Amar Makruf Nahi Munkar

C3M36IqWYAESC9B

Makna

Yang dimaksud dengan amar makruf dan nahi munkar adalah mengajak masyarakat untuk melakukan kebaikan dan melarang mereka dari melakukan keburukan.

Kewajiban Amar Makruf dan Nahi Munkar

Amar makruf dan nahi munkar merupakan salah satu kewajiban agama Islam yang sangat penting, dan seseorang yang meninggalkan atau mengabaikan kewajiban besar Ilahi ini akan termasuk dalam kelompok orang-orang berdosa yang kelak akan mendapatkan hukuman yang sangat susah dan berat. Amar makruf dan nahi munkar menjadi wajib bukan hanya berdasarkan pendapat para fukaha, melainkan prinsip kewajibannya merupakan bagian dari urgensi agama Islam.

Perhatian

1.   Amar makruf dan nahi munkar yang telah terpenuhi syarat-syaratnya merupakan sebuah kewajiban syar’i dan berlaku secara umum, hal ini bertujuan untuk menjaga hukum-hukum Islam dan demi memelihara keselamatan masyarakat. Sekedar beranggapan bahwa tindakan ini akan menimbulkan pandangan negatif dan prasangka buruk dari pelaku kemunkaran atau sebagian dari masyarakat terhadap Islam, tidaklah meniscayakan kewajiban yang sangat penting ini bisa diabaikan.(Ajwibah al-Istifta’at, no. 1062)

2.    Orang-orang yang mengetahui adanya penyelewengan atau pelanggaran-pelanggaran hukum seperti penyalahgunaan dana baitul mal, mempunyai kewajiban untuk melakukan amar makruf – nahi munkar dengan tetap memperhatikan syarat-syarat dan kondisi syar’inya, dan menyelesaikannya dengan menyuap atau cara-cara yang tidak sah, meskipun bertujuan untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya kerusakan, adalah tidak diperbolehkan. Memang, jika syarat-syarat untuk melakukan amar makruf – nahi munkar tidak terpenuhi, maka mereka akan terbebas dari kewajiban ini, seperti apabila terdapat kekhawatiran ketika melakukan kewajiban ini akan timbul kerugian bagi mereka dari pihak atasan, maka kewajiban ini akan gugur dari mereka. Tentunya hukum ini berlaku ketika perkara-perkara tersebut terjadi di negara yang tidak diperintah dengan hukum Islam, akan tetapi dengan adanya pemerintahan Islam yang memberikan perhatian terhadap pelaksanaan kewajiban amar makruf – nahi munkar, maka orang-orang yang tidak mampu melakukan kewajiban ini wajib hukumnya untuk memberikan informasinya kepada pejabat berwenang yang ditunjuk oleh pemerintah khusus untuk menangani masalah ini hingga masalah-masalah yang rusak dan juga merusak ini bisa tercerabut hingga ke akar-akarnya. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1082 dan 1083).

3.    Tidak ada perbedaan antara kemunkaran-kemunkaran dari sisi kemunkarannya, akan tetapi bisa jadi sebagian dari kemunkaran lebih keras keharamannya ketika dibandingkan dengan kemunkaran lainnya. Bagaimanapun juga, mencegah kemunkaran merupakan sebuah kewajiban syar’i bagi siapapun yang telah memenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada kebolehan baginya untuk meninggalkannya, dalam hukum ini pun tidak ada perbedaan apakah kemunkaran tersebut berada dalam lingkungan kampus ataukah di luar kampus. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1084)

4.    Wajib bagi para pejabat yang berwenang untuk memerintahkan para ahli asing yang kadangkala bekerja di beberapa institusi negara Islam untuk tidak menampakkan perbuatan-perbuatan seperti minum minuman keras dan memakan daging haram secara mencolok dan mencegah mereka dari melakukannya secara terang-terangan. Akan tetapi para pejabat sama sekali tidak boleh memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan norma-norma kesucian umum. Bagaimanapun, para pejabat yang berwenanglah yang harus mengambil tindakan-tindakan yang tepat terhadap mereka berkenaan dengan perbuatan-perbuatan tersebut. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1085)

5.    Tindakan yang harus dilakukan oleh para pemuda Muslim di universitas-universitas yang bercampur (antara laki-laki dan wanita) ketika menyaksikan kerusakan-kerusakan yang terlihat di sebagian tempat, selain wajib menghindar diri dari kerusakan, mereka juga wajib untuk melakukan amar makruf – nahi munkar, tentunya ketika telah mampu melakukannya dan ketika persyaratan telah terppenuhi. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1087)

6.    Amar makruf – nahi munkar terhadap wanita-wanita yang tidak mengenakan hijab secara sempurna tidak mesti dengan cara memandang mereka dengan (pandangan yang bercampur) raibah (kekhawatiran terjatuh pada perbuatan haram), oleh karena itu amar makruf ini wajib hukumnya. Memang, setiap mukallaf wajib untuk menghindarkan diri dari perbuatan haram khususnya ketika tengah melakukan kewajiban untuk mencegah kemunkaran. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1068)

Batasan Amar Makruf Nahi Munkar

Amar makruf dan nahi munkar tidak terbatas hanya pada kelompok dan suku bangsa tertentu, melainkan meliputi seluruh kelompok dan suku bangsa yang telah memenuhi persyaratan, bahkan wajib atas para wanita dan anak untuk melakukan amar makruf – nahi munkar ketika menyaksikan ayah, ibu atau suami meninggalkan perbuatan yang terpuji (makruf) atau melakukan hal-hal yang haram, tentunya ketika seluruh syarat-syaratnya telah terpenuhi. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1069)

Perhatian:

Ketika obyek serta persyaratan telah terpenuhi, maka melakukan tindakan amar makruf – nahi munkar akan menjadi taklif syar’i, kewajiban sosial, dan kemanusiaan bagi seluruh mukallaf, dan masalah ini tidak ada hubungannya dengan status mukallaf yang masih lajang ataukah telah berkeluarga. Dengan demikian, kewajiban ini tidak akan bisa gugur hanya dengan alasan karena mukallaf masih lajang.

