Filsafat Akhlak

Setelah cukup mengenal macam-macam studi akhlak, saatnya mengukur batas-batas dan ruang lingkup Filsafat Akhlak sebagai sebuah bidang ilmu. Apakah ia mencakup semua macam penelitian tersebut di atas? Ataukah terbatas pada studi Normatif dan Analitik? Ataukah ia identik dengan Metaakhlak (studi analitik)?

Sebagian filsuf akhlak berpandangan bahwa filsafat Akhlak, dalam perspektif tertentu, mencakup tiga macam studi di atas. Menurut Frankena, Filsafat Akhlak pada awal mulanya adalah upaya membangun kerangka umum dalam dataran normatif. Namun, kerangka itu akan menjadi sempurna dan utuh tatkala melibatkan persoalan-persoalan analitik. Karena itu, Filsafat Akhlak juga membahas permasalahan-permasalahan MetaAkhlak. Di samping itu, ada sejumlah teori-teori dalam Psikologi dan Antropologi yang turut terlibat dalam pembahasan-pembahasan normatif dan analitik. Maka, ada sebagian pembahasan Filsafat Akhlak bersifat empirik dan deskriptif.

Merujuk kepada filsuf-filsuf akhlak sebelum abad 20-an, karya-karya tulis mereka merupakan komposisi dari studi deskriptif, studi normatif dan sebagian isu analitik, seperti yang tampak pada karya-karya akhlak Plato, Aristoteles, Hume, Buthler, Kant, J.S. Mill, juga pada karya-karya ulama akhlak muslim.

Namun, jika memang Filsafat Akhlak ini berupa kajian filosofis dan rasional tentang isu-isu akhlak, maka ilmu ini tidak mencakup penelitian-penelitian deskriptif yang mengandalkan empiris dan data-data tekstual. Sesuai denagn pandangan umum pemikir dan filsuf akhlak, filsafat Akhlak hanya menghimpun permaslahan-permasalhan akhlak normatif.

Ada pula sejumlah filsuf akhlak yang menganggap bahwa persoalan tentang batas-batas Filsafat Akhlak dan apakah disamping isu-isu Metaakhlak, Filsafat akhlak juga membahsa isu-isu normatif, adalah bagian dari pesoalan-persoalan Metaakhlak. Dengan ungkapan lain, luas sempitnya ruang lingkup kajian Filsafat Akhlak bergantung pada pandangan-pandangan sesorang berkaitan dnegan isu-siu Meta Akhlak dan dengan esensi statemen-statemen moral. Peneliti yang sepakat dengan Ayer dan kaum emosionalis tentang statemen-statemen akhlak, tidak akan menelaah statemen-statemen itu pada tataran analitik dan secara rasional. Dengan demikian, ia akan membuang keluar isu-isu normatif akhlak dari ruang Filsafat Akhlak. Namun, bagi seorang filsuf yang memandang bahwa statemen-statemen akhlak itu membawa muatan kognitif, serta menunjukkan suatu fakta di luar, maka ia akan menempatkan isu-isu normatif akhlak di dalam Filsafat Akhlak.

R.M. Hare bersama filsuf-filsuf Filsafat Analitik membatasi pembahasan-pembahasan Filsafat Akhlak pada isu-isu Metaakhlak. Mereka lebih mencermati isu-isu itu dari aspek semantiknya, ketimbang dari dua aspek lainnya; epistemologis dan logis. Kerena, isu-isu filosofis, menurut mereka, hanya bisa diverifikasi oleh analisis bahasa (linguistic analysis) dan penjelasan akan arti kata serta kalimat. Mereka mengeluarkan seluruh pembahsan psikologis dan saintis serta isu-isu normatif dari Filsafat Akhlak. Ayer secara tegas menyatakan bahwa Filsafat akhlak hanya menelaah konsep-konsep akhlak serta benar salahnya pendefinisian konsep-konsep tersebut.

Tampaknya, Filsafat Akhlak adalah nama lain dari Metaakhlak. Ia tidak mencakup pembahasan-pembahasan akhlak normatif dan akhlak deskriptif, karena filsafat akhlak pada dasarnya adalah penelitian atas statemen-statemen akhlak dan postulat-postulat ilmu akhlak, baik yang berupa konsep ataupun statemen. Artinya, subjek Filsafat akhlak adalah ilmu akhlak dan kesimpulan-kesimpilan akhlak normatif. Adapun isu-isu akhlak normatif sendiri tidak dibahas di dalam Filsafat akhlak.

Jadi, filsafat akhlak adalah satu bidang ilmu yang membahsa dasar-dasar dan postulat-postulat ilmu akhlak, dengan menyinggung sejumlah masalah yang berkaitan dengan peletak ilmu, tujuan ilmu, metodologi dan sejarah perkembangannya. Ilmu ini disebut juga dnegan Filsafat Ilmu Akhlak, untuk lebih memperjelas subjek penelitianya; yaitu satu bidang Filasafat yang menelaah dasar-dasar Ilmu Akhlak.

