Keadilan Ilahi: Antara Aql dan Naql [Bag. Ketiga]

regnum_picture_1448294363_normal

Keadilan Ilahi dan Perbedaan

Terkadang disebutkan bahwa adanya perbedaan pada eksistensi merupakan salah satu bentuk kesemena-menaan, diskriminasi, dan ketidakadilan, dengan demikian tidak sejalan dan selaras dengan keyakinan pada keadilah Ilahi. Munculnya perbedaan ini pada segala sesuatu dalam bentuk eksistensi yang berbeda-beda, sebagai contoh mengapa Tuhan menciptakan eksistensi yang berbentuk manusia dan eksistensi yang berbentuk hewan dan eksistensi yang berbentuk tumbuh-tumbuhan dan mengapa hewan, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan bijian tidak mendapatkan emanasi seperti yang diberikan kepada manusia? Dan terkadang juga kritiknya ditujukan pada perbedaan di antara manusia, seperti mengapa sebagian manusia buta dan sebagain yang lain melihat? Mengapa ada yang cantik dan jelek? Atas dasar apa sebagaian manusia diberikan kecerdesan dan sebagian yang lain bodoh?

Untuk menjawab keraguan-keraguan di atas maka perlu kami paparkan beberapa pendahuluan sebagai berikut:

1. Di alam natural dan materi bahkan di alam makhluk nonmateri memiliki sistem tersendiri dan aturan serta hukum yang tidak berubah yang menjadi tolak ukur bagi alam tersebut. Salah satu yang paling penting dari hukum alam dan sunnatullah tersebut adalah hukum sebab-akibat dimana dikatakan bahwa setiap makhluk pasti memiliki sebab, dan antara sebab dan akibat harus ada keselarasan dan kesesuaian sehingga tidak semua akibat akan terlahir dari setiap sebab;

2. Aturan, sunnaatullah, dan hukum alam yang ada pada seluruh alam adalah hakikat alam itu sendiri sehinga tidak mungkin kita katakan bahwa alam tetap ada tetapi hukum alam itu sendiri berubah dan sirna, sebagaimana kita tidak bisa memisahkan gula dengan rasa manis atau air tanpa sifat basah;

3. Hukum alam yang tak berubah di antara seluruh eksistensi harus terdapat perbedaan di antara eksistensi itu sendiri. Sebagai contoh, dalam hukum sebab-akibat, wujud akibat itu apabila dinisbahkan kepada sebabnya maka akan lebih rendah tingkatan kesempurnaannya, demikian pula harus ada keselarasan dan kesesuaian antara sebab dan akibat. Jika ada sebab yang menyebabkan lahirnya seorang anak kecil yang buta maka akibat dari sebab itu harus sesuai dengan sebab tersebut sehingga terlahirlah anak kecil yang buta. Sebagai kesimpulan bahwa perbedaan pada alam eksistensi di antara makhluk Tuhan adalah sesuatu yang tidak bisa terpisahkan, tidak bisa dipungkiri, dan merupakan kemestian dari hukum alam dan sunnaatullah tersebut, dengan demikian, mustahil merubah dan memisahkan aturah tersebut dari alam.

Dengan demikian, permasalahannya sudah jelah bahwa menggunakan kata “diskriminasi” pada masalah perbedaan natural ini tidaklah benar, diskriminasi dikatakan ketika dua sesuatu memiliki potensi yang sama untuk mendapatkan sesuatu akan tetapi hanya diberikan kepada salah satu dari keduanya. Sementara dalam pembahasan kita, ketidaksempurnaan sebagian eksistensi karena hukum alam dan sunnatullah pada dasarnya karena tidak memiliki potensi untuk mendapatkan dan menerima kesempurnaan. Dengan kata lain, emanasi dan rahmat Tuhan tak terbatas, akan tetapi potensi, kapasitas, dan kapabilitas yang diciptakan-Nya adalah terbatas dan keterbatasan yang ada pada makhluk-Nya tersebut merupakan salah satu keistimewaan yang tak terpisahkan dari alam dan merupakan anugrah alami dari alam.

Oleh karena itu, perbedaan pada eksistensi tidak akan pernah bertentangan dengan keadilan Ilahi, karena kezaliman, kesemena-menaan, dan diskriminasi tidak akan muncul dari Tuhan, pada akhirnnya perbedaan pada eksistensi tidak bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa perbuatan buruk terlahir dari Tuhan.

Kematian dan Ketiadaan

Salah satu keraguan yang dipermasalahkan dalam keadilan Tuhan adalah masalah kematian dan ketiadaan. Barangkali ada yang menyangka bahwa peristiwa yang terjadi pada masa lalu yang menimpa manusia akan berlalu begitu saja dan hancur lebur serta tidak ada lagi tindak lanjutnnya, dengan demikian tidak sesuai dengan keadilan Tuhan.

