatannya. Dan keadilan Allah ialah membalas perbuatan yang diciptakan sendiri oleh manusia.

Kalam Syiah yang manhajnya dipengaruhi oleh pemikiran filsafat, hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang muslim dalam mengimani Allah adalah dengan membuktikan dengan dalil rasional akan keberadaaNya. Oleh karena itulah para mutakallim Syiah yang juga filosof, seperti Nashr al-Din al-Thusi, Mulla Hadi Sabzawari, Mulla Shadra, dan yang kontemporer seperti Taqi Misbah Yazdi, dan Jawadi Amuli menyusun argumentasi-argumentasi rasional tentang pembuktian akan keberadaan dan keesaan Allah. Argumen-argumen tersebut selain meminjam dari argumentasi para filosof paripatetik seperti pembuktian dengan teori kausalitas, dalil gerak, qadim wa huduts, keberaturan alam, dan lain-lain, juga disempurnakan dengan pembuktian akan eksistensi dan unitas Allah melalui argumentasi wujud atau dalil shiddiqin yang digagsa oleh Mulla Shadra.

Secara umum mengenai doktrin tentang Tauhid dalam kalam Syiah tampak dalam khotbah Ali bin Abu Thalib dalam Nahj Balaghah:

Pangkal agama adalah ma’rifat tentang Dia. Kesempurnaan ma’rifat itentang Dia adalah membenarkanNya. Kesempurnaan dalam membenarkanNya adalah meyakini keesaanNya. Kesempurnaan keyakinan pada keesaanNya adalah memandang Dia suci. Kesempurnaan kesucianNya adalah dengan menafikan sifat-sifatNya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa ia berbeda dengan yang disifati. Mka barangsiapa yang melekatkan sifat pada Allah berarti dia mengakui keserupaanNya. Barangsiapa mengakui keserupaanNya berarti dia menduakanNya. …

Dia maujud tapi tidak melalui fenomena pewujudan. Dia bersama segala sesuatu tapi tidak dalam kedekatan fisik. Dia berbeda dengan segala sesuatu tapi tidak dalam keterpisahan fisik. Dia berbuat tetapi tidak dalam konotasi gerak dan alat. …

Dalam pandangan kalam Syiah, Allah adalah eksistensi yang WujudNya tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Sehingga pemaknaan akan ayat-ayat teologis yang cenderung mendeskripsikan Allah secara materil harus ditafsirkan dalam kerangka metaforik. Ketakterbatasan Allah meniscayakan Dia di luar dari apa pun termasuk pemahaman mnausia. Oleh karena itu nalar manusia tak akan mungkin mampu memahami Dia sebagaiamana Dia. Akal manusia hanya mengantarkan manusia pada batas-batas pembuktian akan keberadaan dan keesaanNya saja. Terkait dengan frase Nafy dalam kalimat Tauhid, Tauhid Zat adalah menafikan apa pun yang seperti Allah baik dalam pemahaman maupun kenyataan. Dan terkait dengan frase itsbat, tauhid Zat bermakna pengakuan akan eksistensi Allah yang melebihi dari segala apa pun dan tidak ada yang serupa denganNya.

Dalam hal Tauhid Sifat, kalam Syiah mengakui bahwa Zat dan Sifat-sifat Allah adalah identik. Tauhid Sifat bermakna menafikan pluralitas dalam ZatNya sebagai keniscayaan akan keesaanNya. Tauhid Sifat dalam kalam Syiah memiliki kesamaan dengan Mu’tazilah yang cenderung menafikan Sifat Allah sebagai entitas yang mandiri. Sifat Allah merupakan realitas i’tibari yang eksistensinya idnetik dengan Zat Allah. Nama dan Sifat-sifat merupakan atribusi-atribusi artifisial yang dilekatkan kepada Allah dalam upaya untuk memudahkan memahami tentang Allah, karena memahami Zat Allah adalah suatu hal yang mustahil. Dalam Kalam Syiah, Sifat Allah terbagi dalam dua kategori, yaitu Sifat Zati dan Sifat Af’ali. Yang pertama merupakan Sifat Allah yang dikaitkan dengan DiriNya sendiri, seperti Sifat Wujud, Qadim, Esa, Quddus, dan lain-lain. Sedangkan Sifat Af’ali adalah Sifat-sifat Allah yang dilekatkan atas dasar relasi antara Allah dan makhlukNya. Seperti Sifat Rahman, Rahim, Khaliq, Ghafur, dan lain-lain.

Konsep tentang Allah dalam kalam Syiah banyak dipenngaruhi oleh pandangan filsafat dan sufisme atau irfan. Allah dipahami sebagai Causa Prima, Wujud Mutlak (Wajib al-Wujud), Cahaya di atas segala cahaya (al-Nur al-anwar), dan Wujud qua wujud (Wujud Murni). Konsep Wahdat al–Wujud diterima sebagai keyakinan mainstream yang berbeda dengan pandangan kalam di dunia Sunni. Pandangan ini sangat dipengaruhi oleh konsep irfan Ibn ‘Arabi dan filsafat wujud Mulla Shadra. Tauhid dipahami sebagai kesatuan dengan Allah yang menafikan kesadaran akan segala sesuatu selain Allah, dalam pengertian tidak ada segala sesuatu yang eksis secara mandiri selain Dia. Pandangan ini didasarkan pada pahaman frase nafy dalam kalimat Tauhid yang meniscayakan penafian akan wujud-wujud lain yang mandiri selain Allah. Karena Wujud pada dasarnya adalah tunggal, maka proses penciptaan alam semesta merupakan proses gradasi dari Wujud Murni yang melahirkan tingkatan-tingkatan wujud dalam ciptaan atau yang dikenal dalam filsafat Shadra dengan istilah tasykik al-wujud.

Perbedaan yang sangat tajam dalam konsep ketuhanan dalam teologi Islam menjadikan wacana teologi Islam menjadi sangat kaya dalam hal tema-tema pembahasan dan pendekatan dalam memahami tema-tema tersebut. Namun, di sisi lain perbedaan tersebut terkadang melahirkan konflik horizontal yang cukup tajam antara masing-masing kelompok. Sangat banyak catatan sejarah bertutur tentang arogansi suatu golongan teologi yang ketika berkuasa cenderung menafikan bahkan menghabisi kelompok lainnya, peristiwa mihnah merupakan salah satu contohnya.


Sumber: Dr. Sabara Nuruddin, S. HI. M. Fil.I

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s