Keadilan Ilahi: Antara Aql dan Naql [Bag. Pertama]

 

juridico1

Pendahuluan

Keadilan ilahi merupakan salah satu dari permasalahan yang sangat urgen dalam akidah dan teologi. Keadilan sebagaimana halnya dengan tauhid  merupakan salah satu pembahasan sifat Allah. Akan tetapi, karena pentingnya menerima dan meyakini sifat tersebut sehingga memiliki tempat khusus dalam pembahassan akidah dan teologi Islam. Karena urgensinya, pembahasan tersebut ia menjadi salah satu dari rukun-rukun iman (ushuluddin) yang lima atau rukun-rukun keimanan mazhab (ushulul mazhab) disamping rukun-rukun yang lain seperti tauhid, kenabian, keimamahan, eskatologi  (ma’ad, hari akhirat), dan tidak disanksikan lagi bahwa posisi yang penting ini disebabkan oleh beberapa faktor. Di sini kami hanya akan menyebutkan dua faktor yang paling penting:

1. Keadilan Ilahi memiliki cakupan yang sangat luas, penerimaan atasnya memiliki peran yang sangat penting terhadap pandangan kita terhadap Tuhan, dan dengan kata lain teologi Islam bergantung pada keadilan ilahi. Keadilan Ilahi memiliki hubungan yang sangat erat dengan sistem penciptaan alam (takwini) dan hukum-hukum agama (tasyri’i), penerimaan atas konsep keadilan ilahi akan merubah seluruh pandangan hidup kita terhadap dunia, selain itu, keadilan ilahi merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam menetapkan persoalan eskatologi, pahala, siksa, dan azab akhirat, dan pada akhirnya keadilan Ilahi bukanlah hanya persoalan teologi semata dan perbedaan sudut pandang teologis. Keimanan terhadap qadha dan qadar Ilahi, memilik sudut pandang pendidikan dalam perilaku manusia, memberikan semangat untuk menegakkan keadilan, dan memberantas kezaliman dalam kehidupan bermasyarakat dan kemanusian.

2. Keadilan Ilahi dalam sejarah pemikiran teologi terutama pada abad pertama sejarah Islam sudah menjadi perbincangan dan perdebatan. Para Imam Suci sejak awal sudah menegaskan tentang keadilan Ilahi, sehingga kalimat tersebut menjadi syiar bagi mazhab Syiah Imamiah. Tauhid dan keadilan adalah pandangan pendukung Imam Ali As dan tasybih (penyerupaan Tuhan dengan makhluk-Nya) dan keterpaksaan (jabr, determinasi) adalah pandangan para pendukung Muawiyyah.

Teolog Imamiah dan teolog Muktazilah mengikuti jejak para Imam Suci tersebut dalam pandangan tentang keadilan Ilahi dan pada akhirnya terkenal sebagai kelompok ‘Adliyyah yang berseberangan dengan kelompok Asy’ariyyah yang menolak pandangan terhadap keadilah Ilahi, Asy’ariyyah mengingkari defenisi keadilan yang dipahami secara umum. Dalam pandangan mereka, Tuhan bisa saja memasukkan seluruh Mukmin ke dalam neraka dan memasukkan seluruh kafir ke dalam syurga, karena segala perbuatan Tuhan itu adalah keadilan itu sendiri.

Bagaimana pun, dalam masalah ini, sebagaimana halnya pembahasan qadha dan qadar, keterpaksaan dan kehendak bebas, para pemimpim zalim ketika mereka merebut khilafah dengan cara yang tidak sah dan lalu menyandarkan khilafahnya kepada Rasulullah Saw, dan untuk menjaga kepentingan mereka yang tidak sesuai dengan syariat mereka kemudian menolak pandangan keadilan Ilahi untuk membenarkan seluruh perbuatan ketidakadilan dan kedzaliman mereka, oleh karena itu, dalam catatan sejarah pembahasan keadilan Ilahi merupakan faktor yang sangat penting dan mempunyai posisi yang lebih strategis dibanding dengan sifat-sifat Tuhan yang lain.

Hubungan Hikmah dan Keadilan

Dalam pembahasan hikmah Ilahi kami katakan bahwa salah satu makna hikmah adalah menghindarkan pelaku dari perbuatan buruk dan jahat. Inilah salah satu makna dari himkah dimana  keadilan juga termasuk di dalamnya, karena keadilan tidak sejalan dengan kezaliman dan perbuatan baik tidak searah dengan perbuatan buruk. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa sifat adil merupakan salah satu ranting dari sifat hikmah Tuhan.

Asas Keadilan Berpijak pada Kebaikan dan Keburukan dalam Penilaian Akal

Salah satu dasar yang paling penting terhadap keyakinan pada keadilan Ilahi (yakni seluruh perbuatan Tuhan adalah adil)  adalah konsep kebaikan dan  keburukan dalam penilaian akal. Perlu kami tegaskan disini bahwa berdasarkan perspektif kebaikan dan keburukan dalam penilaian rasio, akal manusia secara mandiri mampu menentukan sebagian kebaikan dan keburukan, akal bisa menjadi hakim atas perbuatan tersebut. Penilaian akal ini, apabila hakikat  dan zat perbuatan itu sendiri dilepaskan dari syarat-syarat, tempat, dan waktu yang berbeda serta tanpa mengaitkan dengan pelaku perbuatan tertentu, maka perbuatan Tuhan juga termasuk di dalamnya.