(Ajwibah al-Istifta’at, no. 1060)

Syarat-Syarat

Syarat-syarat amar makruf – nahi munkar terdiri dari empat hal, yaitu: orang yang melakukan amar makruf – nahi munkar harus mempunyai pengetahuan tentang makruf dan munkar, terdapat kemungkinan tindakannya akan berpengaruh bagi orang yang dituju, orang yang dituju mempunyai minat melakukan dosa, dan terakhir, tidak ada keburukan pada tindakan yang dilakukannya. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1057)

Penjelasan

  • Adanya pengetahuan tentang makruf dan munkar

Syarat pertama dari tindakan amar makruf – nahi munkar adalah adanya pengetahuan tentang makruf dan munkar, yaitu pelaku amar dan nahi harus mengenal makruf dan munkar, dan jika tidak demikian, berarti tidak ada kewajiban bahkan tidak ada kebolehan baginya untuk melakukannya, karena bisa jadi dengan kejahilan dan kebodohannya dia malah akan memberikan perintah untuk berbuat munkar dan melarang perbuatan makruf.

Oleh karena itu, tidak ada kewajiban bahkan tidak ada kebolehan bagi kita untuk bernahi munkar kepada orang yang tidak kita ketahui perbuatan yang dilakukannya adalah haram ataukah tidak (misalnya tidak jelas bagi kita apakah musik yang dia dengar tergolong musik yang haram ataukah halal). (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1057, 1059, dan 1067)

  • Adanya kemungkinan berpengaruh

Syarat kedua dari amar makruf – nahi munkar adalah terdapat kemungkinan akan berpengaruh, yaitu pelaku amar dan nahi harus berasumsi bahwa tindakannya akan memberikan pengaruh, meskipun pada masa mendatang. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1057)

Perhatian:

Jika telah terbukti secara pasti bagi para pejabat bahwa sebagian dari pegawainya mengabaikan shalat atau bahkan sama sekali tidak melakukannya dan nasehat serta bimbingan pun tidak lagi berpengaruh, mereka tetap wajib untuk tidak lalai dalam memberikan pengaruh dengan amar makruf – nahi munkar dengan tetap memperhatikan persyaratannya. Sementara itu, jika tidak ada lagi harapan akan adanya pengaruh dari tindakan ini, sedangkan berdasarkan ketentuan hukum menghilangkan sebagian dari keistimewaan-keistimewaan kerja mereka ini diperbolehkan, maka hal ini harus dilaksanakan, disamping itu juga harus diberi peringatan bahwa hilangnya keistimewaan-keistimewaan tersebut dikarenakan kelemahan dan ketiadaan perhatian mereka dalam melaksanakan kewajiban Ilahi. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1076)

  • Berminat dalam melakukan dosa

Syarat ketiga dari amar makruf – nahi munkar adalah harus terdapat kontinuitas dan minat dari pendosa dalam melakukan dosanya, dan jika diketahui dengan jelas bahwa pelanggar bisa meninggalkan kesalahannya tanpa amar dan nahi, yaitu dia akan berbuat makruf dan meninggalkan munkar dengan sendirinya, maka baginya, amar dan nahi tidak lagi menjadi suatu kewajiban. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1057)

  • Tidak ada keburukan

Syarat keempat adalah ketiadaan keburukan di dalamnya, yaitu tindakan amar makruf – nahi munkar harus tidak memiliki pengaruh buruk, dengan demikian apabila amar makruf – nahi munkar akan menyebabkan keburukan bagi pelaku amar dan nahi atau membawa dampak buruk bagi para Muslim lainnya seperti akan membahayakan jiwa, harga diri atau harta, maka di sini, amar makruf – nahi munkar tidak lagi menjadi wajib. Tentunya mukallaf berkewajiban untuk memperhatikan mana yang lebih penting, yaitu dalam seluruh makruf dan munkar-munkarnya dia harus membandingkan antara keburukan ketika melakukan amar dan nahi, dan keburukan ketika meninggalkannya, setelah itu baru mengamalkan yang lebih penting. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1057)

Perhatian:

Seseorang yang khawatir ketika melakukan amar makruf – nahi munkar pada orang yang mempunyai kedudukan atau pengaruh di kalangan masyarakat akan membahayakan dirinya, maka tidak ada kewajiban baginya untuk melakukannya, namun dengan syarat, kekhawatirannya tersebut beralasan dan rasional. Akan tetapi tidak selayaknya ia tidak memperingatkan dan menasehati sudara Mukmin lainnya dan meninggalkan kewajiban amar makruf – nahi munkar hanya karena mempertimbangkan kedudukan pelanggar makruf dan pelaku munkar atau hanya karena dugaan akan merugikannya. Bagaimanapun, wajib baginya untuk mendahulukan yang lebih penting dari yang penting. (Ajwibah al-Istifta’at, no. 1059 dan 1061)

Sumber: Syiahahlulbait

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s