Untuk menjawab keraguan di atas kami katakan bahwa:

Pertama, kematian dan ketiadaan adalah satu hukum alam dan sunnatulah yang tidak bisa dipungkiri dan dipisahkan dari alam serta merupakan kemestian dari kehidupan di alam natural. Oleh karena itu, segala eksistensi yang berada pada alam materi tidak berpotensi untuk kehidupan yang abadi.

Kedua, keraguan ini muncul berdasarkan pendefinisian kematian sebagai ketiadaan mutlak, sementara tidaklah demikian halnya. Kematian hanyalah perpindahan dari satu alam ke alam yang lain, jika kita memaknai kematian sebagai perpindahan maka kematian dan ketiadaan bukanlah sebuah ketidakadilan.

Balasan Ukhrawi dan Hubungannya dengan Dosa Anak Adam

Ada dua kritik yang telah diberikan solusi yang berhubungan dengan keadilan takwini Tuhan, sementara keraguan balasan ukhrawi berhubungan dengan keadilan hukum (tasyri’i) Tuhan.

Dasar permikiran kritikan ini adalah hukum akal mengatakan bahwa keserasian dan keselarasan perbuatan dosa dengan balasan haruslah setimpal. Sebagai contoh, orang yang melanggar aturan lalu lintas hukumannya seharusnya tidak sama dengan hukuman bagi seorang pembunuh, di sisi lain, dalam syariat dijelaskan bahwa hukuman ukhrawi sangat berat bagi setiap perbuatan dosa manusia. Sebagai contoh, al-Quran menjelaskan bahwa hukuman bagi orang yang membunuh dengan sengaja tanpa hak maka balasannya adalah masuk neraka jahannam selama-lamanya, oleh karena itu, hukuman ukhrawi Tuhan dari segi kualitas, kuantitas, dan waktu tidak setimpal dengan perbuatan dosa yang dilakukan hamba di dunia dan balasan ini tidak sesuai dengan keadilan Tuhan.

Untuk menjawab kritikan ini kita harus meninjau kembali esensi hukuman ukhrawi Tuhan. Pada hakikatnya, hukuman ukhrawi dari berbagai segi memiliki perbedaan dengan hukum konvensional yang ada di dunia dimana berdasarkan kesepakatan, kontrak, dan persetujuan. Kualitas dan kuantitas hukum konvensional yang merupakan buatan manusia yang ada di dunia sangat bergantung pada kesepakatan, persetujuan, dan kontrak. Oleh karena itu, hukum pidana memiliki bentuk dan sistem yang berbeda-beda, terkadang pelanggaran yang sama diberikan hukuman yang berbeda. Demikian pula, tujuan hukuman bagi hukum konvensioanl di samping sebagai rasa prihatin terhadap orang yang teraniaya juga untuk menjaga supaya kejahatan yang sama tidak terulang lagi di masyarakat, sementara hukuman ukhrawi bukanlah hukum konvensional yang berdasarkan pada kesepakatan, persetujuan, dan kontrak, akan tetapi pengaruh alami dan takwini dari balasan ukhrawi atas perbuatan pelaku kejahatan di dunia sebagaimana halnya seseorang yang meminum atau memakan racun di dunia yang niscaya memiliki pengaruh alami dan takwini yang tidak bisa dihindari, bukan berarti bahwa orang yang meminum racun dihadirkan di pengadilan kemudian diputuskan baginya suatu hukuman tertentu.

Sejumlah ayat al-Quran menjadi saksi dalam hal ini bahwa hukuman ukhrawi memiliki relasi takwini dan eksistensial yang sangat kuat dengan perbuatan dosa, bahkan dosa dan perbuatan buruk manusia kemudian mewujud dalam bentuk yang nyata dan menjadi bagian dari hakikat wujudnya. sebagaimana disebutkan dalam surah al-kahfi ayat 49, “mereka mendapatkan apa yang telah diperbuat (di dunia) hadir dihadapan mereka sementara Tuhanmu tidak akan mengzalimi seorangpun.”

Sesuai dengan ayat di atas hakikat perbuatan manusia di akhirat akan jelas dan nampak dan manusia menjadi hakikat amalnya sendiri. Di tempat lain disebutkan dalam surah ali imran ayat 30, “pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan hadi dihadapan mereka dan begitu juga kejahatan yagn telah dikerjakannya ia ingin kalau sekiranya ia dengan perbuatan jelek dan buruk diantarai dengan masa yang sangat jauh.”

