Hak Anak

887037_10151486195488007_2089679126_o

Sekaitan dengan hak anak, Imam Ali as-Sajjad as berkata, “Hak anak adalah bahwa dia berhak tahu bahwa dia berasal darimu dan bahwa dalam segala kebaikan dan keburukan di dunia dia dinisbatkan kepadamu. Karena itu, sebagai wali dan pengurusnya, engkau bertanggung jawab mendidiknya dengan benar, mengajarkan kepada perilaku yang baik, mengenalkannya kepada Tuhan yang Esa dan membantunya untuk taat kepada Allah. Jika melaksanakan tugas ini, maka engkau mendapat pahala dan jika melalaikannya maka engkau akan diganjar siksa. Karenanya, dalam urusan dunia usahakan membuat dia seakan engkau menciptakan sebuah karya dan telah engkau perindah, sedangkan untuk urusan akhirat upayakan supaya engkau tidak tertunduk malu di depan Tuhanmu.”

Imam Sajjad as menjelaskan hak-hak anak yang sangat penting. Penjelasan itu mengungkap berbagai sisi emosional dan sosial. Dari sisi emosional, beliau mengingatkan bahwa anak adalah bagian dari wujud ayah dan ibunya. Karena itu secara alamiah, anak memiliki hubungan emosi yang kuat dengan kedua orang tuanya. Emosi itu lantas membentuk jalinan cinta dan kasih sayang. Imam Sajjad as dalam ungkapannya yang indah mengarahkan emosi dan cinta itu ke arah yang benar dengan menjadikannya sebagai sarana memberikan pendidikan yang benar dan mengajarkan kepada budi pekerti, keimanan dan kesalehan. Pendidikan adalah pintu yang membawa manusia ke arah kebahagiaan atau kesengsaraan. Dengan memberikan pendidikan yang baik kepada masing-masing individu, maka akan terwujud masyarakat yang terhiasi keindahan ilmu, iman dan akhlak sementara potensi diri, emosi dan akal akan teraktualisasikan.

Islam sangat menekankan pentingnya kasih sayang terhadap anak. Banyak riwayat yang memerintahkan kita untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada anak secara terbuka. Cium dan perlakukanlah mereka dengan baik. Perlakuan yang demikian kepada anak akan mendatangkan pengaruh positif yang telah dibuktikan secara ilmiah. Para psikolog dan pakar pendidikan meyakini bahwa mendapat cinta dan kasih sayang atau tidak mendapatkannya dari kedua orang tua atau salah satu dari keduanya akan berpengaruh besar pada psikologis anak yang bisa dirasakan di masa kecil dan berlanjut sampai masa tua. Mereka lantas membawakan berbagai temuan diantaranya data yang menunjukkan bahwa kebanyakan tindak kejahatan di berbagai negara dilakukan oleh mereka yang kurang mendapat cinta dan kasih sayang di masa kecil. Untuk kriminalitas yang dilakukan anak-anak ditemukan bahwa mereka yang melakukan tindak kriminal adalah anak-anak yang tidak memiliki orang tua atau salah satu dari keduanya atau singkatnya tidak memperoleh kehangatan kasih sayang ayah dan ibu.

Nabi Saw dan para Imam Maksum as mendasarkan ajaran mereka pada cinta dan kasih sayang. Dalam pandangan mereka, cinta tak ubahnya bagai air kehidupan yang mengurai berbagai masalah dan kesulitan psikologi dan kejiwaan. Nabi Saw bersabda, “Hormatilah yang lebih besar dan sayangilah yang lebih kecil dari kalian.”

Dengan mengusik sisi emosional hubungan anak dan ayah, Imam Sajjad as dalam Risalatul Huquq mengingkatkan tugas dan kewajiban ayah untuk mengurus dan mendidik anak. Beliau menekankan bahwa anak adalah bagian dari wujud ayahnya. Tak dipungkiri bahwa ada sebagian orang yang kurang memiliki hubungan emosional dengan anaknya. Tapi tak ada yang ragu bahwa semua orang pasti menyukai dirinya dan mustahil akan bersikap acuh tak acuh terhadap kehormatan sosial dan harga dirinya. Dia pasti akan melawan apa dan siapa saja yang merendahkan kehormatannya. Ayah dan ibu tidak mungkin bisa memungkiri hubungan mereka dengan anak atau menutup mata dari nasibnya. Sudah seharusnya, demi harga diri dan kehormatan, mereka mendidik anak mereka dan menghadiahkannya kepada masyarakat sebagai insan-insan yang baik, berbudi dan cakap. Untuk orang tua yang demikian, Rasulullah Saw mendoakannya dalam sebuah hadis. Beliau bersabda, “Semoga Allah merahmati ayah yang mendidik anaknya dengan baik dan membimbingnya di jalan kebaikan.”

Poin lain yang disinggung oleh Imam Sajjad as dalam Risalatul Huquq adalah sisi tanggung yang diemban oleh orang tua terhadap anaknya. Dalam pandangan Imam Sajjad as, anak adalah hadiah pemberian dari Allah Swt dan orang tua harus mempertanggungjawabkan pemberian ini di hadapan Allah kelak. Beliau menjelaskan, “Jika ingin lepas dari beban berat di Hari Kiamat nanti, ayah dan ibu harus melaksanakan tugasnya dalam mendidik anak mereka dengan pendidikan yang baik dan benar.”

Diantara tugas dan kewajiban orang tua adalah mengajarkan budi pekerti yang luhur dan mengenalkan ketuhanan kepada anaknya. Dengan begitu berarti ia telah mempersiapkan anaknya untuk melangkah ke arah kejayaan dan kebahagiaan. Melaksanakan tugas dan kewajiban akan mendatangkan inayah dan kemurahan Allah Swt.

Singkatnya, Imam Sajjad as menggariskan tugas orang tua atas mereka dengan singkat namun padat. Orang tua memiliki kekuasaan atas anak dan kekuasaan itu harus dimanfaatkan untuk mendidik dan membimbing sang anak. Anak harus dididik dengan pendidikan yang baik, diarahkan untuk mengenal Allah dan menjadi hamba Allah yang taat.

Sumber: Risalah Huquq Imam Ali As-Sajjad as

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s