Syarat diterimanya Taubat

CG8223

Salah seorang laki-laki datang ke hadapan Imam Ali as untuk bertaubat. Ketika menyadari bahwa orang itu tidak mengetahui arti penting taubat, Imam as bertanya kepadanya,

“Apakah engkau mengetahui makna taubat? Sesungguhnya taubat mempunyai derajat yang tinggi (Illiyin). Ia mempunyai enam syarat untuk pengabulannya. Dua yang terakhir merupakan syarat kesempurnaannya.” Apakah enam syarat itu?

Syarat pertama adalah menyesali atas perbuatan dosa yang telah dilakukan di masa lalu. Ini berarti melihat perbuatan gelap (buruk) di masa lalu, sangat menyesalinya, dan merasa malu sehingga hal itu membakar hatimu. Al-Qur’an mengatakan:

Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minum-minuman keras dan berjudi, berkorban untuk batu-batu (berhala-berhala) dan (mengundi) nasib dengan anak panah, adalah perbuatan setan yang sangat dibenci, maka jauhilah olehmu perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. 5:90)

Setiap orang mengetahui betapa jijiknya bangkai dan tidak ada sesuatu yang lebih tepat ketimbang membandingkan bergunjing (ghibah) dengan bangkai. Berdusta berada dalam kategori dosa yang sama. Sejumlah orang dalam menuduh orang lain memulai perkataan mereka dengan ungkapan, “Katanya,…”, dan menganggap bahwa dalam hal ini mereka membebas diri mereka dari dosa berdusta dan selanjutnya mereka mengingkari ucapan mereka seraya mengatakan bahwa mereka telah mengutip kata-kata orang lain. Ini pun merupakan suatu dosa. Tentang hal ini, al-Qur’an pun telah melarangnya dalam ayat berikut:

Sesungguhnya orang-orang yang sering menyebarkan perbuatan yang tercela itu di kalangan orang-orang yang beriman, mereka akan mendapatkan hukuman yang pedih di dunia dan di akhirat; dan Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahuinya.” (QS.24:19)

Mereka yang menyebarkan tuduhan kepada orang lain tengah melakukan dosa besar. Termasuk dosa besar adalah ketika melepaskan pandangan secara tidak halal kepada putri atau istri seseorang untuk melepaskan kewajiban sholat dan puasa serta menunjukkan ketak pedulian akan adab-adab suci di bulan rintihan dan puasa. Demikian pula mengenakan pakaian secara tidak wajar di muka umum dikategorikan ke dalam dosa seperti ini.

Ketika menyampaikan perjalanan mikrajnya, Nabi saw mengatakan, “Aku melihat perempuan digantung dengan rambut mereka dan dipukul dengan bencana yang menyala-nyala dan perempuan yang digantung dengan payudara mereka dan dihantam dengan cambuk. Aku bertanya siapakan mereka itu dan dijawab (oleh malaikat), “Inilah perempuan yang mempertontonkan tubuh mereka di depan umum.”

Apakah nilai dari rentang kehidupan yang singkat ini sampai-sampai membukakan diri untuk hukuman akhirat semacam itu? Belum datangkah waktu untuk seseorang untuk merasa hina dan menunjukkan minat pada apa yang diperintahkan oleh Allah? Al Qur’an mengatakan :

Belum datangkah saat bagi orang-orang yang beriman sehingga hati mereka merendah untuk mengingat Allah dan apa-apa yang turun dari Yang Haq?” (QS.57:16)

Apakah faedah dari sekali-kali mencucurkan air mata untuk penampilan ketimbang bertaubat dan menghalangi diri sendiri dan orang lain dari berbuat dosa?

Syarat kedua yang membentuk dasar rujukan adalah tekad yang kukuh untuk tidak mengulangi lagi perbuatan dosa. Taubat tidak tergantung pada kadar besarnya dosa. Setiap jenis dosa, baik besar maupun kecil, memberi kemungkinan untuk taubat asal saja pelaku taubat sungguh-sungguh dalam melakukan niatnya itu.

Salah satu dari dua syarat untuk pengabulan taubat adalah mengembalikan apa-apa yang milik orang lain, baik itu sesuatu yang dirampas atau suatu hak yang diinjak-injak. Hak itu harus dikembalikan kepada pemiliknya atau paling tidak pemilik yang sah memberikan kerelaannya. Allah tidak akan melupakannya dan hal yang sama berlaku pula pada seseorang yang telah dipergunjingkan. Ia semestinya memberikan kerelaannya. Ia pun semestinya menerima permintaan maaf tersebut.

Saya ingin meriwayatkan sesuatu yang menyangkut saya sendiri. Ketika menjadi pelajar agama yang muda, saya menghindari suatu kelompak. Dalam pertemuan tersebut, seseorang mulai mengumpat almarhum Ayatullah Hujjat dimana saya adalah muridnya selama beberapa tahun. Saya rasa ini sangat keliru tetapi saya tidak melakukan sesuatu apapun. Suatu hari saya bertandang ke rumahnya dan memohon untuk menjumpainya. Saya dipersilahkan masuk. Lalu saya jelaskan bahwasanya seseorang telah membicarakan beliau (Ayatullah Hujjat) tanpa sepengetahuannya yang itu saya tidak mampu untuk menghentikannya. Saya merasa menyesal akan peristiwa itu dan memohon ampunannya. Dengan kebesaran hatinya, beliau menjawab, “Ada dua jenis umpatan mengenai orang-orang seperti kita, pertama yang mencela Islam dan kedua, menyangkut pribadi kita.” Saya terangkan bahwa ia (orang yg mengumpat Ayatullah Hujjat) tidak mengatakan sesuatu apapun yang menyerang Islam tetapi hanya membicarakan pribadi Ayatullah. Ia berkata kepadaku bahwa aku dimaafkan.