Oleh karena itu, keadilan dan kezaliman pada hakikatnya sudah pasti memiliki aspek kebaikan dan keburukan. Akal manusia bisa memahami kebaikan dan keburukan tersebut. Yakni akal manusia secara umum bisa memahamiya. Keadilan dan pelakunya adalah perbuatan baik, dan kezaliman dan kejahatan secara mutlak adalah jelek, ketika Tuhan yang memiliki sifat hakim (bijaksana) suci dari perbuatan buruk, akal pun mampu mencerna bahwa Tuhan tidak akan mungkin melakukan perbuatan zalim dan seluruh perbuatan Tuhan pasti berdasarkan pada keadilan.

Atas dasar adanya hubungan inilah para penentang konsep kebaikan dan keburukan dalam penilaian rasio tidak memiliki dasar pemikiran yang kokoh dan argumentatif untuk menolak sifat adil, dan mereka meyakini bahwa perbuatan yang menurut akal adalah tidak adil, terdapat kemungkinan bahwa Tuhan juga bisa melakukan perbuatan tersebut.

Makna Adil

Pada kesempatan ini akan kami paparkan makna keadilan itu sendiri secara lebih terperinci. Kata “adil” memiliki banyak makna dan digunakan pada posisi yang berbeda-beda [1]. Sebagian dari makna adil yang dianggap penting adalah sebagai berikut:

1. Menjaga persamaan dan menghindari pembedaan.

Terkadang yang dimaksud dengan keadilan adalah seseorang tidak membeda-bedakan dengan yang lain dan melihat bahwa tidak ada perbedaan sama sekali dengan yang lain serta melihat bahwa dia dengan orang lain memiliki derajat yang sama  dan menghindari segala bentuk pembedaan. Akan tetapi, kita semestinya tidak lupa bahwa menjaga persamaan hanya bisa diterima ketika tidak ada perbedaan sama sekali antara kelayakan dan kebutuhan-kebutuhan mendasar. Akan tetapi, jika berhadapan dengan masyarakat yang dari segi kelayakan dan kebutuhan yang berbeda-beda dan tingkat kebutuhan yang bertingkat-tingkat, menetapkan persamaan di antara mereka justru berarti tidak adil. Bahkan bisa bermakna membatasi hak orang yang lebih memiliki kelayakan. Sebagai contoh, jika seorang dosen demi menjaga keadilan dan persamaan memberikan nilai yang sama kepada seluruh mahasiswanya, maka pada dasarnya dia tidak menerapkan keadilan. Oleh karena itu, perlu digarisbawahi bahwa keadilan bukan persamaan.

2. Menjaga hak orang lain.

Adil dalam makna ini adalah menjaga seluruh hak orang lain dan kezaliman adalah membatasi dan menghalangi hak orang lain.

3. Menempatkan dan meletakkan seseorang atau sesuatu sesuai dengan posisi dan tempat yang layak untuknya.

Terkadang makna adil memiliki makna yang lebih luas yaitu meletakkan segala sesuatu sesuai dengan posisinya, defenisi ini bisa kita temukan dalam perkataan Imam Ali As, dia bersabda, “meletakkan segala sesuatu sesuai dengan posisinya.[2]

Makna perkataan agung itu adalah di dalam alam takwini dan tasyri’i segala sesuatu memliki posisi dan kedudukan sesuai dengan kelayakan dirinya, dan keadilan adalah menjaga posisi tersebut dan meletakkan segala sesuatu sesuai dengan kelayakannya. Makna inilah yang paling luas dan paling sempurna dari makna keadilan dan juga mencakup makna keadilan sebelumnya.

Oleh karena itu, sebagaimana telah kami jelaskan bahwa  makna secara umum keadilan Tuhan adalah Tuhan memperlakukan segala sesuatu sebagaimana selayaknya dan memposisikan mereka sesuai dengan kedudukannya serta memberikan kepada yang berhak hak-hak yang seharusnya dia dapatkan.[3]

Sumber: wisdoms4all

Bersambung…


1. Terkadang adil bermakna seimbang dan stabil yang tidak serasi dengan makna yang sedang dibahas.

2. Nahjul al-Balaghah, hikmah 437.

3. Dikatakan bahwa  tak satupun dari makhluk Tuhan memiliki hak terhadap Tuhan sehingga Tuhan harus menepatinya demi menjaga keadilan-Nya. Untuk menjawab secara ringkas pertanyan ini kita bisa katakan bahwa  tak satupun eksistensi pada awal penciptaan dan sesuai dengan kapasitas zatnya tidak memiliki hak kepada Tuhan baik dalam alam takwini maupun dalam alam tasyri’i akan tetapi, Tuhan yang Maha Pemurah atas dasar kemulian dan keutamaanNya dia memberikan hak kepada hambaNya atas diri-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s