ISU-ISU FILSAFAT AKHLAK

Melengkapi pengenalan kita akan batas-batas dan cakupan pembahsan filsafat akhlak, di sini kita perlu mengisyaratkan isu-isu terpenting yang dibahas di dalamnya;

1. Bagaimana proses kemunculan konsep-konsep moral? Bagaimana mental manusia menagkap konsep-konsep itu? bagaimana membedakan penggunaan istilah-istilah seperti; benar, salah, harus, tidak boleh, tugas, tanggung jawab dalam studi moral dari penggunaannya dalam studi-studi non-moral? Apakah pengertian dari konsep-konsep yang digunakan dalam studi-studi akhlak seperti; intusi, kehendak bebas (free will), ingin, motifasi, tanggungjawab, akal? Apakah esensi dan fungsi hukum-hukum yang terkandung dalam istilah-istilah dan konsep-konsep moral?

2. Apakah dasar-dasar kemunculan hukum dan pesan moral? Apakah hukum-hukum moral itu bersumber dari alam natural? Ataukah dari akal budi manusia? Ataukah dari kontrak sosial? Ataukah dari kehendak dan perundang-undangan Tuhan? apakah pembuktian atas validitas keharusan-keharusan dan hukum-hukum moral mesti bertumpu pada satu keharusan prinsipal ilahi?

3. Isu deklaratifitas dan imperatifitas statemen-statemen moral merupakan bagian terpenting dalam pembahsan Filsafat Akhlak. Kendati statemen-statemen moral bisa dituangkan ke dalam bentuk deklaratif seperti; “Keadilan adalah baik”, juga ke dalam bentuk imperatif seperti; “harus berbuat adil!”, permasalahannya menjadi demikian serius tatkala kajian di sini mempertanyakan manakah yang prinsipiil di antara dua bentuk statemen moral tersebut?

4. Apakah posisi dan peran niat atau maksud pelaku dalam tindakan-tindakan moral? Apakah statemen “kejujuran itu baik” sudah bisa dinilai kebenarannya hanya karena kesesuaiannya dengan fakta di luar? Ataukah perlu dilampirkan pula motifasi subjektif di dalam penilaian tersebut? Lebih cermat lagi, apakah hukum-hukum moral itu dilandasai oleh nilai baik buruknya tindakan saja, ataukah juga oleh baik buruknya si pelaku?

5. Apakah unsur “keharusan” adalah bagian dari karakter dasar pesan-pesan dan hukum-hukum moral? Jika demikian, lalu bagaimana kaitan unsur keharusan itu dengan kepemilihan bebas manusia yang merupakan unsur lain dalam karakter dasar pesan dan hukum moral?

6. Apakah hubungan antara tindakan moral dan ganjaran/balasan? Apakah mesti ada ganjaran baik di balik tindakan yang baik dan ganjaran buruk di balik tindakan yang bhbruak? Jika demikian, apakah pelaku mesti concern terhadap ganjaran di saat ia melakukan tindakannya, atau malah perhatiannya inilah yang menempatkan dirinya dalam kerangka transaksi/kontraksi, sehingga berdampak negatif pada moralitas tindakannya?

7. Permaslahan Filsafat Akhlak yang tidak kurang pentingnya adalah apakah dasar-dasar suatu hukum moral? Atas dasar apa statemen-statemen moral itu dirumuskan dan dinyatakan? Bagaimana menjelaskan arti harus dalam hukum moral? Apakah metode pembuktian atas hokum-hukum moral? Mengapa harus bersikap jujur, harus berbuat adil, tidak boleh menganiaya? Apakah standar kebaikan dan keburukan suatu tindakan? Apakah kepuasan subjektif? Ataukah kepuasan kolektif? Apakah klaim Durkheim itu benar bahwa maysarakat adalah hakim yang memutuskan baik buruknya suatu tindakan? Ataukah sama sekali standar itu tidak ada kaitannya dengan kepuasan kolektif dan selera subjektif, tetapi brkaitan erat dnegan kesempurnaan hakiki dan kebahagian abadi manusia?

8. Apakah hukum-hukum moral disa diverifikasi? Jika demikian, apakah verifikasi itu berlaku pada seluruh hukum-hukum moral, baik yang bersifat fundamental (basic judgement) ataupun yang bersifat turunan (derivative judgement)? Apakah benar hukum-hukum fundamental akhlak tidak perlu verifikasi dan pembuktian, sebagaiman dalam klaim Intusionisme? Adakah perbedaan di antara pembuktian dalam akhlak dan pembuktian di luar akhlak? Apakah jenis pembuktian dalam akhlak? Apakah berupa demonstrasi, dialektika atau selainnya?

9. Apakah setiap masyarakat mesti menganut sistem nilai yang khas bagi dirinya, ataukah semauanya hanya punya satu sistem nilai dan satu rangkaian hukum moral? Apakah moralitas masyarakat feodal mesti berbeda dengan moralitas maysarakat borjuis? Apakah hukum-hukum moral sebuah komunitas itu stabil atau berubah-ubah seiring dengan jatuh bangun riwayat perjalanannya? Artinya, apakah nilai-nilai noral iru absolut ataukah relatif?