Dalam taubat segala sesuatu yang diperoleh secara tidak sah kepunyaan orang lain baik itu suatu tugas agama, sogok, atau perolehan yang tidak sah lainnya ataupun setiap kerusakan yang terjadi dan itu mesti diganti dan diperbaiki sehingga pemilik yang sah atau orang yang telah menerima kerusakan menjadi terpuaskan (rela).

Andaikata kalian tidak memiliki sesuatu yang tersisa untuk diberikan dan misalnya pemilik yang sah sudah meninggal, mintalah ampunan kepada Allah. Insya Allah, Dia akan menjadikan orang itu rela. Demikian pula, hak-hak Tuhan harus juga dipulihkan. Apakah yang dimaksud hak-hak Tuhan? Apakah kalian alpa melakukan puasa atau mendirikan ibadah shalat, atau abai dalam menunaikan kewajiban berhajimu ke Mekkah padahal mampu melakukannya baik secara fisik maupun secara finansial, kalian mesti memperbaiki semua kealpaan ini. Demikian ini merupakan syarat kedua untuk diterimanya taubatmu.

Seorang perempuan yang mengikuti salah satu ceramah saya telah menyuratiku bahwa ia sangat terpengaruh oleh ucapan-ucapan saya menyangkut perubahan total hati. Dia mengaku bahwa meskipun pendidikannya tinggi dan dari sisi karier ia seorang kepala sekolah, ia tidak cukup beruntung memahami al-Qur’an secara tepat. Untuk itu ia memohon petunjuk dan nasihat.

Izinkan saya menjawab. Adalah penting bagi setiap segenap Muslim mengetahui bahasa Arab gunan memahami al-Qur’an dan shalat (doa)-nya sendiri. Namun yang terjadi adalah bahasa Inggris kini menjadi bahasa Internasional dan sarana meningkatkan pendapatan seseorang. Di setiap sekolah, lelaki dan perempuan, diajarkan bahasa itu sedangkan bahasa Arab sepenuhnya terabaikan meskipun dari sisi agama dan spiritual ia sangat diperlukan oleh kita.

Syarat berikut yang Imam Ali’as sebutkan sekaitan dengan pengabulan taubat adalah membersihkan dirinya dari semua daging yang telah tumbuh padanya dengan jalan yang haram. Ini memerlukan pematangan dan disiplin diri sehingga daging pada dirinya meleleh dan digantikan dengan daging baru yang tumbuh dari sarana-sarana yang halal, jujur, dan tepat.

Ayah saya mengisahkan bahwa almarhum Razavi Khorasani, seorang pemikir agama, memiliki tubuh yang sangat gemuk. Menjelang akhir hayatnya, ia bersua dengan seorang zahid yang taat dan atas pengaruhnya, almarhum memutuskan untuk mengurangi daging dan lemaknya yang berlebihan sampai ke taraf tertentu sehingga ia menjadi sangat ramping dan kurus. Saya tidak bermaksud kurang ajar ketika mengatakan kegemukannya disebabkan kehidupan yang longgar, namun bagaimanapun ia sendiri telah sampai pada kesimpulan bahwa seorang pemuka agama semestinya tidak gemuk.

Syarat terakhir yang hendak saya jelaskan adalah membiarkan tubuh merasakan pahitnya ketaatan dan ibadah sebagaimana dia telah menikmati manisnya dosa. Puasa bukanlah hal yang mudah terutama jika kalian terbiasa menghabiskan waktu malam hari dengan shalat. Ketika membicangkan taubat, al-Quran menyebutkan hal berikut :

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS.2:22)

Artinya kalian harus menyucikan diri kalian bukan saja secara fisik, namun juga secara ruhani. Untuk dua jenis kesucian ini, Nabi saw adalah teladan sempurna. Al-Quran juga membincangkan perihal memperbaiki berkaitan dengan taubat. “Dan ia yang kembali (kepada Allah, bertaubat) setelah melakukan kejahatan dan memperbaiki (dirinya), maka sesungguhnya Allah memberi ampunan kepadanya (dengan murah hati). Sesungguhnya Allah Maha Pengampun Maha Penyayang.” (QS.5:39)

Saya telah menyebutkan bahwa terkadang separuh diri seseorang memberontak terhadap separuh lainnya. Pemberontakan ini boleh jadi dilakukan oleh sisi rendah seseorang semisal nafsu birahi, amarah, atau setaninya atau oleh sisi luhurnya seperti akal, kesadaran, watak, hakiki atau kedalaman hatinya.

Sumber: Rahasia-Rahasia Ruhani, Murtadha Muthahari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s