Oleh karena itu, hubungan antara hukuman ukhrawi dengan perbuatan manusia tidak seperti hubungan hukuman dari hukum konvensional manusia dengan pelaku pelanggaran dan kejahatan sosial, dengan demikian, tidak bisa dikatakan bahwa terdapat ketidaksetimpalan dalam hukuman atas perbuatan manusia di dunia ini dan lantas dianggap Tuhan tidak adil. Akan tetapi, hakikat dosa di hari pengadilan kelak akan jelas dan nampak pada wajah-wajah setiap manusia. Demikian pula, perbuatan lahiriah manusia yang dilakukan hanya dalam waktu yang sesaat dan tidak lama – seperti meminum racun – memiliki pengaruh dan akibat yang sangat berat dan dalam waktu yang sangat lama (seperti menderita penyakit kronis). Perbuatan dosa manusia juga memiliki pengaruh takwini dan eksistensial yang tak bisa dihindari yang akan muncul di akhirat kelak. Bahkan (dengan ungkapan yang lebih mendalam) perbuatan dosa dan perbuatan jahat itu sendiri akan muncul dan hadir sebagai hakikat dirinya dimana pada alam akhirat sebagai tempat tersingkapnya seluruh hakikat dan hijab. Oleh karena itu, keabadian hukuman bagi pembunuh orang beriman di dalam neraka bukanlah hukuman dari hukum konvensional, tetapi hasil dari pengaruh eksistensial perbuatan membunuh itu sendiri (dengan munculnya hakikat amal itu).

Keadilan Ilahi dikaitkan dengan Penderitaan Manusia

Salah satu kritikan terhadap keadilan Tuhan adalah keberadaan penderitaan yang muncul dari musibah, bala, penyakit dan sebagainya untuk anak manusia. Dan hal ini tidak sesuai dengan keadilan Tuhan.

Jawaban dari kritikan di atas bisa menggunakan jawaban terhadap kritikan sebelumnya. Kita bisa katakan bahwa kesusahan dan penderitaan dalam kehidupan dunia yang menimpa kehidupan manusia hanya ada dua kemungkinan:

1. Sebagian penderitaan dan musibah yang menimpa manusia adalah akibat dan hasil dari perbuatannya sendiri atau merupakan hasil dari perbuatan dosa dan kesalahan yang dia lakukan. Dengan memperhatikan penciptaan manusia yang dicipta sebagai maujud yang berikhtiar, dan sebagian manusia menggunakan ikhtiarnya untuk jalan yang tidak benar kemudian melakukan kesalahan dan kekhilafan yang pada akhirnya harus menelan pil penderitaan yang pahit dan getir. Sudah pasti bahwa kesusahan dan penderitaan yang bersumber dari perbuatan manusia itu sendiri adalah tidak bertentangan dengan keadilan Ilahi. Al-Quran mengisyaratkan dalam sejumlah ayat bahwa kebanyakan penderitaan yang ditanggung anak cucu adam merupakan karena hasil dari perbuatan mereka sendiri;

2. Sebagaian penderitaan manusia tidak ada hubungan dengan perbuatannya sendiri dan bukan ganjaran atas perbuatan dosa yang dia lakukan seperti kesusahan dan penderitaan anak kecil yang tak pernah sekalipun melakukan dosa dan kesalahan. Dalam masalah ini, para teolog Syiah Imamiyah meyakini bahwa berdasarkan keadilan Ilahi akan diberikan kepada mereka balasan yang setimpal atas penderitaannya. Yakni Tuhan Yang Maha Tinggi akan memberikan balasan nikmat yang lebih besar, dan lebih baik dari penderitaan yang mereka alami di dunia ini, dengan jalan inilah Tuhan membalas penderitaan yang mereka alami.

Oleh karena itu, sudah jelas bahwa segala penderitaan manusia di dunia tak pernah bertentangan dengan keadilan Ilahi.

