Jadikan Cinta Fondasi Berinteraksi dengan Anak

Seyogyanya keluarga adalah tempat yang menarik dan menyenangkan, sehingga anggotanya dapat menghabiskan saat-saat terindah dalam hidup mereka dengan nuansa hangat dan akrab. Keluarga sebagai lingkungan asri sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan fisik, emosional, dan mental sosial anak. Imam Muhammad Ghazali dalam kitabnya “Kimiya Sa’adat” mengatakan, “Ketahuilah bahwa anak adalah amanah bagi orang tua, dan hati suci mereka laksana mutiara berharga, laksana kanvas yang dapat melukis di atasnya, laksana tanah yang suci dan tumbuh setiap benih yang ditabur di atasnya. Jika yang ditaburkan adalah benih unggul, maka mereka akan sampai pada kebahagiaan dunia-akhirat, di sini orang tua dan guru juga ikut menerima ganjaran. Jika sebaliknya, mereka akan sengsara, dan segala hal yang menimpa mereka, orang tua dan guru juga ikut serta di dalamnya.”

Keluarga berperan penting dalam perkembangan moral anak. Terwujudnya ketenangan dan ketenteraman dalam keluarga, interaksi yang baik antara orang tua dan anak akan menumbuhkan jiwa sosial bagi anak. Hal ini juga akan mengajarkan mereka dalam menjalin hubungan baik dengan khalayak. Bentuk interaksi yang terbina antara orang tua dan anak merupakan pondasi dan modal bagi anak dalam membangun interaksi dengan lingkungannya. Umumnya, baik dan buruknya perilaku seseorang dalam berbagai aspek kehidupan berawal dari dalam keluarga. Jika masih ingat, pada kajian sebelumnya, kami telah menyinggung salah satu landasan psikologis berinteraksi dengan anak, yaitu cinta dan kasih sayang.

Para psikolog mengatakan, salah satu kebutuhan dasar manusia terlepas dari kebutuhan primernya, adalah kebutuhan akan cinta dan kasih sayang. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka akan berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan lain. Seorang anak sangat membutuhkan cinta dan kasih sayang, dan pemenuhan rasional kebutuhan ini merupakan prinsip dan landasan pendidikan terarah. Memperlakukan anak dengan cinta dan kasih sayang berdampak terhadap tumbuhnya ketenangan mental, kenyamanan, dan rasa percaya terhadap diri sendiri dan orang tua. Sebaliknya, ketiadaan cinta dan kasih sayang berdampak hilangnya ketenangan mental, rasa percaya diri, dan berbagai penyimpangan sosial lainnya.

Poin penting lainnya mengenai cinta dan kasih sayang terhadap anak adalah tidak sebatas cinta dan kasih sayang yang dipendam dalam hati. Sebab, cinta dan kasih sayang akan terasa ketika diwujudkan, usahakan agar anak dapat merasakan cinta dan kasih sayang kita terhadap mereka. Imam Ali as dalam suratnya kepada Imam Hasan as menuliskan, “Aku mendapatkan engkau sebagian bahkan keseluruhan dari diriku, hingga jika sesuatu menimpamu, seakan-akan hal itu menimpaku juga. Dan jika kematian mendatangimu, seakan ia juga datang kepadaku. Untuk itu, aku menulis surat ini sebagai wujud cinta dan kasih sayangku kepadamu.”

Ungkapan kasih sayang merupakan landasan penting dalam menjalin interaksi antara orang tua dan anak. Kondisi emosional kita setiap saat berpengaruh terhadap pemahaman, keputusan, dan bentuk penilaian kita. Ungkapan kasih sayang dan rasa senang orang tua terhadap anak akan menumbuhkan atau menambah keakraban dan hubungan mesra di antara mereka. Pada akhirnya hal ini akan mempererat hubungan orang tua dan anak. Sebagian para psikolog berkeyakinan bahwa perhatian emosional dan mutlak terhadap anak merupakan landasan dalam membangun interaksi dengan mereka.

Menurut mereka, manusia sejak kecil membutuhkan perhatian emosional yang bersifat mutlak. Biasanya seiring berlalunya waktu, perhatian emosional orang tua sangat bergantung pada hal-hal tertentu. Jika demikian, maka seorang anak akan berasumsi bahwa mereka sedang jauh dari perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Para psikolog dan antropolog ketika mempelajari faktor-faktor penyimpangan anak, menyebut beberapa hal, antara lain; kurangnya hubungan mesra dan motivasi orang tua kepada anak. Ketiadaan hal ini termasuk bagian dari emosional negatif.

