Keadilan Ilahi: Antara Aql dan Naql [Bag. Kedua]

timbangan

Pembagian Umum Keadilan Tuhan

Dengan memperhatikan cakupan dan strata keadilan Tuhan, kita bisa membagi secara umum keadilan Tuhan:

1. Keadilan takwini (berkaitan dengan penciptaan). Tuhan memberikan nikmat kepada seluruh eksistensi sesuai dengan kapasitas, potensi, dan kapabilitasnya serta tak satupun potensi (isti’dad) terlarang menerima rahmat dan nikmat Tuhan tersebut. Dengan kata lain, Tuhan Yang Maha Tinggi memberikan nikmatnya kepada seluruh makhluk berdasarkan potensi, kapasitas dan kapabiltas makhluk tersebut, dan seluruh makhluk mencapai kesempurnaan sesuai dengan standar potensi, kapasitas dan kapabiltas mereka sendiri.

2. Keadilan tasyri’i (berkaitan dengan petunjuk dan hukum agama). Tuhan pada satu sisi tidak mengabaikan, tidak lalai, dan semena-mena dalam menetapkan kewajiban dan membuat hukum yang menjadi jalur untuk pencapaian kesempurnaan manusia dan kebahagian abadi manusia itu sendiri, dan di sisi lain tak satupun manusia diberikan beban dan tanggung jawab melebihi kemampuan mereka dalam melaksanakan kewajiban agama [4], oleh karena itu, syariat Tuhan merupakan perpaduan dari kedua makna tersebut.

3. Keadilan dalam hukum

Tuhan dalam memberikan pahala dan siksa kepada hambanya sesuai dengan amal perbuatan hambanya. Berdasarkan hal tersebut, Tuhan akan memberikan pahala kepada orang yang melakukan perbuatan baik karena perbuatan baiknya, dan Tuhan akan menyiksa orang yang melakukan perbuatan buruk karena perbuatan buruknya itu.

Demikian pula, berdasarkan keadilan hukum Tuhan bahwa tak satu pun manusia disebabkan tanggung jawab atau kewajiban yang tidak sampai kepada mereka di dunia ini akan menerima hukuman dan siksaan. Sebagian pahala dan siksa ini diberikan di dunia dan sebagian yang lain akan ditangguhkan di akhirat. Sebenarnya dengan memperhatikan bahwa hakikat hukuman akhirat adalah ada hubungan antara hakikat wujud manusia dan perbuatan manusia itu sendiri, dengan demikian keadilan dalam hukum ini pada akhirnya akan kembali kepada keadilan takwini.

Argumentasi Akal tentang Keadilan Tuhan

Sebagaimana telah kami katakan bahwa, argumentasi akal yang paling mendasar dalam pembahasan keadilan Tuhan adalah konsep kebaikan dan keburukan dalam perspektif akal (husn wa qubh aqli), dan telah kami jelaskan bagaimana hubungan keduanya. Oleh karena itu, kesimpulan argumentasi akal tentang keadilan adalah keadilan adalah perbuatan baik dan kezaliman adalah perbuatan buruk, dan Tuhan yang memiliki sifat Hakim suci dan terlepas dari melakukan perbuatan yang menurut akal adalah perbuatan buruk, maka dari itu, Tuhan tidak akan pernah melakukan perbuatan kezaliman dan seluruh perbuatan Tuhan berdasarkan pada keadilan.

Sebenarnya, para teolog pendukung konsep keadilan Tuhan memiliki argumentasi lain dalam menetapapkan keadilan Tuhan, akan tetapi, menurut pandangan kami seluruh argumentasi tersebut apabila tidak berujung kepada argumentasi yang berpijak pada konsep kebaikan dan keburukan rasio maka argumentasi tersebut tidaklah sempurna, sebagai contoh dikatakan bahwa jika kita misalkan Tuhan melakukan perbuatan zalim, maka ada tiga kemungkinan mengapa Tuhan melakukan perbuatan zalim tersebut:

Pertama, perbuatan tersebut bersumber dari kebodohan;

Kedua, bersumber dari kebutuhan; dan

Ketiga, sesuai dengan hikmah dan kebijaksanaan. Kemungkinan pertama dan kedua secara jelas batil karena Tuhan memiliki Ilmu mutlak, oleh karena itu mustahil Dia melakukan perbuatan zalim karena kebodohan-Nya atau karena kebutuhanNya. Kemungkinan ketiga juga batal dengan sendirinya karena hikmah adalah menghindarkan dan menghalangi pelaku dari perbuatan buruk, dengan demikian tidak mungkin Tuhan melakukan perbuatan zalim.