Kesimpulan

1. Masalah keadilan Ilahi adalah salah satu asas paling penting dalam akidah Islam, karena urgensinya masalah tersebut sehingga termasuk dari salah satu rukun iman atau salah satu dari rukun keimanan mazhabi, disamping itu memiliki peran yang sangat vital dalam masalah ideologi dan teologi serta memiliki banyak pengaruh dalam pendidikan individu dan masyarakat;

2. Teolog Imamiyah dan Muktazilah dikenal sebagai kelompok ‘Adliyah yang meyakini keadilan Ilahi dan kelompok Asy’ariyah (yang memiliki defenisi tersendiri tentang keadilan Ilahi) mengingkari keadilan Ilahi (yang dipahami secara umum);

3. Salah satu dasar yang paling penting dalam masalah akidah yang terkait dengan keadilah Ilahi adalah penerimaan konsep kebaikan dan keburukan dalam penilaian akal, karena berdasarkan konsep ini, keadilan adalah perbuatan baik dan zalim adalah perbuatan buruk, dan Tuhan suci dari melakukan perbuatan buruk, sementara para penentang konsep tersebut tidak bisa membangun argumentasi yang kokoh atas penolakan mereka terhadap pandangan keadilan Ilahi;

4. Al-Adl (keadilan) memiliki banyak arti seperti “menjaga persamaan”, “menghindari diskriminasi”, atau “menjaga hak orang lain”. Akan tetapi, makna yang bisa mencakup dan menampung seluruh makna di atas adalah “meletakkan sesuatu atau seseorang sesuai dengan posisi, kapasitas, kualitas, dan kondisinya”. Dasar pemikiran defenisi ini adalah bahwa dalam alam takwini (penciptaan) dan tasyri’i (hukum agama) segala sesuatu memiliki posisi, kapasitas, kualitas, dan kondisi yang layak dan baik bagi dirinya sendiri, dan keadilan adalah menjaga kesesuaian, kelayakan, dan keselarasan tersebut;

5. Keadilan Ilahi ada tiga macam: keadilan takwini, keadilan tasyri’i, dan keadilan hukuman dan balasan. Keadilan takwini adalah Tuhan memberikan anugerah dan rahmat-Nya (dalam bentuk wujud) kepada ssetiap makhluk sesuai dengan kapasitas dan potensi pada makhluk tersebut, dan setiap eksistensi akan mencapai kesempurnaan sesuai dengan potensi dan kapasitas yang dia miliki;

6. Yang dimaksud dengan keadilan tasyri’i adalah Tuhan meletakkan dan menciptakan undang-undang untuk menjadi jalur dan jalan menuju kebahagiaan dan kesempurnaan manusia itu sendiri. Dia tidak akan lalai dalam mengawasinya dan tidak akan pernah membebani sebuah perbuatan atau kewajiban diluar kemampuan manusia tersebut;

7. Keadilan dalam hukuman dan balasan adalah Tuhan akan memberi ganjaran dan balasan kepada hamba-Nya sesuai dengan amal dan perbuatannya, dan orang saleh yang melakukan perbuatan baik akan diganjar pahala nikmat dan orang yang melakukan perbuatan buruk akan dibalas dengan siksaan sesuai dengan kadar perbuatan mereka;

8. Teolog muslim mengemukakan sejumlah argumentasi baik langsung maupun tidak langsung dimana semua bersandar pada konsep kebaikan dan keburukan dalam penilaian akal untuk menetapkan bahwa Tuhan itu Adil;

9. Al-Quran dalam sejumlah ayat menjelaskan tentang keadilan Ilahi, demikian pula dari sejumlah hadis dari Ahlulbait As menegaskan tentang keadilah Ilaihi;

10. Sekelompok orang meyakini bahwa adanya perbedaan di antara makhluk Tuhan tidak selaras dengan keadilan Tuhan. Kita menjawabnya bahwa anggapan ini bisa dianggap benar jika kemestian perbedaan takwini yang ada di alam bisa dipisahkan dari hukum alam dan sunnatullah, dengan demikian akan tercipta alam yang tidak ada perbedaan di dalamnya sama sekali;

11. Kematian bagi manusia tidak berarti ketiadaan dan kehancuran mutlak, akan tetapi perpindahan dari satu alam ke alam yang lain, oleh karena itu, tidak semestinya kita meyakini bahwa kematian bertentangan dengan keadilan Ilahi;

12. Balasan ukhrawi merupakan hasil takwini dan konsekuensi eksistensial dari amal dan perbuatan dosa, bahkan merupakan proses perwujudan dan penjasadan dosa itu sendiri, dan bukan balasan dan hukuman berdasarkan aturan dan hukum konvensional manusia yang dilandasi atas dasar persetujuan, kontrak, dan kesepakatan. Dengan demikian, menuduh Sang Pembuat Aturan (baca: Tuhan) berbuat kezaliman dan tidak menegakkan keadilan karena tidak menjaga keselarasan dan kesesuaian antara perbuatan dosa dengan balasan yang tidak setimpal adalah keliru;

13. Menurut konsep keadilan Ilahi segala penderitaan yang dialami oleh manusia yang tidak berdosa di dunia akan dibalas dengan kenikmatan yang lebih besar dari derita yang mereka alami.

Tamat.

Sumber: wisdoms4all

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s