Ajaran Islam sangat menekankan pentingnya mengungkapkan cinta, dan kasih sayang, dan rasa senang. Bentuk-bentuk ungkapan itu antara lain; bercengkrama mesra dan hangat, menatap mereka dengan cinta, dan memakai bahasa tubuh seperti; mencium dan membelai mereka. Imam Shadiq as dalam sebuah riwayat berkata, “Barang siapa yang mencium anaknya, maka Allah Swt akan memberi pahala baginya. Dan barang siapa yang menyenangkan anaknya, maka Allah Swt akan menyenangkannya kelak di Hari Kiamat.”

Berinteraksi dan bertukar pikiran dengan orang merupakan bentuk lain hubungan non verbal. Terkadang orang tua atau anak memberi pemahaman kepada orang lain melalui bahasa isyarat, seperti lewat tatapan dan gerakan tubuh. Kadang bahasa isyarat lebih berpengaruh ketimbang bahasa lisan. Mehamami interaksi non verbal sangat penting terlebih saat terlibat aktif dengan anak. Sebab, anak belum mampu memahami seutuhnya retorika dan bahasa lisan. Tidak diragukan lagi, orang tua harus pandai dan lihai memakai bahasa isyarat dalam membangun hubungan baik dan mesra dengan anak.

Landasan penting lainnya dalam berinteraksi dengan anak adalah memberi kesempatan kepada mereka untuk mengutarakan pendapat dan keinginannya. Ini artinya, kita sebagai orang tua memberi hak untuk berbuat salah kepada mereka. Orang tua harus menjadi pendengar yang baik bagi anaknya, sehingga bisa memberi bantuan dan arahan kepada mereka. Seorang anak sangat ingin merasakan cinta, kasih sayang, dan penghargaan dari orang tuanya, meskipun terkadang perilaku mereka tidak menyenangkan ibu/bapaknya.

Seorang remaja berusia 17 tahun dalam sebuah konsultasi mengungkapkan perasaan hati terhadap perilaku ayahnya. Remaja itu berkata, “Sebenarnya hal yang memberanikan saya untuk berkomunikasi dengan ayah adalah rasa tidak marahnya, meskipun saya berbeda pendapat dengannya. Hal penting bagi saya adalah ia mendengar dan menyimak semua keluhan saya.”

Seorang pakar masalah keluarga, Ali Yasin memberi pesan kepada para orang tua, “Sebelum putra-putri Anda punya kesiapan untuk mendengarkan ucapan kalian, usahakan agar mereka merasa ucapannya didengar oleh kalian. Dan sebelum mereka mengutarakan pendapat, perasaan, dan keluhannya, putra-putri Anda sudah berkesimpulan bahwa Anda mengerti mereka. Keluh kesah mereka harus Anda jadikan sebagai peluang untuk menghangatkan hubungan.”

Tentu saja, usaha orang tua dan para pendidik dalam memenuhi kebutuhan spiritual dan material anaknya berpengaruh positif bagi kepribadian mereka. Seorang anak punya hak untuk mendapatkan paket program lengkap dalam bidang pendidikan.

Dr. Gholam Ali Afruz seorang psikolog Iran mengatakan, “Dalam lingkungan keluarga, seorang anak punya hak untuk mendapatkan kasih sayang dan berbagai macam bentuk keceriaan. Rasul Saw bersabda, “Seorang anak pada tujuh tahun pertama punya kesiapan untuk menerima kasih sayang, dan pada tujuh tahun kedua mereka punya kesiapan untuk menerima pendidikan, dan pada tujuh tahun ketiga mereka punya kesiapan untuk dilibatkan dalam musyawarah.

Seorang anak mulai punya kesiapan untuk menerima kasih sayang saat basis kepribadian mereka mulai dibangun, anak-anak sangat ingin melewati masa ini dengan penuh keceriaan. Seorang anak juga memiliki hak untuk dihargai dan dihormati kepribadiannya, mereka sangat ingin dihormati dan menjadi pusat perhatian khalayak. Oleh sebab itu, menghormati kepribadian anak merupakan salah satu tugas penting kedua orang tua.”

Sumber: Agama dan Keluarga Sehat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s