Oleh karena itu, seluruh anggapan mengenai kemungkinan Tuhan melakukan perbuatan zalim adalah batal dengan sendirinya. Walhasil, seluruh perbuatan Tuhan adalah adil.[5]

Keadilan Tuhan dalam Al-Quran

Perlu ditegaskan bahwa dalam al-Quran al-Karim kata “al-adl” dan variannya tidak pernah digunakan dan dinisbahkan kepada Tuhan [6], akan tetapi, keadilan ilahi hanya digunakan semata-mata untuk menjelaskan “penafian kezaliman”, sebagai contoh sejumlah ayat menjelaskan bahwa Tuhan tidak pernah menzalimi hak–hak manusia. Allah Swt berfirman, “sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri.” [7]

Dan dalam sebagian ayat menjelaskan bahwa keadilan Tuhan memiliki lapangan yang lebih luas, “dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang juapun.”[8] Dan, “dan tiadalah Allah berkehendak untuk menzalimi dan menganiaya hamba-hambaNya.” [9]

Yang dimaksud dengan “al-alamin” disini mungkin seluruh makhluk yang berakal seperti manusia jin dan malaikat serta juga ada kemungkinan yang dimaksud adalah seluruh alam jagat raya, keadilan Ilahi batasannya lebih luas daripada hanya mengkhususkan kepada kelompok manusia saja. Dan sebagian ayat menjelaskan keadilan takwini Tuhan, “Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang dianugerahi ilmu menyatakan bahaw tidak ada Tuhan melainkan Dia.” [10] [11]

Sejumlah ayat juga menjelaskan keadilan tasyri’i, “kami tidak membebani setiap jiwa kecuali ia mampu memikulnya.” [12] Dan, “katakanlah bahwa Tuhanku memerintahkanku untuk berbuat adil dan menjalankan keadilan.” [13]

Demikian pula halnya sejumlah ayat juga menegaskan dan menjadi saksi atas keadilan hukum Tuhan, “dan kami memasang timbangan yang tepat (keadilan) pada hari kiamat maka tak seorangpun dirugikan barang sedikitpun.” [14] Dan, “Dialah yang memulai penciptaan kemudian mengembalikannya (menghidupkannya) untuk memberikan pembalasan bagi orang yang beriman dan beramal shaleh dengan penuh adil.” [15] Dan, “Dan kami sekali-kali tidak akan mengazab sebuah kaum sebelum kami mengutus kepada mereka seroang rasul.” [16] Serta, “Sesungguhnya Allah tidak sekali-kali menganiaya mereka akan tetapi merekalah yang menganiaiya diri mereka sendiri.” [17]

Ayat terakhir menjelaskan tentang azab-azab yang menimpa para pemimpin yang zalim dan al-Quran dengan meyebutkan akibat dari perbuatan mereka bahwa balasan dan siksa Tuhan bukanlah berarti Tuhan akan menzalimi mereka. Tetapi itu akibat dari perbuatan mereka sendiri, oleh karena itu, jika terjadi penganiayaan dan kezaliman di antara mereka pada hakikatnya mereka yang menzalimi dirinya sendiri.