10. Salah satu pembahsan terpenting dalam Filsafat Akhlak adalah relasi Akhlak dengan bidang-bidang pengetahuan lainnya seperti: sains, hukum, agama, dan kontrak-kontrak sosial. Apakah akhak terpisah dari agama? Mungkinkah sistem nilai itu tegak kokoh tanpa agama? Apakah relasi antara sains dan akhlak? Bisakah niali-nilai dan hukum-hukum akhlak dibetot dari data-data sains? Apakah keduanya sama sekali berbeda, sehingga tidak ada satu hukum moral pun yang bisa diverifikasi oleh seribu satu pembuktian ilmiah? Apakah relasi antara akhlak dengan hukum positif dan perundang-undangan, kontrak-kontrak sosial dan konsensus-konsensus politik? Adakah kesamaan dan perbedaan di antara mereka?

KEDUDUKAN FILSAFAT AKHLAK

Tidak syak lagi, bahwa akhlak dan pembinaan jiwa adalah sangat penting. Salah satu faktor terpenting dalam pencapaian kebahagian dunia dan akherat adalah akhlak mulia, membersihkan diri dari sifat-sifat buruk dan berusaha menyandang sifat-sifat terpuji. Dalam Islam, Akhlak merupakan permaslahan terpenting setelah Tauhid dan Nubuwwah. Melalaikan Akhlak acapkali memberangus dasar-dasar keyakinan seseorang. Dalam sebagian ayat, Al-qur’an menerangkan adanya sejumlah kebiasaan dan sifat buruk yang menjadi kendala besar untuk beriman kepada Tuhan. dalam kaitannya dengan kaum Nasrani Najran, rasulullah saww berkata: bukan karena mereka itu tidak tahu akan kebenaran Islam, tetapi hanya karemna kesuakaan mereka pada minuman keras dan daging babi. Disini tampak jelas hubungan erat antaera akhlak dan akidah . Berapa banyak akhlak yang baik yang dapat menunjukkan pelakunya kepada kebenaran, juga tidak sedikit akhlak yang buruk yang menyesatkannya pelakunya dari hidayah.

Akhlak dalam Islam adalah ilmu yang sangat mulia. Al-qur’an menyatakan bahwa pembinaan akhlak dan menyucian jiwa merupakan salah satu tujuan diutusnya para rasul dan nabi . Nabi Muhammmad saww dalam sebuah hadis yang amat populer menegaskan bahwa tujuan kenabiannnya adalah untuk menyempurnakan kemulian-kemulaian akhlak.

Menurut Islam, akhlak adalah salah satu ajaran fundamental disamping akidah dan syariat (hukum-hukum fikih). Ia adalah jalan hidup (way of life) dan arah gerak yang lurus menuju kesempurnmaan sejati. Ia yang membimbing manusia untuk selalu berhubungan dnegan Tuhan. oleh sebab ini, para ulama dan pemikir islam mencurahkan perhatian mereka secara lebih khusus kepada akhlak. Di dalam setiap masyarakat muslim selalu ada ulama-ulama yang membina anggota-anggotanya dengan menerapkan ritual-ritual yang membuat akhlak tetap hidup di tengah-tengah mereka. Bahkan, mereka menuangkan ajaran dan arahan itu dalam karya-karya seperti: rasail ikhwanussh-shafa wa khillanul wafa’, as-sa’adah wal is’ad fil sirah insaniyah, tahdzibul akhlaq wa tathirul a’raq, ihya ulumud-din, al-muraqobat fi a’malis-sunnah, jamius-sa’adat, dan lain sebagainnya.

Kendati demikian, kajian-kajian yang berkaitan dengan akhlak kurang berkembang dibandingkan dengan kajian-kajian di bidang teologi, fikih atau di bidang-bidang ilmu keislaman lainnya. Berbagai faktor dan kendala sosial, psikologis, teologis, sebagaiamana yang dilaporkan Ghazali tentang situasi jamannya , turut mengisolir total pembahasan-pembahasn/studi-studi akhlak dari kaum muslimin.

Yang pasti, sedikit sekali upaya-upaya yang curahkan pada studi-studi yang berkaitan dengan Filsasafat akhlak, sehingga jarang sekali ditemukan pandangan-pandangan ulama dan pemikir akhlak Islam. Padahal secara logis, persoalan-persoalan Filsafat Akhlak, sebagai disiplin ilmu yang membahas dasar-dasar ilmu akhlak, mesti ditelaah tebih dahulu sebelum masuk pada tema-tema Ilmu Akhlak.

Sebaliknya di negara-negara Barat. meski nilai-nilai aklak di sana rapuh dan redup, namun banyak karya-karya yang ditulis berkenaan dengan akhlak, khususnya Filsafat akhlak yang merebut panyak peminat dari kalangan akademis. banyak kajian-kajian penting dan luas yang telah mereka lakukan, walaupun ada banyak kerancuan dalam meneliti beberapa masalah falsafat akhlak. Munculnya aliran-aliran akhlak yang beragam menegaskan bahwa pemikir-pemikir akhlak di sana masih belum menemukan landasan yang kuat dalam memecahkan permasalahn-permasalahn di bidang ini.


Sumber: Ust. Hasan Abu Ammar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s