Disamping ayat al-Quran banyak sekali hadis yang sampai ke tangan kita yang menjelaskan keadilan Tuhan, seperti hadis yang dinukil dari Rasullah Saw, “Langit dan bumi tercipta berdasarkan keadilan.” [18] Amirul mukminin As ketika menjawab pertanyaan seseorang tentang makna tauhid dan adil bersabda, “Tauhid adalah engkau tidak membayangkannya (menyerupakan dengan makhluk) dan adil adalah tidak menuduh dan menyangka sesuatu yang tidak layak untukNya.” Demikian juga ketika menyifati Allah Swt, beliau bersabda, “Allah tidak akan pernah mengzalimi hambanya dan menegakkan dan melaksanakan keadilan di antara makhluknya dan berlaku adil dalam pelaksanaan hukumnya.” [19]

Keraguan dalam Masalah Keadilan Ilahi

Dalam pembahasan hikmah Ilahi telah kami jelaskan bahwa dalam pandangan sebuah kelompok tertentu tentang keberadaan bala, musibah, derita, duka, kesusahan, dan segala sesuatu yang dalam pandangan manusia buruk dipandang tidak sesuai dengan hikmah Ilahi, kemudian pada pembahasan tersebut juga kami jelaskan dengan menunjukkan beberapa bukti dan dalil tentang hikmah dan kemaslahatan yang ada pada setiap keburukan dalam pandangan manusia, maka dengan sendirinya pandangan tersebut batal dan tertolak. Barangkali selayaknya kami sebutkan beberapa keraguan yang berhubungan dengan masalah keadilan Ilahi kemudian dikritisi dan memberikan solusi alternatif dari permasalahan tersebut. Sebelumnya, satu hal penting yang harus diingatkan bahwa sebahagian dari keraguan ini yang berhubungan dengan hikmah Ilahi yang bermakna tujuan penciptaan ilahi akan kita bahas di sini. [20] Akan tetapi, jika jawabannya berhubungan dengan masalah hikmah dan keadilah Ilahi maka kami akan hanya menjawabnya pada masalah keadilan Ilahi.[21]

Bersambung…

Sumber: wisdoms4all


[4] terkadang permasalahan “keburukan taklif bagi orang yang tidak kuasa” dan “keburukan ganjaran tanpa ada penjelasan sebelumnya” dimana dalam pembahasan kita secara runtut masuk dalam ruang lingkup pembahasan keadilan tasyri’i dan keadilan hukum Tuhan dan merupakan dua masalah yang berdiri sendiri dan masih dalam jagron pembahasan baik buruk rasio.

[5] Fadhil Miqdad, al-nafi’ yaumul al-hasyr fi syarh al-bab al-hady al-asyar, hal. 159 dan 160, dan dalam buku, irsyaad al-thalibin, hal. 261.

[6] Barangkali tidak digunakan kata “adl” sesuai dengan makna yang dibahas dalam al-Quran karena “adl” terkadang bermakna “keluar dari jalan lurus” sebagaimana pada ayat pertama surah al-An’am bermakna syirik secara mutlak, artinya “Orang –orang kafir mempersekutukan sesuatu dengan Tuhan.

[7] Qs. Yunus: 44.

[8] Qs. Al-Kahfi: 49.

[9] Qs. Ali Imran: 108.

[10] Qs. Ali Imran: 18.

[11] Dalam ayat ini, keadilan Ilahi dijelaskan secara mutlak, dengan demikian disamping sebagai bukti atas keadilan takwini Tuhan juga bisa dijadikan bukti untuk keadilan yang lain.

[12] Qs. Al-Mukmin: 62.

[13] Qs. Al-A’raf: 29.

[14] Qs. Al-Anbiya: 47.

[15] Qs. Yunus: 4.

[16] Qs. Al-Isra’: 15.

[17] Qs. At-Taubah: 70 dan Rum: 9.

[18] Faydz Kasyoni, Tafsir Shafy, hal. 628.

[19] Nahjul Balaghah, khutbah 185.

[20] Sebagai contoh bisa dikatakn bahwa mati dan kehancuran makhluk Tuhan setelah penciptaan mereka tidak sesuai dan selaras dengan hikmat ilahi dan tujuan penciptaan manusia itu sendiri.

[21] Untuk bahan bacaan yang lebih lengkap silahkan anda merujuk pembahasan keadilan tuhan yang berbahasa persia yang ditulis oleh Ustadz Syahid Murthadha Muthahhari (buku ini sudah diterjemahkan ke bahasa indonesia dengan judul Keadilan Ilahi penerbit Mizan. Pent)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s